Narkotika, negara dan kewargaan

image

Cartel Land (Matthew Heinemann, 2015)

Dari daftar pendek film dokumenter yang diunggulkan mendapat Piala Oscar, saya merasa film ini akan menang karena beberapa alasan.

Pertama, film ini menceritakan sesuatu yang dekat secara geografis dan emosional dengan publik Amerika secara umum dan anggota Academy secara khusus. Kisah film terjadi di Meksiko, tentang perdagangan narkotika. Tentu film ini relatif mudah memperoleh perhatian ketimbang para pesaingnya. Promosi yang mengasosiasikan film dokumenter ini dengan Breaking Bad dan Sicario adalah bagian dari keakraban itu.

Kedua, film ini punya posisi moral yang jelas, sekalipun ada kompleksitas dan lapis-lapis persoalan yang cukup rumit. Kisah dua kelompok vigilante di dua negara terpisah punya cukup landasan moral untuk dijatuhi simpati mengingat kisah superhero juga punya semangat pengambilalihan hak monopoli kekerasan negara berdasarkan self-righteousness. Beda kisah para vigilante di sini dengan film superhero adalah penggambaran ‘negara gagal’ dalam Cartel Land. Di film superhero, para supervillain itu memang berada di atas kualitas manusia, sehingga penyelesaian masalah harus berlandas kekuatan ukhrawi sejenis, dengan syarat para superhero ini mau patuh pada negara dan tidak menggunakan kekuatannya bertentangan dengan opini publik (ingat film Hancock?).

Pada Cartel Land, kegagalan negara digambarkan berbeda, antara Amerika dengan Meksiko. Amerika mengenal ‘wild west’ yang merupakan sebuah wilayah terisolir dari perkembangan demokrasi, sebuah wilayah transisional sebelum memasuki sebuah tatanan dengan sistem hukum dan wilayah geografis dengan rule of law. Namun Meksiko di Cartel Land digambarkan sama sekali tak punya peluang menjalani situasi transisional itu. Kelahiran superhero lokal yang berusaha memberantas supervillain harus berhadapan dengan negara dan kelemahan metode mereka sendiri yang longgar. Negara sama sekali tak bisa jadi panduan moral, bahkan posisinya menjadi bagian dari supervillain. Maka jika kewargaan Amerika pada film superhero ditentukan oleh kompas moral yang disediakan oleh negara, maka pada Cartel Land, apa makna kewargaan ketika negara melakukan kooptasi jahat dan mendomestikasi gerakan sosial yang genuine? Maka dengan posisi moral seperti ini, Cartel Land serupa dengan Sicario yang menempatkan Meksiko sebagai ‘the brown others’.

Ketiga, film dokumenter ini dibuat dengan gaya fiksi yang akrab dengan tradisi audio visual Hollywood. Cerita dibangun secara kronologis, mengikuti perkembangan karakter dan peristiwa. Misce-en-scene dibuat berdasar kesatuan ruang dan waktu, dan hampir semua sudut pandang kamera mengikuti kedua tokoh utama. Shot juga dibuat seakan berdasar motivasi karakter.

Tradisi ini relatif diakrabi penonton yang terbiasa dengan formula Hollywood dan terasa ‘lebih menghibur’, persistent seperti kata sutradara Matthew Heinemann bahwa film dokumenter “tidak harus membosankan” sekalipun itu artinya ia harus melakukan retake dan meminta para “aktor” – nya mengulang adegan ketika mereka ‘memasak’ amphetamine di dekat perbatasan.

Terlepas dari apakah film ini akan mendapat Piala Oscar atau tidak, bagi saya Cartel Land adalah salah satu film dokumenter paling mengasyikkan dan menegangkan untuk ditonton. Keberhasilan Heinemann memfilmkan ‘zona perang’ dalam keadaan konflik sedang terjadi, patut mendapat penghargaan tersendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s