Film-film yang berkesan buat saya di tahun 2014

image

13. Mood Indigo (Michel Gondry)
Sepintas, film ini seperti sedang menggunakan meriam besar untuk membunuh nyamuk: untuk apa memakai pemain seperti Audrey Tatou dan segala property film yang amat rumit itu untuk bercerita tentang kisah cinta yang berbau cinta monyet seperti ini? Namun bagi saya, inilah film yang memohon dengan rendah hati kepada para penonton untuk berpikiran terbuka ketika menonton film, dan tak perlu memenuhi kepala dengan segala praduga. Cerita dalam film ini demikian linier dan sederhana tetapi diiringi dengan visualisasi yang istimewa dari berbagai properti yang tampak tidak cocok dengan dunia yang kita kenali sekarang. Inilah sebuah kisah fantasi yang begitu polos dan tak berminat macam-macam kecuali mengajak kita menikmati perubahan demi perubahan suasana sepanjang menonton film. Sebuah tamasya visual dan mood yang amat berbeda, tapi jangan-jangan sebaik In the Mood for Love (Wong Kar-Wai, 2000).

12. At Berkeley (Frederick Wiseman)
Frederick Wiseman sudah puluhan tahun membuat film dan ia masih setia pada tema dan gayanya. Ia selalu melakukan pemeriksaan yang amat menyeluruh terhadap institusi sosial dan politik yang mapan di masyarakat, karena dari situ, manusia bisa dilongok sikap diri, bahkan mungkin pedalaman hatinya. Lewat film-filmnya kita melihat bagaimana manusia menjadi “institutionalized” alias melembaga, yaitu ketika sikap hidup dan perilaku individu tak bisa lagi dipisahkan dari lembaga sosial dimana mereka hidup; ini juga berlaku sebaliknya.
Kini ia melakukannya pada University of California at Berkeley, salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Gaya yang ia pakai masih sama dengan gaya pada film pertamanya, Titicut Follies (1967), yang bertumpu pada gaya observational tanpa voice over maupun ilustrasi musik, bertumpu pada adegan-adegan yang amat intensif menggambarkan intisari dari lembaga yang sedang direkamnya. Maka film ini terasa cukup menuntut kesabaran penontonnya.
Yang menarik dari film dokumenter ini adalah keberhasilan Wiseman menghadirkan gambaran kontradiksi yang amat dalam dan luas tentang posisi lembaga pendidikan dalam kondisi kapitalisme kontemporer. Dari film dokumenter ini, ketika kita menganggap lembaga pendidikan adalah jalan keluar dari masalah-masalah kontemporer, Wiseman justru memperlihatkan bahwa mereka dibelit masalah serupa belaka.

11. Blue Ruin (Jeremy Saulnier)
Buat saya, film ini seperti gabungan antara kisah seorang lelaki yang tak ingin ‘naik kelas’ (atau katakanlah tak ingin move on) karena dendam seperti Crossing Guard (Sean Penn, 1996) dengan seorang lelaki kelas menengah sensitif yang disudutkan, hingga terpaksa melakukan kekerasan tak terhingga Straw Dog (Sam Peckinpah, 1975). Maka kemunculan kelelakian (man-up) adalah sebuah konstruksi yang liar dan tak terkendali, melampaui hal seperti kepatutan sosial politik khas milik kelas menengah. Ini bagaikan sebuah perjalanan menuju tempat terasing dan ketika tiba di sana, sisi lain dari diri kita yang tak pernah kita kenali kemudian muncul dan mengambil alih jati diri kita, entah apakah untuk selamanya.
Sama seperti kedua film yang saya acu, kekerasan dalam film ini bukan untuk dirayakan, melainkan menjadi semacam cermin muram bagi diri manusia-manusia yang terpaksa dan tak kunjung rela. Kekerasan jangan-jangan memang katarsis dari situasi-situasi yang sepenuhnya tak pernah bisa sepenuhnya dikendalikan oleh manusia.

10. Locke (Steven Knight)
Menonton film ini, saya teringat pada Rear Window (1954), sebuah mahakarya Alfred Hitchcock yang bercerita secara lengkap tentang sebuah peristiwa dari satu sudut pandang saja. Bukan sekadar sudut pandang tokoh, tetapi juga menggambarkan peristiwa dari satu kamar dan apa yang bisa dipandang dari jendela kamar tersebut. Sebagaimana Rear Window, Locke serupa dalam membangun struktur cerita dari sudut pandang dan rentang waktu terbatas. Kisah dalam film ini diceritakan lewat satu peristiwa saja yang terjadi di dalam sebuah mobil yang sedang berada dalam perjalanan dari Manchester menuju London. Satu-satunya tokoh yang tampak di layar adalah John Locke (Tom Hardy) dan film ini jadi sebuah etalase bagi penampilan tunggal yang amat istimewa. Hardy tak hanya menjadi pusat bagi para tokoh lain yang hanya terdengar suaranya dalam percakapan telepon, tapi dari situ ia juga menjadi jangkar bagi cerita yang cukup kompleks dan penuh suspens. Sebuah film kecil dengan pencapaian amat besar.

9. Sacro GRA (Gianfranco Rossi)
Manusia mungkin mempengaruhi lingkungan fisik mereka, tapi film dokumenter yang lebih mirip film esei ini ingin menyatakan sebaliknya. GRA di sini adalah Grande Raccordo Anulare atau jalan lingkar utama yang mengelilingi kota Roma. Rossi memperlihatkan seakan jalan itu punya kualitas suci sehingga manusia-manusia yang hidup di sekitarnya patut untuk direkam dan disajikan kepada penonton ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun keseharian orang itu bukan semata bunga rampai yang acak. Untuk subyek-subyeknya, Rosi seperti sedang membuka toko pakaian dan memilih manekin-manekin yang amat sangat tidak biasa untuk ia pajang di etalase. Orang-orang yang direkamnya adalah: seorang nelayan belut yang ngomel-ngomel dengan sebuah liputan koran tentang penangkapan belut, seorang petugas ambulan yang ibunya mulai pikun, penari erotis di rumah minum remang-remang pinggir jalan, penghuni rumah susun yang ingin jadi DJ, dan, yang paling unik buat saya: seorang perekam suara larva serangga di pohon palem. Orang-orang ini direkam ketika melakukan kegiatan keseharian mereka, tapi karena keunikan mereka, Rosi seperti sedang menyajikan sebuah karnaval dengan para peserta yang memakai kostum beraneka ragam.
Inilah narasi yang tidak sedang mengarahkan penonton untuk mengidentifikasi diri dengan drama dan karakter di dalamnya. Juga tidak usaha untuk memberi perspektif atau pemahaman tentang apa dan bagaimana dunia yang ada pada orang-orang itu (dan karenanya juga dunia kita ini) bekerja. Jika ada yang ingin diwakili oleh film ini, tampaknya Rosi ingin menghadirkan kota Roma dari wajah yang lain sama sekali dari apa yang digambarkan dalam banyak sinema tentangnya. Berbeda dengan gambaran kota Roma di The Great Beauty (Sorrentino, 2013) bahkan juga berbeda dari Roma, Open City (Rosselini, 1945), ibukota Italia ini tampil sebagai sebuah daerah pinggiran yang identitasnya tampak tak terdefinsikan.
Saya sendiri tak kelewat berminat melihat film ini sebagai bagian dari usaha merepresentasi wajah lain kota Roma. Saya merasa bahwa film ini mirip sebuah lamunan panjang tentang kenyataan-kenyataan dan orang-orang yang sulit dipahami secara selintas, tapi pada saat yang sama juga terasa akrab pada momen-momen tertentu. Bagi saya ajakan melamun yang dibawa oleh film semacam ini amat menarik, sekalipun saya tak ingin terlalu lama berada dalam keadaan seperti ini.

8. Ida (Pawel Pasilowksi)
Ida adalah seorang perempuan muda yang tinggal di biara dan relatif bahagia, sampai ia diberitahu bahwa orangtuanya yang selama ini ia kenal ternyata bukan orangtuanya sendiri. Pergilah Ida dari biara itu dengan satu misi pribadi, yaitu untuk memahami asal-usulnya. Ia pun melacaknya lewat kerabatnya yang masih tersisa yaitu bibinya, seorang politisi yang pernah menjadi pusat perhatian nasional.
Perjalanan kedua perempuan beda generasi dan kontras latar belakang ini kemudian menjadi semacam perjalanan yang unik, menggabungkan antara imaji politik, kebangsaan yang diguncang-guncang oleh segudang pertanyaan soal spiritualitas. Tak disangka tak dinyana, kisah yang nyaris tanpa konflik ini berujung pada sebuah pertanyaan amat mendalam dan tragis tentang jati diri yang tak pernah dipertanyakan sebelumnya.

7. The Reunion (Anna Olson)
Anna Olson adalah seorang seniman yang dirisak ketika semasa sekolah. Selama sembilan tahun bersama teman-teman sekelasanya, ia selalu dikucilkan dan dijadikan bahan olok-olok sampai batas yang nyaris tak tertahankan. Sampai tibalah sebuah reuni, dan Anna menyatakan ingin berbicara di depan teman-temannya itu, mengkonfrontasi pengalaman masa kecilnya itu saat mereka justru sedagn mengenang masa kecil yang mereka anggap polos dan menyenangkan. Maka Anna menjadi gangguan yang serius dalam pesta itu. Seseorang dari mereka sampai menangis. Bahkan celakanya Anna tak mau diam sekalipun sudah didorong dan terjatuh, sampai harus diangkat beramai-ramai dan dilontarkan ke dalam taksi.
Namun kejutan sesungguhnya justru terjadi di bagian kedua film ini ketika kita dibawa kepada tema konfrontasi sesungguhnya. Dengan metode penceritaan film ini, The Reunion seperti sedang memperlihatkan bahwa kebenaran memang bisa amat bergantung pada ingatan dan terutama pengalaman masing-masing orang. Dan jika memang kita memilih untuk percaya seperti itu, bersiaplah bahwa jangan-jangan kebenaranya sesungguhnya hanya proyek yag sedang dipersiapkan saja oleh orang lain untuk kita.

6. Snowpiercer (Bong Joon-Ho)
Diadaptasi dari komik Le Transperceneige karya Jacques Lob, Benjamin Legrand and Jean-Marc Rochette, film ini mengingatkan pada Heart of Darkness, novel pendek karya Joseph Conrad yang menjadi sumber film Apocalypse Now karya Francis Ford Coppola. Bedanya perjalanan menyusuri sungai pada film/novel itu diganti dengan menyusuri sebuah kereta cepat yang terus bergerak dalam situasi pasca-kiamat, demi menghindari kepunahan abadi manusia. Di luar, cuaca sudah berubah karena musim dingin abadi menguasai bumi dan peradaban manusia hanya tersisa di kereta api cepat yang bergerak dengan mesin perpetual-motion, yang bertentangan dengan hukum termodinamika, untuk menegaskan sifat utopis film ini.
Sepintas, film ini seperti sebuah etalase bagi kekerasan dan perpanjangan bagi adegan perkelahian dengan martil pada Old Boy. Namun sutradara asal Korea, Bong Joon-Ho, sedang menyajikan sebuah komentar amat pahit tentang elemen-elemen paling dasar dari peradaban itu sendiri, dimana sebuah sistem yang kompleks dan mengeksploitasi manusia satu sama lain tak terhindarkan untuk terbangun juga, bahkan ketika umat manusia sedang berada dalam sebuah kondisi survival. Inilah dongeng Dewaruci masyarakat liberal modern, ketika pencarian diri yang panjang dan melelahkan tak akan pernah bisa lepas dari pertemuan struktur sosial dan politik yang amat memaksa.

5. Citizen Four (Laura Poitras)
Sutradara Laura Poitras berada di tengah-tengah pusat badai untuk melaporkan apa yang kemudian dikenal sebagai sebuah tornado besar bernama skandal penyadapan oleh NSA terhadap warganya sendiri, serta beberapa pemimpin negara sahabat Amerika. Ia memfilmkan saat-saat wartawan Glenn Greenwald baru saja mendapat bocoran dari Edward Snowden, pegawai kontrakan NSA yang kemudian menjadi seorang whistle blower paling terkenal hingga saat ini. Maka film documenter ini bagaikan sebuah political thriller, yang lintas batas, dari Hongkong, Rio de Janeiro, Washington DC, London hingga Berlin.
Dua hal segera terungkap lewat film ini. Pertama, kultur paranoid yang ada dalam teori konspirasi ternyata benar adanya. Kedua, documenter ini seperti mengingatkan sebuah garis depan baru seputar hak politik warga negara. Kebebasan sudah berganti nama menjadi privasi, karena negara modern dalam war on terror memang sudah berubah karena dalam kondisi ini berlaku prinsip: semua orang dinyatakan bersalah, kecuali apabila terbukti berbeda.

4. Under The Skin (Jonathan Glazer)
Pendaratan makhluk angkasa luar jangan-jangan sudah terjadi secara diam-diam tanpa lampu berkilauan yang turun dari langit, dan terjadi di kota yang agak jauh dari pusat perhatian dunia seperti kota Glasgow. Maka, tak ada gambar sekelompok orang berpakain putih-putih dan steril yang menegaskan figur “ilmuwan” (seperti di film E.T) yang meneliti makhluk angkasa luar itu, juga tak ada adegan penghancuran Gedung Putih (Independence Day atau parody Mars Attack). Mendarat dan hidupnya alien di tengah kita adalah semacam peristiwa kecil ketika seorang perempuan cantik (diperankan Scarlet Johansson) tiba-tiba menunjukkan minat seksualnya kepada orang-orang bertampang biasa (atau bahkan buruk rupa) di tepi-tepi jalan.
Melalui kisah alien ini, Jonathan Glazer sedang merenung tentang manusia dan ketiadaan “pusat” dalam peradaban manusia, sebuah antitesis dari gagasan antroposentrisme dan kegagalan saintifik manusia ketika sedang mencari kehidupan di dunia lain dan memahami makhluk lain. Ternyata jangan-jangan pusat itu adalah anonimitas tubuh individu-individu yang dipilih secara acak, maka masih bisakah itu disebut sebagai pusat?

3. Gone Girl (David Fincher)
Sesudah Se7en dan Zodiac, buat saya inilah film David Fincher terbaik. Diadaptasi dari buku berjudul sama karya Gillian Flynn, film ini bagi saya bukan hanya berkisah tentang – mengutip seorang teman –ironi ketidaktulusan institusi pernikahan pada abad keduapuluh satu, tetapi juga tentang berkelindannya bangunan narasi antara yang individu dan yang sosial. Ketidaktulusan itu jangan-jangan bisa menjelaskan motivasi individu-individu yang ada dalam film ini, tapi bagaimana mereka niat itu dijalankan, ada pemahaman yang amat baik mengenai srategi dan taktik menjalankan hal tersebut. Strategi berkaitan dengan pemahaman bagaimana dunia sosial bekerja, yaitu mengandalkan pada prasangka, asumsi, stereotip dan segala hal yang menjadi landasan bagi hubungan-hubungan yang lebih kecil dalam hidup sehari-hari. Di situlah taktik bekerja, yaitu ketika hal-hal praktis diakali dalam detil demi detil guna mencapai efek yang diinginkan.
Buat saya, film ini bisa jadi sebuah komentar bagi dunia baru kita, bukan sekadar sebuah dunia dimana yang privat dan yang publik sama sekali tak bisa dipandang terpisah, tetapi juga sekaligus dipengaruhi oleh narasi dan kontra-narasi (dan mungkin kontra-kontra narasi) yang, tak bisa tidak, menjadi bagian dari cara kita memahami dunia. Dan pada akhirnya pencarian terhadap kebenaran hanya akan membuat kita tiba versi demi versi dari “mana yang paling benar”, demikian terus bagai siklus tak terputus. Ya, dunia kita sekarang memang amatlah kompleksnya.

2. A Story of Children in Film (Mark Cousin)
Film esei ini sebenarnya merupakan sebuah pengantar bagi program sebuah festival film yang menayangkan penggambaran anak-anak di dalam film. Namun apa yang dibuat oleh kritikus sekaligus pembuat film Mark Cousin ini amat luar biasa. Ia menggunakan potongan-potongan film dari berbagai film tentang anak-anak untuk mengungkapkan sebuah renungan panjang tentang film, anak-anak dan perkembangan dirinya sendiri.
Kekuatan film ini ada dua. Pertama, pemilihan film-film untuk (untuk dijadikan montage dan juga ditayangkan di festival itu sendiri) ini luar biasa, mulai dari yang amat terkenal seperti E.T (Steven Spielberg, USA, 1982), 400 Blows (Francois Truffaut, Prancis, 1959) hingga harta terpendam seperti Tomka and His Friends (Xhafinze Keko, Albania, 1977). Saya menyimpulkan pilihan semacam ini hanya bisa dihasilkan oleh pembuat film dan kritikus seperti Mark Cousin, tidak yang lain. Kedua, kecintaan Cousin terhadap sinema terasa sekali meluap-luap dan ia membagikannya kepada penonton penuh gairah dan renungan sekaligus, membuktikan kekuatan utama sinema sebagai seni yang mampu membuat penontonnya tersesat di dalamya, bagai ungkapan kritikus terkenal mendiang Pauline Kael.

1. The Iron Ministry (J.P. Sniadecki)
Berangkat dari tradisi yang sama dengan Sensory Ethnography Lab, Universitas Harvard, film dokumenter juga mengandalkan pada efek persepsi sensori dan tema yang bersifat sehari-hari. Namun The Iron Ministry tampaknya tidak menginginkan kata ‘konsisten’ menjadi bagian dari formula yang dipakai dalam menyusun film ini, karena terasa sekali film ini begitu eklektik, campur aduk, baik secara naratif maupun dalam pengambilan dan penyusunan gambar-gambarnya. Terkadang film ini bagai pengamatan yang dalam tanpa dialog, tetapi kadang merekam percakapan yang anekdotal, bahkan sesekali si filmmaker (orang Amerika yang fasih berbahasa Cina) bertanya kepada subyek dalam filmnya bagai seorang wartawan.
Film ini menceritakan perjalanan dengan kereta api di Cina, dibuat dalam waktu 3 tahun dalam berbagai macam kereta dan perjalanan, mulai dari kereta yang kumuh dimana penumpang tidur di lantai hingga kereta mewah dengan penumpang berpakaian mentereng. Snediacki memulai dengan pengambilan gambar berlama-lama (long take), tapi ia seperti tidak sabar sendiri. Kameranya mulai bergerak dan menyapu sekitar, tiba pada benda-benda yang ‘penting’ dalam konteks cerita di atas kereta, seperti daging dan lemak binatang yang dibawa masuk ke dalam kereta, anak kecil yang meniru pengumuman kereta dengan gaya bicara formal (tapi isinya ngawur), hingga percakapan antara penumpang beragama Islam dengan penumpang lain tentang kerukunan beragama di Cina(!). Snediacki ikut serta di dalam narasi sebagai seorang yang mengamati dan bertanya-tanya, seperti sedang mengisi waktu ketika sedang melakukan perjalanan bersama dan merasa bosan karena panjangnya waktu perjalanan. Problem kelas dan komentar sosial politik muncul juga dalam berbagai adegan semisal penggambaran kereta mewah, perbandingan gerbong restorasi, dan juga percakapan para pemuda tentang reformasi di Cina dan keinginan untuk beremigrasi karena problem lingkungan hidup yang parah.
Dengan gaya yang sulit terumuskan ini, Sniadecki seperti sedang merumuskan ulang esensi mengenai apa yang dianggap “sinematik” dalam film dokumenter. Ia tak seperti Flaherty yang berlaku sebagai seorang petualang mengunjungi bangsa terpencil, eksotis dan menyajikannya dengan cara mengklaim bahwa yang direkamnya adalah faktual. Ia juga tidak mengusahakan representasi lengkap tentang Cina kontemporer lewat filmnya. Bagi saya, ia sedang memperlihatkan bahwa proses perekaman dan penyuntingan pada film dokumenter mungkin hanya bisa mencapai pemahaman yang bersifat keseharian dan hanya bisa dipersepsikan secara terbatas. Serupa belaka dengan pengalaman seorang penumpang kereta juga terbatas dan tidak konsisten.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s