Tak ada wilayah abu-abu untuk political filmmaking?

Talk Sheffield
Catatan Sheffield 4
Judul diskusi Viva La Revolucion! Citizen Journalism and Political Filmmaking, dan pembukaan dari moderator mengenai diskusi ini cukup tegas: Ini diskusi tentang political filmmaking, maka tidak ada wilayah abu-abu, kata moderator Steve Presence dari Radical Film Network (radicalfilmnetwork.com). Yang dimaksudkannya, perbincangan dalam diskusi ini diharapkan bicara mengenai film yang dibuat untuk kepentingan politik, maka implikasinya adalah: beropini, berpolitik, bahkan berpropaganda adalah bagiannya.
Salah seorang pembicara, Shaun Dey dari Reel News berkata dengan tegas bahwa kelompoknya adalah organisasi politik yang menggunakan film sebagai bagian dari perjuangan. Ia menerima ‘pesanan’ dari berbagai kelompok sosial politik yang berjuang untuk mengkampanyekan kepentingan politik mereka, terutama dalam keadaan konflik. Maka, sebagaimana dalam hidup, ketika kita menghadapi konflik maka kita harus memilih dengan tegas dan jika perlu melupakan subtlety.
“Misalnya ketika membuat film untuk serikat pekerja bangunan, kami memperlihatkan hasil kerja mereka yang masih bagus dan kokoh, sekalipun kami tahu banyak pekerjaan mereka yang tidak begitu. Tapi untuk apa itu digambarkan. Ini kan propaganda,” kata Shaun yang sangat tidak apologetik sama sekali mengenai posisinya.
Aris Chatzistefanou dari Infowar (www.info-war.gr) punya posisi serupa, tetapi dengan Bahasa yang lebih halus. Film-filmnya menggambarkan mengenai krisis di negerinya, Yunani, sebagai wakil dari gambaran lebih luas ketimpangan struktural yang sedang terjadi di dunia kontemporer ini, terutama Uni Eropa yang ia anggap tak punya minat memakmurkan negara anggotanya. Ia ingin filmnya menjadi semacam explainer, alat penjelas lebih luas mengenai persoalan-persoalan ekonomi dunia yang disebabkan oleh korporasi dan politisi.
Film-film kelompok Infowar dibuat dengan kualitas tinggi, karena umumnya para pegiat di sana tadinya adalah para profesional yang bekerja di media-media besar semisal BBC World Service, Al Jazeera dan sebagainya. Namun krisis besar yang menghantam negeri itu membuat mereka kehilangan pekerjaan. Para wartawan yang punya pengetahuan mendalam mengenai persoalan dan ketrampilan teknis yang memadai ini kemudian merasa perlu berbuat melawan apa yang mereka anggap kesewenang-wenangan struktural itu dengan membuat film-film dokumenter, dibantu oleh mereka yang masih bekerja. Akibatnya, semakin banyak dari mereka yang berhenti bekerja dan mendedikasikan diri sepenuhnya pada kegiatan ini.
Cassie Quarless dan Usayd Uonys berbeda. Mereka berkolaborasi untuk mendokumetasikan gerakan perlawanan kaum muda kulit hitam di London dalam film berjudul Generation Revolution (www.genrevfilm.com). Gerakan perlawanan ini adalah gerakan perlawanan jalanan yang berdemonstrasi dan mengungkapkan pandangan mereka dengan cara konfrontatif. Bentrok dengan polisi sering terjadi, dan umumnya menekankan pada masih adanya institutional racism di Inggris Raya serta ketimpangan ekonomi yang makin menganga di ibukota.
Satu pembicara lagi adalah Alisa Lebow dari University of Sussex. Ia membuat sebuah ‘meta-documentary’ tentang revolusi di Mesir. Proyek berjudul Filming Revolution (www.filmingrevolution.org) ini berbasis situs web, berisi wawancara dengan puluhan pegiat demokrasi di Mesir yang merekam pengakuan dan berbagai proses politik yang terjadi di Mesir. Proyek Alisa sendiri lebih mirip dengan pembuatan arsip digital tentang revolusi Mesir. Secara format, apa yang dibuatnya belakangan masuk dalam kategori ‘interactive documentary’ yang sepenuhnya berisi database dengan platform berupa situs web dengan menggunakan desktop komputer.
Alisa lebih halus dalam sikap politik dan sebagai seorang akademisi, ia tidak setegas Shaun dalam mengungkapkan posisi politiknya, sekalipun ia tidak menyembunyikan keberpihakannya pada para pegiat ini – sebagian dari mereka adalah kolaboratornya. Ia sempat menyebutkan kemungkinan bahaya yang bisa saja menimpa mereka mengingat database ini juga berarti posisi mereka yang terbuka untuk diketahui pihak berwenang Mesir dan bisa digunakan untuk melawan mereka ketika keadaan berubah.
Dari para pembicara berlatarbelakang seperti ini, diskusi mengarah pada dua pokok utama yang saling berkait: penonton dan pendanaan. Sejauh apa penonton penting bagi karya mereka, dan bagaimana dengan aspek pendanaan: apakah terkait dengan penonton atau tidak.
Shaun menyebutkan baginya, yang terpenting adalah penonton yang tepat. Bisa saja filmnya Cuma mendapat 4000-an hit di YouTube, tetapi jika sebagian besar mereka adalah orang yang terlibat langsung (misalnya anggota serikat buruh bangunan), maka film itu akan bermanfaat bagi mereka untuk ikut aksi semisal pemogokan dan sebagainya. Belum lagi ketika film itu dibawa keliling dan dipertontonkan secara langsung. Ratusan orang bisa terlibat. Dari pengakuan Shaun, dari salah satu kegiatan nonton bareng di Australia yag dilakuan oleh serikat buruh bangunan di sana, terkumpul dana sumbangan hampir £8.000 sebagai bentuk solidaritas terhadap perjauangan buruh bangunan di Inggris Raya. Inilah penonton yang berarti bagi Shaun.
Aris menyebutkan 6,5 juta view untuk film-film karya Infowar, dan ini belum termasuk siaran di TV dan nonton bareng yang dilakukan di seluruh Yunani. Aris sendiri menganut prinsip yang agak heroik. Katanya, “Film-film ini dibuat oleh manusia. Dan saya percaya, apa yang dibuat oleh manusia, harus gratis bagi manusia,” katanya yang disambut tepuk tangan pengunjung diskusi.
Soal pendanaan? Baik Aris dan GenRev berangkat dari crowd funding. Bagi GenRev, crowd funding efektif untuk dua tujuan. Selain memelihara independensi dalam muatan, crowd funding juga berarti memperluas diskusi sebelum mediumnya sendiri jadi dan siap diedarkan. Dengan demikian, gagasan yang dibawa sudah bisa lebih dulu keliling dan jadi bahan pembicaraan sebelum akhirnya benar-benar terwujud.
Crowd funding adalah perwujudan semangat kolektif, bagi Aris. Selain metode pengumpulan uang sebagaimana crowd funding umumnya, Infowar juga mengandalkan tenaga para professional yang bersedia bekerja tidak dibayar untuk proyek-proyek mereka.
Alisa mendapatkan dana dari funding akademis. Dengan dana itu, ia mempekerjakan asisten dan bisa memberi imbalan bagi kolaboratornya di Mesir. Ia melakukan pengumpulan data dan pembuatan situs webnya selama dua tahun dan diharapkan akan menghasilkan sebuah buku dari proyek ini.
Shaun secara tegas menyebut organisasinya, sebagaimana organisasi politik, mengandalkan sumbangan dari anggota. Sumbangan mereka berbeda besarnya, mulai dari £3 hingga yang jauh lebih besar, karena sifatnya yang sukarela sebagaimana organisasi politik lainnya. Maka semua pekerjaan pembuatan filmnya relatif dilakukan secara sukarela untuk kepentingan politik mereka.
Tentu pertanyaan mengenai dilemma antara ‘kebenaran’ dan ‘propaganda’ muncul, sekalipun ini dijawab dengan jelas oleh Shaun mengenai keberpihakan. Ia menyatakan kebenaran yang dianutnya fungsional, karena sebagian besar filmnya memang dibuat dalam kondisi konfrontasi, dimana kelompok yang ia dukung sedang menghadapi organisasi yang lebih besar dan mapan seperti pemerintahan atau korporasi raksasa. Maka itulah Shaun mengibaratkan film dokumenter sebagai hidup itu sendiri: pilihan harus dibuat.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s