Filmmaking adalah perlawanan

image

Ketika dilarang bikin film di negaranya, sutradara Iran, Jafar Panahi pun menjadi supir taxi. Dibawanya kamera ke dalam taxi dan ia merekam segala interaksi dengan para penumpangnya. Maka sekali lagi sesudah “This is not a Film”, Jafar Panahi kembali mengakali rezim yang mengekangnya, lewat film terbarunya, Taxi.

Namun bukan Panahi namanya jika ia membuat filmnya seakan-akan bukan film (seperti The Martian, misalnya yang disajikan seakan kejadian sungguhan tentang seorang ilmuwan yang terdampar di Mars). Panahi membuat keberadaan kamera dan proses filmmaking menjadi transparan, diketahui oleh para aktornya maupun, tentu saja, para penonton.

Bahkan film ini adalah tentang filmmaking, tepatnya tentang budaya sinema di negeri bersyariat Islam itu. Ia membicarakan soal produksi dan sirkulasi film dalam situasi gerilya. Panahi memperlihatkan bahwa filmmaking adalah perkara politik sejak semula terutama ketika rezim yang berkuasa menetapkan kode produksi yang ia anggap kekanak-kanakan. Percakapan Panahi dengan keponakan perempuannya memperlihatkan bahwa kekuasaan yang diselewengkan atas nama agama atau hal semacam itu, memperlakukan seniman dan warganya secara umum bagai kanak-kanak yang tidak bisa menerima kenyataaan yang berjalan pahit. Padahal dalam banyak kesempatan rezim itu sendirilah yang membuat hidup begitu pahit bagi banyak orang.

Panahi juga menyindir soal peredaran DVD bajakan yang menjadi sumber utama pengetahuan dan pembelajaran bagi mahasiswa film dan sutradara seperti dirinya. Tanpa adanya peredaran gelap keping film (dan musik) itu, pertemuan film dengan publiknya tak terjadi, dan proses belajar jadi sangat terbatas. Lewat “kerja budaya” recehan inilah Panahi bisa mengakses film Woody Allen, Midnight in Paris, atau mahasiswa film di Teheran dikenalkan pada Kim Ki Duk. Ini adalah sebuah anggukan hormat yang santun dari Panahi terhadap apa yang disebut Ramon Lobato (2007) sebagai sisi gelap ekonomi sinema yang justru membuat sirkulasi film tetap berjalan sekalipun dalam kondisi infrastuktur hukum dan ekonomi yang tidak ideal.

Sekalipun sedang bergerilya, seperti pada film sebelumnya Mirror, Panahi terus mempersoalkan ilusi yang dianggap sebagai realisme oleh pembuat film pada umumnya. Ia kembali keluar dari perangkap membangun realisme berdasar plausibility alias prosedur kemasukakalan konstruksi film, melainkan menjadikannya sebagai sebuah dialog antara film dengan penonton.

Sepanjang film kita diajak mempertanyakan tentang kenyataaan yang kita lihat dalam film untuk bisa memahami bahwa konstruksi sinematis adalah rangkaian pilihan yang tidak disembunyikan, bahkan dari para manusia di dalam film itu sendiri. Inilah sikap Panahi terhadap filmmaking, dan tidak semata membuat rezim jadi semacam hantu maha hebat yang menentukan hidup mati filmmaker atau merah hitamnya cara bercerita. Filmmaking adalah perlawanan terhadap posisi mapan filmmaker sebagai pencipta ilusi!

Selain perlawanan estetik di atas, tentu film ini adalah perlawanan politik itu sendiri. Maka ia memilih untuk memperlihatkan orang-orang yang berada di pinggiran, menjadi korban represi atau melawan represi. Dalam penggambaran yang amat keseharian, Panahi menegaskan bahwa apa yang tampak mapan dalai kehidupan sehari-hari sebetulnya adalah bentukan proses politik panjang di baliknya. Ia tegaskan pada ending film ini bahwa perlawanan estetik, berupa layar yang gelap, sebenarnya selalu berpasangan dengan perlawanan politik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s