Kumiko dan agamanya

kumiko-the-treasure-hunter-reelgood

Video tidak hanya mengakibatkan bencana yang datangnya dari dunia supernatural seperti dalam film Ringu. Video, dalam bentuk kaset VHS, dan substitusinya seperti DVD, juga bisa membawa berkah. Tapi serupa dengan Ringu, video juga menjadi penghubung antara dua dunia atau lebih. Di film ini, dunia pertama adalah dunia cerita dalam film yang diikuti oleh sang tokoh utama, Kumiko. Ia terobsesi pada Fargo, film yang disutradarai oleh Joel dan Ethan Coen. Bukan sekadar itu, ia percaya pada caption di awal film yang menyatakan film itu berasal dari kisah nyata. Silakan Anda ingat-ingat lagi apa dan bagaimana cerita Fargo.

Kepercayaan Kumiko ini adalah dunia berikutnya, dunia film ini sendiri, Kumiko, The Treasure Hunter. Berbeda dengan semua penonton Fargo, Kumiko percaya bahwa kisah nyata itu memang benar adanya, terutama pada bagian adanya harta karun yang ditimbun di bawah pagar di tengah padang salju di kota kecil di North Dakota itu. Maka, berangkatlah Kumiko meninggalkan Tokyo dan siklus hidupnya yang tak hanya membosankan tapi juga amat menekan. Apakah Kumiko seorang yang mudah terkelabui dan tak bisa membedakan fiksi dan kenyataan? Menurut saya bukan itu.

Ada beberapa hal yang penting dalam soal Kumiko dan film Fargo ini.

Pertama, film berperan penting, sebagai medium, sebagai perantara yang ternyata bisa membangkitkan kesadaran berbeda bagi para penonton yang berbeda. Medium menentukan penontonnya, dan sebaliknya. Hubungan itu tidak pernah satu arah. Kumiko percaya karena ia memilih percaya pada medium yang mengantarainya dengan dunia cerita. Video bisa jadi jalan untuk menentukan orientasi hidup, sebuah upaya penetapan identitas yang berdasar pada sebuah interaksi yang unik yang bisa melampaui batasan-batasan lokasi fisik. Video adalah alat bantu agar pikiran mengembara, kerinduan dan mimpi tercipta serta perasaan bisa dipelihara.

Kedua, film ternyata berperan serupa dengan kegiatan orang berjalan kaki di kawasan perkotaan. Walter Benjamin percaya bahwa berjalan kaki adalah sebuah kegiatan yang bisa membuat orang terseret jauh dari tujuan awal. Bahkan berjalan kaki -seperti yang diamati Benjamin terhadap flaneur di Paris- adalah sebuah kegiatan untuk berjalan-jalan itu sendiri. Video juga bisa berperan seperti itu, sebagai sebuah upaya untuk menghindar dari aransemen sosial yang memaksa. Video adalah sebuah sarana pendefinisian subyektivitas yang tidak semata harus sejalan dengan harmoni sosial. Setidaknya inilah jalan yang dipilih Kumiko

Ketiga, hal nyata dan tidak di dalam medium adalah soal kepercayaan, bukan soal fakta. Kepercayaan bahwa apa yang ada dalam film adalah kenyataan yang terjadi sungguhan di kenyataan adalah soal hubungan film dengan kepercayaan penonton, tidak semata ditentukan oleh klaim sang pembuat film1, apalagi fakta yang obyektif. Maka segala konvensi seputar film dan segala macam hal lain adalah aparat yang berguna untuk menentukan pilihan penonton, bukan pendefinisi kenyataan filmis apalagi pagar yang membentuk arena makna yang tetap dan tak berubah pada tontonan. Dari sini, kita sebaiknya mulai paham bahwa kepercayaan terhadap film bukan disebabkan oleh format (seperti film dokumenter) atau klaim (bahwa kisah dalam film benar-benar terjadi), tetapi merupakan pilihan penonton.

Inilah sebuah pendefinisian hubungan film dan penontonnya yang unik. Di sini jelas bahwa penonton bukanlah kategori sosial. Ia tidak punya batas-batas geografis ataupun kuantitatif, apalagi keanggotaan. Penonton adalah sebuah konsep yang tercipta dari perhatian individu terhadap medium tertentu. Lagi, kita bisa lihat bahwa perhatian bisa berbeda bentuk dan intenstasnya, dan Kumiko memperlihatkan sebuah titik dalam spektrum dimana perhatian bisa berarti kepercayaan dan ketaatan. Film ini jadi contoh bagaimana film juga bisa berperan seperti semacam agama. Maka harta karun bagi Kumiko adalah semacam imbalan, semacam surga yang dijanjikan. Kumiko rela menunda segala macam pertimbangan yang kita anggap akal sehat demi mengejar surga itu, modalnya hanya percaya dan takwa.

Namun film ini mengingatkan bahwa medium juga benda yang punya batas dan daya tahan hidup. Kaset VHS yang dimiliki Kumiko rusak dan ia harus menggantinya dengan DVD. Bisa jadi ini adalah pertanda masuknya kita ke dalam perubahan epos: dunia digital lebih menjamin keberlangsungan hubungan manusia dengan medium tadi.

Maka seperti halnya agama, narasi yang dimuat dalam medium harus terhubung dengan berbagai token yang bisa dipahami pemujanya sebagai simbol ketaatan, ketakwaan dan bekal bagi ziarah – dalam pemahaman fisik maupun spiritual. Berdasar itulah Kumiko bisa membangun argumen untuk menjelaskan posisinya ke dunia sekitar yang menghakiminya, ketika ia melakukan ziarah.

Maka seperti halnya Ringu, Kumiko The Treasure Hunter menjadi semacam argumen tentang medium yang menentukan hidup – juga mati – manusia. Apakah itu dunia supernatural ataukah kepercayaan penonton, keduanya bisa membawa manusia melampaui berbagai keterbatasan dan mengubah jangkauan pemahaman tentang dunia.

1Bayangkan klaim George Lucas bahwa film Star Wars itu terjadi di sebuah galaxi yang jauh dari tempat kita berada. Apakah dengan demikian seluruh kisah yang ada di Star Wars memang terjadi sungguhan di dunia nyata – hanya saja kita tak mengetahuinya jika tak diberitahu oleh Lucas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s