Montage of Heck (Brett Morgan, 2015)

image

Kembali kita berhadapan dengan mitos. Ia juga wafat pada usia 27 tahun dan dianggap single-handedly mendefinisikan satu generasi. Mungkin anggapan itu berlebihan, tapi bagi para pengagum dan pengikutnya, Kurt Cobain telah membantu turut mendefinisikan masa-masa paling kritis dalam hidup mereka. Miriplah dengan posisi nabi, pemuka agama dan kerap kali pasti lebih dari orang tua.

Kurt Cobain adalah sebuah ikon yang tak mungkin ditinggalkan ketika berbicara dekade 1990-an, sebuah era yang menjadi transisi antara dua abad. Sebuah era ketika kata-kata seperti persetan, heck, whatever menjadi semacam mantra yang bisa merumuskan sebuah perpisahan dengan dekade yang mengaitkan politik, kolektivitas dengan ideologi. Kurt Cobain adalah sebuah ikon yang melegitimasi pengabaian terhadap gagasan perubahan yang diusung bersama slogan, dan vulnerability, ketimbang machismo, sebagai sebuah archetype untuk kepolitikan baru (ingat Kuldesak?).

Inilah mungkin sebuah troupe – atau sebutlah genre – yang sedang mendapat penegasan dari film dokumenter, yang sedang melakukan mistifikasi-demistifikasi musisi-musisi yang mendefinisikan generasi. Berbeda dengan dokumenter musik yang jadi program yang banyak disajikan oleh BBC Four, troupe ini memasuki ruang intim dan mendadar informasi-informasi non-musikal ketimbang mendudukkan mereka dalam konteks perkembangan musik sejaman. Inilah era ketika Zeitgeist tak lagi dipercaya keberadaannya sebagai penentu sebuah era, dan sejarah dipersonalisasi bahkan dibuat jadi intim, dirumuskan melalui apa yang terjadi di kamar tidur dan buku diary ketimbang di jalan atau ruang-ruang publik.

Cara melihat seperti ini akan melengkapi apa yang sudah diketahui para penggemar Cobain, membuat resonansi pengalaman dalam memandang masa yang sudah lewat. Ketimbang nostalgia yang memastikan masa lalu itu tak punya relevansi lagi saat ini, pendekatan ini mengajak kembali menyusuri pengalaman itu, sambil menimbang-nimbang seperti apa masa kini seharusnya dipahami. Maka sejarah adalah mengalami kembali afeksi masa lalu di saat sekarang, ketimbang merumuskan pertentangan-pertentangan ideologis.

Dokumenter ini sendiri disusun dengan metode yang mirip dengan arkeologi media. Mirip dengan metode Antonio Somaini (berdasar inspirasi Jusi Parikka) ketika ia menemukan buku catatan harian Sergey Eisenstein ketika menjabat kepala museum di St. Petersburg. Dari serpihan-serpihan catatan itu,  Somaini melakukan inferensi – – seperti metode arkeolog yang menggunakan potongan keramik untuk mendefinisikan peradaban yang melahirkannya–  guna memperlihatkan interaksi Eisenstein dengan dunia ide yang ada di sekitarnya dan di masanya. Brett Morgan, yang mungkin tak pernah membaca buku Somaini, menggunakan metode serupa untuk memperlihatkan perkembangan Kurt Cobain sebagai pribadi yang rapuh dalam lingkungan yang intim di periode tertentu kehidupannya. Bahkan teknik animasi yang dipakai Morgan untuk menjelaskan suasana emosional Cobain mirip dengan metode Somaini untuk menjelaskan makna coretan Eisenstein dalam perkembangan intelektualnya.

Yang juga terpastikan adalah rekonstruksi lewat animasi untuk mengaksentuasi emosi, ketimbang fakta. Jika Waltz with Bashir memakai animasi sepenuh film karena rekonstruksi fakta tak bisa dilakukan lewat cara lain, maka Montage of Heck menempatkan afeksi yang berada pada posisi itu. Sebuah teknik yang mungkin sudah lebih mapan pada film fiksi.

Kini saya masih menunggu Little Girl Blue (Amy Berg, 2015) yang bercerita tentang Janis Joplin untuk melengkapi pembahasan film dokumenter dengan para musisi yang wafat di usia 27 ini. Bisa jadi lewat film itu sebuah jawaban atas pertanyaan sederhana: “mengapa sekarang” bisa membuat kita meninjau ulang kepercayaan kita pada kebenaran (yang tersalur lewat tradisi kita bersikap terhadap film dokumenter) dan mitos yang kita pegang erat-erat, bahkan ketika kita mendapatkannya secara counterintuitive.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s