Film Dokumenter 2014: Sacro GRA (Gianfranco Rossi)

Sacro GRAManusia mungkin mempengaruhi lingkungan fisik mereka, tapi film dokumenter yang lebih mirip film esei ini ingin menyatakan sebaliknya. GRA di sini adalah Grande Raccordo Anulare atau jalan lingkar utama yang mengelilingi kota Roma. Rossi memperlihatkan seakan jalan itu punya kualitas suci sehingga manusia-manusia yang hidup di sekitarnya patut untuk direkam dan disajikan kepada penonton ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari.

Namun keseharian orang itu bukan semata bunga rampai yang acak. Untuk subyek-subyeknya, Rosi seperti sedang membuka toko pakaian dan memilih manekin-manekin yang amat sangat tidak biasa untuk ia pajang di etalase. Orang-orang yang direkamnya adalah: seorang nelayan belut yang ngomel-ngomel dengan sebuah liputan koran tentang penangkapan belut, seorang petugas ambulan yang ibunya mulai pikun, penari erotis di rumah minum remang-remang pinggir jalan, penghuni rumah susun yang ingin jadi DJ, dan, yang paling unik buat saya: seorang perekam suara larva serangga di pohon palem. Orang-orang ini direkam ketika melakukan kegiatan keseharian mereka, tapi karena keunikan mereka, Rosi seperti sedang menyajikan sebuah karnaval dengan para peserta yang memakai kostum beraneka ragam.

Inilah narasi yang tidak sedang mengarahkan penonton untuk mengidentifikasi diri dengan karakter di dalamnya. Juga tidak usaha untuk memberi perspektif atau pemahaman tentang apa dan bagaimana dunia yang ada pada orang-orang itu (dan karenanya juga dunia kita ini) bekerja. Jika ada yang ingin diwakili oleh film ini, tampaknya Rosi ingin menghadirkan kota Roma dari wajah yang lain sama sekali dari apa yang digambarkan dalam banyak sinema tentangnya. Berbeda dengan gambaran kota Roma di The Great Beauty (Sorrentino, 2013) bahkan juga berbeda dari Roma, Open City (Rosselini, 1945), ibukota Italia ini tampil sebagai sebuah daerah pinggiran yang identitasnya tampak tak terdefinsikan.

Saya sendiri tak kelewat berminat melihat film ini sebagai bagian dari usaha merepresentasi wajah lain kota Roma. Saya merasa bahwa film ini mirip sebuah lamunan panjang tentang kenyataan-kenyataan dan orang-orang yang sulit dipahami secara selintas, tapi pada saat yang sama juga terasa akrab pada momen-momen tertentu. Bagi saya ajakan melamun yang dibawa oleh film semacam ini amat menarik, sekalipun saya tak ingin terlalu lama berada dalam keadaan seperti ini.

Catatan: film ini menjadi film dokumenter (atau non-fiksi) pertama yang meraih penghargaan Sapi Emas di Festival Film Venesia 2014 lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s