Blade Runner 2015

BR - poster

BR - replicant

“Teologi” film Blade Runner ini mirip dengan film Ridley Scott lain, Prometheus (2012), yaitu tentang ciptaan-tiruan (replicant) yang durh

aka hingga membunuh penciptanya. Di sini, tema ini dipadukan dengan kebebasan, termasuk keinginan dan kemampuan untuk menentukan kematian diri sendiri – seperti tokoh Bhisma dalam Bharatayudha.

Namun yang paling mengesankan dari Blade Runner adalah penggambaran kota dystopian di film ini. Pejalan kaki berdesak-desakan dengan kendaraan bermotor dan kios-kios pedagang di sela-sela pencakar langit bergaya gothic. Papan reklame korporasi raksasa tergusur ke tempat steril yang tinggi di gedung-gedung. Sekalipun mendominasi pemandangan, terutama untuk para “pejalan” vertikal dan pengguna mobil terbang, mereka tak mampu sepenuhnya menentukan keseharian yang kacau dan anarkis, alias tak berpusat tunggal.

BR - reklameBR - pedestrianRuang kota bukan hasil pengaturan, melainkan hasil negosiasi yang rumit. Otoritas ada, tetapi tidak seperti panopticon yang mampu mengawasi semua, melainkan seakan salah satu pihak saja dalam negosiasi ruang di keseharian. Batas ruang seperti tidak ada, tumpeng tindih, ditandai dengan perubahan suara-suara yang khas ketika terjadi perpindahan ruang sinematik. Mirip dengan pengalaman berjalan-jalan di alun-alun yang ramai yang dipenuhi seniman jalanan seperti di Leicester Square, London, pada malam akhir pekan. Maka di sini, ruang adalah sebuah pengalaman auditori, tidak semata visual. Mungkin inilah yang termasuk paling kuat dari Blade Runner: perpindahan ruang ditandai oleh tanda-tanda auditori ketimbang semata oleh perubahan visual. Tak heran kalau ahli geografi sosial David Harvey menggunakan film ini sebagai ilustrasi untuk mewakili kompresi ruang dan waktu.

BR - jalan

Namun keluar dari gedung bioskop BFI di tepian sungai Thames, London, saya menemukan kembali kota yang dirancang guna menyediakan kenyamanan dan efisiensi untuk warganya, agar kami para Londoners bisa tetap memelihara produktivitas kami. Lantas saya menaiki kereta bawah tanah kota London. Sifat panopticon pemerintahan terlihat dalam logo besar Transport for London (tfl) dan perangkat simbolis lainnya, juga terdengar (mind the gap!). Pada akhirnya, pengalaman menonton film tetap merupakan sebuah pengalaman pedestrian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s