Film Dokumenter 2014: Manakamana (Stephanie Spray, Pacho Velez)

ManakamanaFilm dokumenter ini dibuat oleh kedua sutradara yang termasuk dalam kelompok Sensory Ethnography Lab dari Universitas Harvard. Mereka mencoba untuk membuat film dengan pendekatan baru dalam merangsang sensori persepsi kita. Jika film-film Hollywood (dengan puncaknya Transformer dan film-film Michael Bay) mengandalkan pada efek sensori yang bombastis dan spektakuler serta elemen naratif yang berpusat pada penyelamatan dunia, kelompok ini mengajukan sesuatu yang sama sekali bertolakbelakang, yaitu keseharian yang diabaikan sama sekali dalam kriteria apa-apa yang dianggap ‘sinematis’ dalam pengertian sinema (Hollywood) klasik. Orang-orang yang direkam nyaris acak (atau alasan pemilihan mereka tak tersaji secara eksplisit buat kita) dan elemen naratif film ini adalah keseharian yang membuat kita bertanya apa pentingnya bagi kita untuk menyaksikan wajah-wajah orang dan percakapan sehari-hari seperti ini.

Kedua filmmaker ini menempatkan kamera secara statis dalam sebuah kereta gantung yang menuju ke kuil Manakamana, sebuah kuil di Nepal yang terletak di puncak sebuah gunung. Satu adegan tersusun dari perjalanan dari satu terminal ke terminal lain ditandai dengan layar yang menghitam sebagai transisi yang terjadi ketika kereta gantung itu memasuki stasiun dan tak ada koreksi terhadap pencahayaan sehingga layar hitam total. Maka transisi perubahan penumpang di dalam kereta seakan terjadi alamiah sekalipun dari ragam penumpang yang muncul di layar kita tahu bahwa ada pemilihan, ada editing, yang membuat pilihan jadi beragam. Perhatikan misalnya ketika beberapa ekor kambing muncul di layar sebagai subyek yang melakukan perjalan dengan kereta gantung itu. Apakah kambing dan manusia sama saja maknanya dalam persepsi sensori kita? Apakah kambing yang mengembik kaget di kereta gantung itu melonjak, harus dimaknai sama dengan beberapa anak band berambut gondrong, berkaos hitam dan sibuk ber-selfie sambil ngoceh tentang penampilan rekan mereka di pentas ini dan itu?

Saya tak ingin terlalu cepat menyebut film ini sebagai post-humanis cinema, tetapi saya setuju jika film ini menggabungkan antara manusia dengan lingkungannya (termasuk pemandangan indah di luar kereta gantung itu) sehingga membuat manusia agak tidak signifikan. Bagi saya, inilah film yang benar-benar memberi tantangan pada persepsi sensori saya karena saya dibiarkan untuk mendengar dan memandang baik-baik pada film ini, agar bisa menangkap sesuatu darinya. Catatan iseng saya, ingin juga saya menonton film dokumenter ini dalam format 3D IMAX. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s