Mencatat Film Indonesia 2014 (Bagian 1)

Perjalanan Mada adalah sebuah perjalanan trayek tunggal, dari seorang hedonis yang bersenang-senang dengan penuh resiko, menjadi seorang bertakwa sepenuhnya
Perjalanan Mada adalah sebuah perjalanan trayek tunggal, dari seorang hedonis yang bersenang-senang dengan penuh resiko, menjadi seorang bertakwa sepenuhnya

Tak mudah bagi saya untuk mencatat film-film Indonesia di tahun 2014. Pasalnya, tentu saja karena sebagian besar waktu saya di tahun itu dihabiskan di Inggris. Saya nyaris tak memiliki akses untuk merasakan apa yang dirasakan oleh para penonton film Indonesia di bioskop-bioskop di sini.

Namun saya tidak sama sekali terputus hubungan dengan film Indonesia. Ada beberapa hubungan yang masih terjadi. Setidaknya berita dari internet dan media sosial memberi sedikit gambaran tentang apa yang terjadi dan sedang dirasakan, sekalipun jelas ada bias yang amat kentara pada kedua media itu. Internet, sekalipun kini mungkin merupakan sumber berita yang amat penting di Indonesia, tak mampu menangkap gairah dan semangat yang terjadi dalam interaksi langsung. Keramaian dan pembicaraan banyak hilang dalam kebijakan editorial. Media sosial lebih berguna untuk menangkap semangat dan gairah dan lebih banyak spontanitas dituangkan di dalamnya. Namun informasi yang saya terima penuh dengan bias.

Hubungan lain yang masih ada antara saya dan film Indonesia adalah melalui sutradara dan produser, atau distributor perorangan. Mereka terkadang berbaik hati mengirimkan tautan film mereka di internet (terutama di situs Vimeo yang masih diblokir di Indonesia) yang terproteksi dan saya bisa menontonnya dengan kata kunci. Kebanyakan film-film itu saya tonton di laptop dan sendirian, tetapi sesekali saya tonton di TV besar (60 inch) bersama satu dua orang lain. Jelas pengalaman menonton seperti ini jauh dari optimal. Namun ini tetap lebih baik ketimbang tak menonton film-film Indonesia sama sekali.

Hubungan terakhir, saya sempat pulang ke Indonesia beberapa pekan di bulan Agustus/September, lalu bulan Desember ini. Selama kepulangan ini saya menyempatkan diri untuk ke bioskop untuk menonton film, terutama film Indonesia atau menghadiri undangan gala premier (hanya sekali karena pada dasarnya saya kurang suka gala premier). Namun sialnya, selain film-film yang ingin saya kejar sudah lewat, karena pada dasarnya saya tidak rajin menonton seluruh film Indonesia. Saya memilih beberapa film saja yang saya rasa bisa membawa pengalaman yang berbeda dari yang sudah-sudah, atau memilih film yang saya anggap dikerjakan dengan serius. Akhirnya memang ada faktor selera juga yang turut menentukan.

Dengan segala macam soal ini, saya mencatat film-film di tahun 2014. Tak bisa sebagimana yang sudah-sudah semisal membuat urutan film terbaik dalam setahun itu. Jika ada film-film yang saya bahas agak panjang, mungkin tak terhindarkan juga keinginan saya untuk berbagi tontonan yang saya anggap amat menarik secara estetik buat saya di tahun lalu. Namun secara umum saya akan mengubah catatan ini berdasarkan tema dan hal-hal yang lain paling menarik bagi saya sepanjang tahun ini, dan itu bisa apa saja. Dengan segala keterbatasan itu dan catatan yang agak acak, silakan Anda simak.

Bagian 1: Islam dalam film

Saya punya perhatian khusus pada film-film bertema Islam. Selain beberapa tulisan di forum-forum diskusi dan seminar, saya juga sebenarnya sedang dalam tahap menyelesaikan satu buku tentang film Islam di Indonesia dari masa ke masa. Film yang saya bahas dari Tauhid (Asrul Sani, 1964) hingga ? [Tanda Tanya] (Hanung Bramatyo, 2011). Saya berencana meneruskannya hingga pembahasan film-film tahun 2014 (bahkan mungkin 2015). Tahun ini bagi saya penting karena ini merupakan tahun dimana film-film Islam tampaknya sedang melaju dengan mengendarai momentum baru.

Sebelum bicara soal momentum ini, saya ingin mengingat sedikit ke belakang soal film Islam ini. Dalam sebuah percakapan di tahun 2009, seorang kritikus film asal Singapura setengah meledek saya menyatakan bahwa perhatian saya pada film Islam berlebihan. Menurutnya, ini adalah sebuah trend pasar yang akan segera menghilang tahun depan. Saya membantah dengan menyebutkan fakta adanya film-film bertema Islam 80-an, dan menyatakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar ketimbang arus di permukaan bernama komersialisasi agama. Perbincangan itu tak tuntas, tapi soal ini terus jadi pikiran.

Apa nama arus di bawah permukaan itu, tak mudah untuk dirumuskan dengan singkat. Ariel Heryanto dalam buku terbarunya menyebut arus itu adalah post-Islamisme, sebuah revisi terhadap hasrat untuk mewujudkan Islam ke dalam bentuk badan politik (atau dikenal dengan Islamisme). Post-Islamisme ini tidak berbentuk tunggal dan memiliki spektrum amat beragam, termasuk beberapa variannya menanggalkan hasrat badan politik Islam itu, dan lebih percaya pada bentuk-bentuk yang lebih diterima masyarakat luas yang lebih sekuler. Beberapa menyebutnya jalan kebudayaan. Maka budaya populer adalah ruang amat terbuka untuk itu[1].

Saya melihat argumen Ariel Heryanto sedikit membantu saya untuk melihat apa yang saya katakan sebagai momentum itu. Islamisasi dan post-Islamisasi memang sedang terjadi secara global. Namun post-Islamisme itu sebuah fenomena yang bisa dibilang baru, padahal saya berpendapat ada sesuatu yang tak tampak yang sedang diam-diam menuliskan riwayat hidup umat Islam di Indonesia, dan film adalah salah satu manifestasinya. Maka saya ingin menggunakan catatan tahun 2014 ini untuk mencari tahu apa yang ada di balik permukaan itu.

Saya melihat film Islam di tahun 2014 dipenuhi kecenderungan lintas nasional, agak sama dengan film-film Indonesia lain.

Di tahun 2014, saya menonton 99 Cahaya di Langit Eropa 1 & 2 serta Haji Backpacker. Inilah momentum yang menurut saya mengikut pada sebuah momentum baru: hasrat lintas nasional. Seperti halnya film-film Indonesia pada umumnya, dan juga pada buku-buku perjalanan (travelog) yang sedang melanda toko-toko buku belakangan ini, perjalanan keluar negeri sedang menjadi topik yang amat digandrungi. Ledakan buku catatan perjalanan ini luar biasa. Seorang akademisi asal School of Oriental and African Studies (SOAS) London yang berspesialisasi ‘penggambaran British-ness dalam literatur Indonesia-Malaysia’ kewalahan ketika datang ke Indonesia tahun ini dan melihat tumpukan buku-buku itu seperti bukit kecil.

Perjalanan, terutama ke “luar negeri” ke tempat-tempat yang baru dan asing memang sudah menjadi hasrat yang selalu hidup di Indonesia, dan di berbagai belahan dunia lain. Dalam film Indonesia, sampai sejauh ini saya rasa saya harus mencatat dua film yang terpenting dalam hal ini: Catatan si Boy (Nasry Cheppy, 1989) dan Ayat-ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008). Saya tak ingin membahas terlalu panjang keduanya, tetapi dari kedua film ini tampak jelas bahwa ‘luar negeri’ menjadi bagian dari identitas mereka serta bagaimana posisi anak-anak muda kelas menengah ini dipandang oleh sekitarnya. Namun perbedaan besarnya, jika pada Si Boy, luar negeri itu adalah Amerika, maka pada Fahri, luar negeri itu adalah Al Azhar, Mesir. Saya pernah membandingkan keduanya di ulasan saya tentang Ayat-ayat Cinta di tahun 2008, dan saya anggap ulasan itu masih relevan.

Yang menarik justru adalah perkembangan ‘luar negeri’ bagi Muslim Indonesia. Jika “pusat” ziarah Muslim tadinya adalah Tanah Suci Mekah, maka kini berubah. Pada film Tauhid (1964) – yang kini mungkin bisa digolongkan sebagai sebuah road movie – ziarah ke Mekah menjadi semacam sarana untuk mencapai hidayah (pencerahan?) yang bersumber dari gabungan antara debat rasional dengan pemberian ilahiah terhadap Muslim yang memang berniat baik. Perjalanan fisik dalam Tauhid menjadi cermin bagi perjalanan spiritual dan intelektual sekaligus, dengan Mekah sebagai tujuan. Dalam berbagai film yang lebih populer, Mekah juga menjadi sebuah acuan untuk asumsi yang tak perlu dipertanyakan lagi mengenai ketakwaan beragama. “Sudah ke Mekah” atau “sudah pergi haji” menjadi semacam norma umum yang menempatkan seseorang dalam status sosial yang amat berbeda dengan orang kebanyakan.[2]

Ayat-ayat Cinta telah menggeser (atau meluaskan?) ziarah ke negeri Arab lainnya yaitu Mesir, dan ini bukan persoalan geografis semata. Ayat-ayat Cinta menggeser sedikit makna ketakwaan. Jika sebelumnya ketaatan beragama adalah soal status karena melakukan ziarah, Ayat-ayat Cinta menambahnya dengan pendidikan. Tambahan ukuran ini penting guna menggeser otoritas ketakwaan yang tadinya hanya ditentukan oleh status yang sifatnya ‘tradisional’ dan seremonial, menjadi kemampuan dalam berargumen dalam bidang agama. Maka tokoh seperti Fahri jadi wakil Muslim Indonesia transnasional yang siap memasuki kancah perdebatan kontemporer, semisal yang ia lakukan di kereta dengan orang Mesir yang memukulnya. Bahkan , posisi Fahri seperti ini dipandang sebagai alternatif Islam transnasional asal Indonesia yang mampu menandingi Islam transnasional yang bernuansa terorisme yang diperkenalkan oleh penulis Olivier Roy (2004), misalnya (lihat Lukens-Bull, 2010). Tak urung menurut saya, hal ini juga yang membuat Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu membawa para diplomat untuk melihat film ini sebagai pameran model Islam Indonesia yang mampu menjadi “jembatan peradaban” (seperti tema pidatonya di Harvard ketika itu).

Momentum lintas nasional yang sedang membesar ini, menurut saya sedang memasuki tahap baru, yaitu pembentukan sebuah subyektivitas yang berbeda dari yang selama ini. Memang mudah saja mengamati film seperti 99 Cahaya di Langit Eropa atau Haji Backpacker sebagai sebuah wujud keminderan postkolonial yang selalu mencari afirmasi pada pusat-pusat tertentu yang dianggap amat penting. Namun bagi saya, kritik itu harus dilengkapi dengan catatan lain tentang kehendak “ziarah” yang merupakan hasrat penting yang tumbuh beriringan dengan perkembangan komunitas yang terbayangkan bernama negara nasional, seperti yang dicatat oleh Benedict Anderson.

Bagi Ben Anderson, ziarah (antara lain dan terutama ke motherland alias negara kolonial yang pernah menjajah) merupakan sebuah perangkat penting dalam menciptakan sebuah kesadaran baru di lingkungan orang-orang negara jajahan. Tidak seperti kritik orientalisme yang melihat penegasan batas-batas antara “luar” dan “dalam” melalui wacana, menurut saya ada aspek material yang penting dalam perjalanan lintas batas itu, dimana para pelintas ini – beriring dengan kapitalisme dunia cetak – kemudian menjadi para penganjur bagi sebuah komunitas yang seakan utuh dan jelas untuk dibayangkan bersama (perhatikan bahwa organisasi pertama yang menggunakan kata “Indonesia” untuk nama mereka didirikan di Belanda oleh orang-orang yang belajar di sana). Ziarah memainkan peran amat penting dalam konteks pembentukan komunitas terbayangkan ini, bukan hanya kapitalisme cetak yang memungkinkan munculnya yang “vernakular” alias ungkapan sehari-hari yang mampu melampaui batasan-batasan aristokrasi lama.

Tentu Ben Anderson bicara tentang nasionalisme, sebuah bentuk kesadaran yang unik yang tumbuh dalam situasi yang khusus. Menerapkannya ke dalam kesadaran transnasional Muslim adalah sebuah kesembronoan luar biasa. Namun sejauh ini saya hanya ingin meminjamnya dengan menempatkan posisi perjalanan fisik pada kegiatan “ziarah” sebagai sebuah hasrat yang tak semata keinginan kelas menengah untuk menjadi keren dalam kategori-kategori sosial politik yang baru berkenaan dengan pengalaman postkolonial. Menurut saya, bisa jadi ada semacam kebutuhan pembayangan Muslim sebagai komunitas transnasional, global (dan tentu saja pada saat yang sama berbasis nasional) yang sedang tumbuh pada kaum Muslim saat ini. Tentu ini amat perlu ditinjau lagi dengan hati-hati. Namun sedikitnya saya melihat setidaknya ini ekuivalen dengan keinginan bermotif sekuler untuk menjadi bagian dari manusia global yang juga sedang mengalami peningkatan besar-besaran. Namun pada Muslim, keinginan itu muncul dengan penandaan situs-situs geografis dengan cara yang didefinisikan sendiri. Alih-alih melihat Paris sebagai semata Louvre atau Eiffel (sebagaimana yang ada pada ziarah yang sekuler), 99 Cahaya menandai Paris sebagai kekaguman Napoleon terhadap Islam, misalnya, seberapapun dianggap rapuhnya hal semacam itu.

Karena dalam penandaan yang baru ini, soalnya memang bukan semata fakta, melainkan subyektivitas yang sedang mengalami pembentukan lewat sebuah komunitas yang dibayangkan itu. Yang menarik dari ziarah ini adalah, sekalipun sifatnya kelas menengah (hanya dilakukan oleh yang mampu atau terdidik), ia tetap bisa menjadi tumpuan pembentukan subyektivitas yang mudah diakses siapa saja dan terutama oleh yang tak mampu melakukan ziarah. Maka alih-alih memandang hasrat ziarah itu sebagai sebuah keminderan post-kolonial, saya melihatnya sebagai sebuah bagian penting dari pembentukan komunitas yang terbayangkan yang bisa menjadi bagian dari subyektivitas Muslim di Indonesia yang tampaknya juga memiliki minat untuk menjadi Muslim lintas batas.

Dalam cara pandang seperti ini (dan bukan cara pandang artistik), maka Haji Backpacker bisa jadi film yang menarik karena sedikitnya karena tiga hal. Pertama, ia menegaskan sebuah trayek yang berbeda dalam menuju Mekah ketimbang rute yang lazim, seperti yang digambarkan oleh Tauhid (Asrul Sani 1964) yang relatif “aman” dan berbau intelektual. Haji Backpacker mengubah rute perjalanan haji dan perjalanan spiritual menjadi sebuah perjalanan yang tidak aman (tak menjamin tujuan tercapai, bahkan tak punya motif relijius sejak semula) dan cenderung acak. Sang tokoh berjalan melalui Thailand, China hingga Pakistan. Haji Backpacker menegaskan keberadaan peradaban Islam di wilayah-wilayah yang relatif tak dikenali sebagai wilayah “tradisional” Islam seperti Timur Tengah. Ia telah membantu dalam mempopulerkan peradaban Islam yang kurang dikenal selama ini, menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan ‘nasional’ yang berbeda-beda, karenanya mampu menjamin keamanan dalam mengusung identitas transnasional.

Kedua, karakter utama dalam Haji Backpacker adalah seorang transnasionalis sejati. Ia sudah “membakar kapal” dengan Indonesia akibat sebuah luka masa lalu (apapun luka itu) dan memutuskan untuk menjadikan seluruh muka bumi menjadi rumahnya (atau persinggahannya). Yang paling menakjubkan dari tokoh ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan baru yang membuatnya menjadi transnasional sejati. Rasanya, selain tokoh Alit di film 6.30 (Rinaldi Puspoyo) yang amat kosmopolitan dan tak ingin pulang, baru kali ini lagi seorang Indonesia (dan Muslim) bisa digambarkan seperti ini. Bandingkan tokoh ini dengan Azzam (Ketika Cinta Bertasbih) yang mencari makan dari komunitas Indonesia (dengan berjualan bakso) di Mesir, ketimbang memanfaatkan ilmu agamanya untuk mencari nafkah dalam masyarakat Mesir sendiri. Apakah Muslim Indonesia sedang mencapai fase kosmopolitan yang belum ada presedennya?

Ketiga, dan tak kalah pentingnya adalah perjalanan spiritual itu sendiri. Film ini, sekalipun dianggap “mencari tuhan tanpa teriakan”, tetapi ia sedang menegaskan satu hal, yaitu sebuah kepatutan sosial politik (political correctness) yang baru, dimana perjalanan spiritual hanya bisa berjalan linear satu arah: dari hedonisme menuju pada ketakwaan penuh. Silakan bandingkan ini dengan berita-berita seputar pesohor yang meninggalkan kehidupan main band demi agama dan hal-hal semacam itu. Terjadi naturalisasi yang menegaskan bahwa perjalanan spiritual memang harus linear dengan trayek tunggal. Ketika seorang bintang film atau penyanyi tak lagi berjilbab, tak mungkin sang penyanyi itu mengklaim ia sedang menjalani ‘perjalanan spiritual’ dan pemberitaan tentangnya pun cenderung dipasang dalam kerangka seakan ia mengalami “kemunduran” dalam hidupnya.

Maka jika Ayat-ayat Cinta memperkenalkan sebuah trayek relijiustitas dari ‘non-Muslim pengagum Islam kemudian menjadi Muslim’, maka Haji Backpacker menegaskan sebuah trayek yang penting: posisi Muslim kosmopolitan hedonis menjadi Muslim kosmopolitan taat, dengan penekanan pada trayek tunggal linear ini. Inilah peran besar dari film seperti Haji Backpacker, yang menumpang pada momentum terkait dengan hasrat ziarah tadi. Namun di saat yang sama, film ini juga menegaskan sebuah titik pijak baru yang bisa dipakai untuk mencapai momentum baru, yaitu dengan melakukan kristalisasi terhadap kepatutan sosial politik yang saya sebut di atas tadi.

Satu hal lagi soal film Islam ini sama sekali belum terumuskan dan baru saya pungut dari trailer film Hijab, karya terbaru Hanung Bramantyo. Film ini memang belum bisa dilihat sepenuhnya, tetapi trailer itu sudah memperlihatkan hal yang menurut saya cukup penting, berkait dengan kepercayaan diri Muslim dalam dunia kontemporer. Saya tak ingin terlalu cepat juga membahas film ini (karena memang belum menontonnya dan mungkin belum selesai), tetapi trailernya dan beberapa pemberitaan soal film ini memperlihatkan hal penting dalam perkembangan wacana Islam di Indonesia. Film ini seperti amat santai dengan motivasi spiritual dalam sebuah perilaku yang biasanya dilekati makna agama yang amat kental: jilbab. Jika posisi Islam selama ini apologetik – setidaknya defensif – dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya, maka Hijab seakan melepaskan posisi defensif itu. Artinya, tak perlu ada penjelasan soal “ketakwaan” para tokoh untuk menempati posisi protagonis[3].

Bandingkan misalnya karakterisasi yang muncul pada Hijab seperti yang ditampilkan oleh trailer itu dengan para tokoh film Islam sebelumnya. Dalam film Islam sebelumnya, para tokoh perlu diletakkan dalam posisi ketakwaan tertentu mereka ketika berhadapan dengan berbagai hal seperti kehidupan demokrasi modern (Al Kautsar [1977], Titian Serambut Dibelah Tujuh [1959 dan 1982]), atau perjuangan emansipasi dan nasionalisme (Para Perintis Kemerdekaan [1982]), atau bahkan budaya konsumen dan transnasionalisme dalam kapitalisme kontemporer (Ayat-ayat Cinta [2008]). Saya membayangkan sifat defensif ini hilang, dan Islam bisa berjalan alamiah di sebuah lingkungan kapitalisme kontemporer zonder pelekatan kualitas ketakwaan di dalam tokoh-tokohnya. Terus terang, Hijab membuat saya mengantisipasi sebuah level yang baru lagi. Apakah ini yang sedang kita tuju pada 2015? Saya menantikannya.

Inilah catatan saya tentang tema Islam pada film-film Indonesia di tahun 2014. Selanjutnya saya akan menyebut hal-hal yang saya anggap penting tahun ini dan mungkin di tahun mendatang.

————————

[1] Argumen Ariel Heryanto ini tentu saya perlakukan tak adil, karena sebetulnya jauh lebih kompleks daripada itu. Saya sedang menerjemahkan bukunya, dan jika terbit tahun depan bisa jadi buku ini akan jadi salah satu buku paling menarik tahun depan tentang budaya populer di Indonesia.

[2] Sebetulnya ada hal menarik soal Mekah sebagai tempat pelarian dalam film Lari Ka Meka (Lari ke Mekah), yang kemudian diganti menjadi Lari Ka Arab. Posisi Mekah adalah tempat pelarian bagi seorang Indonesia yang melakukan kriminalitas kecil di tanahnya sendiri! Namun menurut catatan Misbah Yusa Biran (2009), judul ini diprotes karena dianggap membuat buruk status kota Mekah, sehingga judul itu diubah menjadi Lari Ka Arab, menetralkan posisi tanah suci umat Islam itu. Persoalan ini menggambarkan bahwa Mekah sejak lama menempati posisi khusus dalam keberagamaan Muslim, termasuk di Indonesia.

[3] Perhatikan bahwa absennya hal ini juga bisa ditemukan pada film 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim) yang mencatat dengan baik kehidupan dan model ketakwaan pesantren. Sepintas saya menduga memang ada jalur berbeda dalam estetika “Islamisasi” (amat modern dan mencoba masuk ke wilayah yang secara tradisional tidak ‘Islami’ seperti fashion dan iklan shampoo) dan estetika “pesantren” (yang lebih terakulturasi). Apakah Hijab sedang menuju sebuah akulturasi baru? Jika ya, terhadap apa? Ini mungkin spekulasi berlebihan.

Advertisements

2 Comments

  1. Catatan yang keren, saya sangat menikmati catan catatan mas Eric setelah mazab Inggris. Hehe…
    Film dan Islam di Indonesia seperti bermain di antara Pancasila dan kegamangan kaum beragama atas kekerasan yang seringkali mengatas namakan Islam ya mas?
    Film yang bertemakan Islam seringkali menjadi jembatan memahami Islam Indonesia yang penuh dengan dinamika dan pencarian jati diri…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s