Cynthia Rothrock dan Orang Gila

image

Salah satu malam tahun baru paling berkesan buat saya adalah nonton marathon di paket “old and new” di bioskop jaman dulu. Biasanya 4-5 film dlm satu malam. Malam tahun baru 1984 saya nonton bersama guru SD saya. Saya sudah SMP ketika itu dan kami sudah menjadi teman. Beda usia kami sekitar 15 tahun.

Saya tak ingat bioskop apa, tapi rasanya saya melewati Monas untuk mencapainya. Bioskop itu mewah, lebih mewah daripada bioskop yang biasa saya datangi ketika itu seperti Wira atau Viva di kawasan Tebet.

Kami masuk tanpa tiket. Saya tak paham sepenuhnya apa dan bagaimana. Yang saya tangkap selintas adalah, guru SD saya itu dibawa oleh “pamannya” yang tampaknya biasanya “menjaga keamanan” di kawasan bioskop tersebut. Saya sempat melihat perdebatan antara orang-orang yang saya rasa manajer bioskop itu dengan “paman” dari guru saya ini. Perdebatan berlangsung agak lama sampai kami jadi pusat perhatian, tapi akhirnya kami bisa masuk. Saya tak melihat ada uung keluar dari pihak kami untuk membeli tiket.

Malam itu kami menonton 4 film dan saya tentu lupa judulnya. Yang saya ingat, salah 2 dari film malam itu dibintangi Cynthia Rothrock, aktris laga pirang asal Hong-Kong yang terkenal dengan tendangan tingginya. Saya senang melihat ia menghajar orang-orang jahat.

Selesai menonton sudah nyaris subuh. Ternyata “paman” dari guru saya tak ikut nonton dan tinggal saya saja berdua dengan guru saya itu. Kami tak bisa pulang karena belum ada bis beroperasi sepagi itu, dan kami tak bawa kendaraan sendiri. Lalu saya ingat betul guru saya itu berjalan ke trotoar jalan lalu duduk begitu saja tanpa alas. Tak lama ia pun berbaring di trotoar jalan dan bilang ke saya, ‘tidur lah dulu’. Saya bengong mendengar perintah itu. Ingin protes tapi saya lihat guru saya sudah memejamkan mata. Saya akhirnya memutuskan untuk berbaring sesudah mendengar suara dengkur guru saya, sementara tak jauh dari saya seorang berpakaian compang camping ngomong sendirian. Orang gila, pikir saya dalam hati, separuh ketakutan. Tapi saya berhasil mengabaikan orang gila itu dan berbaring seperti anak kucing.

Saya tak ingat berapa lama saya tidur, hanya ingat guru saya mengguncang-guncang badan saya. Hari sudah terang dan jalan sudah ramai. Kepala saya sedikit pusing. Kami pun berjalan ke arah stasiun bis terdekat dan segera pulang. Sepanjang jalan tak ada yang kami bicarakan.

Rasanya itu adalah pengalaman tahun baru dan pengalaman nonton paling berkesan buat saya. Tiga puluh tahun kemudian saya masih bisa mengingat beberapa detil dengan amat jelas.

Selamat tahun baru!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s