Where to Invade Next?

wheretoinvade
Ini film Michael Moore yang paling saya suka (image credit: comingsoon.net)
Catatan dari Sheffield 5
Film Michael Moore sudah seperti sub-genre tersendiri dalam film dockmenter. Genre mengandalkan pada keakraban elemen tertentu, dan ini membentuk antisipasi. Maka melihat apa yang ada dalam film Michael Moore sebelumnya, penonton akan bisa berhadap pada munculnya pembuat film berbadan tambun yang sangat self-centred dan berlagak jadi pahlawan ini. Dan ini tidak selalu berarti buruk.
Where to Invade Next serupa belaka dengan film Moore sebelumnya, tetapi dengan kelokan yang tak terduga. Di film ini, Moore “mengambil alih” tongkat komando dari tangan militer Amerika yang perkasa, karena, seperti digambarkannya, segala intervensi mereka justru membuat Amerika semakin keblangsak. Akhirnya mereka menyerahkan kepada Moore, dan ini seperti jadi puncak self-centred dan self-importance Michael Moore, dalam skala jauh lebih besar dibandingkan film-film sebelumnya.
Namun di sinilah film berkelok menjadi kisah yang ironik dan simpatik. Moore sengaja menginvasi negara-negara “dunia pertama” di Eropa (plus Tunisia) untuk mengambil hal-hal bermanfaat dari negeri itu untuk diterapkan di Amerika. Maka ia berkeliling dunia, mulai dari Italia, Prancis, Norwegia, Jerman, Slovenia hingga Tunisia.
Moore bermain dalam dua tataran. Di tataran pertama, tentu saja ia bermain stereotype pada masing-masing negara itu. Dijadikannya stereotype itu bahan humor yang ringan dan menekankan bahwa political correctness bukan segalanya, dan kita masih punya ruang untuk bercanda soal stereotype dengan nada yang positif.
Tataran kedua, ia lebih serius. Moore mengambil satu dua karakter dan kebijakan negara itu yang membuatnya mencolok dan membandingkannya dengan keadaan di Amerika. Untuk Italia, ia melihat betapa murah hatinya perusahaan di Italia memberi cuti berbayar bagi karyawannya. Ia mewawancara pekerja dan pemilik perusahaan soal ini dan terkaget-kaget betapa mereka sama-sama menganggap liburan demikian penting demi kesejahteraan dan kemajuan bersama.
Tentu ia membandingkan dengan Amerika, dimana perusahaan tidak memberi sama sekali cuti berbayar untuk liburan. Apabila bisa dapat cuti liburan dua minggu setahun, itu sudah istimewa. Dan orang-orang Italia yang ia ceritakan terbengong-bengong menerima fakta sedemikian. Liburan bagi mereka adalah pembentuk kebahagian, maka jika itu dicabut, hilanglah kebahagiaan dan makna hidup mereka.
Dari Norwegia ia mengambil sistem penjara yang amat longgar dan demikian manusiawi. Bahkan untuk penjara dengan tingkat keamanan maksimum, Norwegia membiarkan para penghuninya memegang sendiri kunci kamar mereka dan bekerja dengan bebas di dapur termasuk memegang pisau dan sebagainya.
“Ini pisau untuk memasak, bukan senjata,” kata salah seorang penghuni penjara membecandai Moore ketika ia bertanya kenapa mereka dibolehkan memegang pisau sementara di penjara Amerika hal itu sama sekali mustahil.

Lalu satu demi satu ia menjelajahi negeri-negeri itu dan memberi gambaran rinci kebijakan mereka yang tergolong luar biasa bagi ukuran Amerika. Dua hal penting ikut ia ceritakan. Pertama, itu semua tidak terjadi begitu saja, melainkan dari proses politik yang tidak selalu mudah. Tunisia, misalnya. Di negeri itu, perempuan bukan cuma punya hak politik penting, tetapi mereka memiliki hak untuk mendapatkan aborsi yang disubsidi oleh pemerintah. Alasan untuk itu, dengan pilihan aborsi, perempuan bisa lebih baik mengendalikan tubuhnya sendiri dan mendapatkan dukungan negara untuk itu. Dengan demikian, perempuan bisa mengejar aspirasinya dan tidak hanya jadi pelengkap bagi keluarga, karena perempuan sudah lengkap sebagai manusia dengan sendirinya.

Where to Invade
Michael Moore menjawab pertanyaan dalam screening di Sheffield Documentary Festival. Seorang penonton bertanya: kenapa tidak memasarkan film ini sebagai “film feminis” karena kenyataannya film ini demikian. Moore menjawab, ia tak ingin begitu karena wacana seorang mendapat privileged dari dunia yang patriarkis, ketika ia mengambil “posisi korban” orang akan cenderung melihat itu sebagai strategi marketing yang tidak substansial. Biar saja penonton yang langsung menilai seperti itu.
Moore menggambarkan bahwa proses politik yang membuat Tunisia mencapai hal itu bukan sesuatu yang mudah. Sesudah revolusi Tunisia yang dipicu oleh pembakaran diri Mohamed Bouazizi dan tumbangnya pemerintahan otoriter, ada upaya kelompok konservatif mendominasi politik dan mendomestikasi perempuan. Kaum perempuan lalu turun ke jalan dan melakukan protes keras besar-besaran. Ini membuat kelompok konservatif yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin memutuskan untuk mengundurkan diri, dan ini jadi kunci perubahan politik yang lebih terlembaga di Tunisia. Sesudah itu, kaum perempuan mendapat tempat yang terhormat dalam politik dan masyarakat Tunisia.
Kedua, Moore juga memperlihatkan bahwa Amerika sedikit banyak punya andil dalam hal-hal positif di masing-masing negara. Misalnya, untuk penjara yang demikian longgar di Norwegia, sang kepala penjara mengatakan mereka mengambil idenya dari konstitusi Amerika. Jelas ditulis di sana. Lantas untuk pengejaran dan pemenjaraan terhadap para bankir yang menyebabkan krisis di Finlandia, mereka mempekerjakan seorang konsultan Amerika untuk itu. Semua yang ditemui Moore mengakui bahwa Amerika bangsa yang besar dan mereka banyak belajar dari Amerika. Dan mereka bingung kenapa Amerika tidak mau belajar dari diri mereka sendiri.
Maka film ini adalah gambaran ketaklukan dan kerendahhatian Amerika – dan Michael Moore. Tentu saja apa yang digambarkannya hanya yang postif belaka dan tidak memperlihatkan kompleksitas persoalan masing-masing negara yang pasti jauh dari gambaran karikatural yang dihadirkannya. Namun Moore tahu ia bicara kepada siapa. Ia bicara kepada bangsa Amerika yang begitu mudah berpuas diri, merasa diri paling besar dan hebat, padahal dilihat dari luar, bangsa itu sedang menuju kebangkrutannya dan membuang sendiri cita-cita besar mereka.
Film ini pun jadi sangat positif dan tergolong rendah hati. Yang juga mengejutkan adalah film ini sangat feminin, bahkan mungkin feminis. Para perempuan di film ini bukan hanya digambarkan sebagai mandiri, tetapi juga menjadi pemimpin yang memimpin dengan sensibilitas jauh lebih besar ketimbang laki-laki. Salah seorang tokoh dalam film ini mengatakan: jika perempuan hanya ada satu, itu hanya token untuk kepentingan maskulin yang agresif, jika ada dua mereka minortas, tetapi ketika mereka tiga atau lebih, di situlah peran perempuan yang sesungguhnya.
Maka bagi saya, inilah film terbaik Michael Moore, setidaknya yang paling saya nikmati. Film ini mungkin dimaksudkan untuk bicara dengan keras kepada orang Amerika. Moore menggambarkan para penontonnya di Amerika menonton film ini dengan mulut menganga karena kaget dan tak tahu semua fakta-fakta sederhana itu. Film ini mungkin berhasil memerangi sikap abai orang Amerika.
Sekalipun demikian, saya berpendapat film ini bisa memerangi sikap abai dimana saja, dan mempromosikan perilaku dan sikap yang masuk akal yang sederhana dan bisa dilakukan siapa saja, dimana saja tanpa peduli latar belakang mereka. Moore dengan jitu memperlihatkan hilangnya hal itu dari Amerika dan betapa penting dan mendesak upaya untuk mengembalikannya.
———–
Catatan kemungkinan konflik kepentingan: perjalanan saya ke Sheffield Doc Fest yang memutar film ini dibiayai oleh British Council Indonesia
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s