Yang Tak Mau Berkompromi

“In this world where everything is for sale, I respect that!”-Tom DiCillo

Tom DiCillo mengacu pada kata-kata ayah Jim Morrison, David Morrison, tentang anaknya. Kata David, Jim adalah seorang jenius dan berkreasi tanpa kompromi. Tom DiCillo menggunakan kutipan ini untuk menjawab pertanyaan penonton sesudah screening film dokumenternya tentang Jim Morrison dan The Doors, When You’re Strange dalam sesi tanya jawab sesudah international premiere film ini di Berlinale 2009. Pertanyaan dari penonton itu adalah: apa pengalaman pribadimu yang bisa kau bagikan dengan kami sesudah menyelesaikan film ini, supaya film ini terasa lebih personal.

Tom bercerita bahwa ia seorang pembuat film independen. Dan sebagai seorang pembuat film independen – di Amerika, Tom “dibesarkan” oleh festival film Sundance – sulit sekali bisa mendapat pendana tanpa adanya campur tangan. Selalu saja produser minta bagian ini itu dari film dicabut atau kata ini dan itu diubah. Maka bagi Tom, tidak berkompromi begitu saja dengan kemauan pendana adalah bukti independensinya. Sama ketika Jim Morisson tidak berkompromi ketika berkreasi, seperti sang ayah bercerita. Maka, dalam dunia dimana segala sesuatu bisa diperdagangkan, saya menghargai sekali sikap tidak bersedia untuk berkompromi itu, tukas Tom menutup pemutaran perdana film itu di Eropa, di Berlinale edisi ke-59 di tahun 2009 ini.

The Doors dipenuhi mitologi dan Tom DiCillo berniat menambah mitologi itu. Mungkin sebenarnya bukan mitologi, melainkan salah persepsi. Orang selalu mengidentikkan The Doors dengan Morrison dan Tom DiCillo seperti meluruskannya. Ia mengungkapkan fakta-fakta yang bagi para penggemar berat The Doors adalah fakta dasar semisal Light My Fire diciptakan oleh Robby Krieger, gitaris mereka, dan bukan oleh Jim Morrison. Juga bahwa ketiga anggota kelompok itu bermusik dengan cara yang tidak biasa dan menciptakan sound yang paling unik di jamannya – mungkin dalam sejarah rock ‘n’ roll – dan kesuksesan mereka tak tergantung pada persona Jim Morrison semata.

Namun DiCillo – sebagaimana halnya para penggemar The Doors – tak akan bisa menghindar dari sihir anak muda yang usianya hanya mencapai 27 tahun itu. Morrison adalah sang raja kadal yang lirik lagu dan perilakunya bagai seorang dukun yang sedang memimpin banyak orang memasuki lorong gelap yang mereka takuti. Hanya Morrison dan pesonanya yang bisa melakukan hal itu, dan ketiga The Doors lainnya, Ray Manzarek, John Densmore dan Robby Krieger, adalah penyedia panggung yang memberi jalan bagi Morrison. Karena mereka juga tahu, seperti halnya DiCillo dan penggemar The Doors lain, tanpa Morrison, The Doors tak akan pernah jadi The Doors.

Maka film ini tak berhasil mengubah banyak mitos yang melingkupi The Doors dan Morrison seperti yang diinginkan oleh DiCillo. Film ini hanya berhasil menjadi sebuah pengantar kronologis tentang The Doors ketimbang sebuah pertemuan personal yang istimewa. Padahal sebenarnya DiCillo mendapat keuntungan yaitu berupa akses terhadap footage film pendek yang pernah dibuat oleh Morrison. Film pendek berjudul Highway itu menggambarkan seorang pengelana (diperankan Jim Morrison) yang berkendara di Amerika. Film pendek ini mirip belaka dengan adegan pembuka dalam film fiksi tentang The Doors karya Oliver Stone.

DiCillo memanfaatkan film ini menjadi bagian dari filmnya sendiri, merombaknya dari bentuk aslinya, dan memberi suara bagi footage tanpa suara itu. Dalam film itu digambarkan Jim Morrison yang berperan sebagai sang pengelana menyetel radio dan mendengar berita tentang kematian vokalis The Doors, Jim Morrison. Sebuah permainan menarik tentang makna kenyataan yang sayangnya tak dibawa kemana-mana oleh DiCillo.

DiCillo menggunakan narasi voice over untuk menyusun kronologi ceritanya. Ia sendiri yang mengisi suara menjadi narator. Pendekatan narasi voice over ini sebenarnya sudah agak jarang digunakan dalam film dokumenter belakangan ini. Kecenderungan untuk menghadirkan “suara tuhan” dalam film dokumenter dianggap merupakan bagian dari kecenderungan film dokumenter informatif yang dingin, tidak personal dan less-humanistic bahkan dalam kasus tertentu berbau propaganda, patronizing dan parternalistik (karena kebanyakan pengisi suara itu adalah laki-laki yang berwibawa dan otoritatif).

Namun DiCillo beruntung akan kehangatan suaranya sendiri yang menjadi narator. Ketimbang otoritatif, suara DiCillo terasa personal. Bagi saya suara DiCillo terasa bersahabat, terkadang terasa ragu, dan hangat, sekalipun bagi beberapa orang terasa mengganggu. Maka hasilnya, menonton film ini seperti mendengarkan seorang teman bercerita tentang gairah yang ia miliki terhadap sebuah kelompok musik bernama The Doors yang baru saja ia temui kisah lengkapnya. Tak benar-benar ada dimensi baru yang muncul dari film ini, tetapi sebagaimana obrolan menarik dari seorang teman baik, kita akan mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Sampai di sini, ada kabar yang bisa jadi menggembirakan, bisa jadi tidak. Ketika Johny Depp menonton film ini di Sundance, ia tertarik untuk mengisi suara voice over untuk film ini. Ide ini bukan hanya disukai produser dan penyandang dana film ini, tapi juga tentu saja oleh DiCillo. Sehingga jika ia menerima Depp untuk mengisi suara, hal itu bukan sebuah kompromi. Namun bisa jadi saya kehilangan suara seorang teman yang bercerita dengan antusias dan hangat – mungkin juga tidak. Tapi rasanya hampier pasti ketika suara DiCillo diganti dengan suara Johny Depp, saya harus menyaksikan film ini sekali lagi.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s