10 Film Favorit Saya Tahun 2013

Ini daftar 10 film favorit saya sepanjang tahun 2013 ini. Silakan:

2013 - Stranger_by_the_Lake10. Strangers by the Lake (Alain Guiraudie)

Kerja kamera begitu santai, seperti tak berniat mengungkapkan drama apapun. Namun danau yang besar dan indah di musim panas pastilah sebuah lokasi penting bagi peristiwa yang mampu mengguncang persepsi kita. Di tepi danau itu, para lelaki homoseksual mencari pasangan. Konvensi tentang seks berjalan begitu tak lazim di tepi danau itu. Berganti pasangan atau tetap dengan satu pasangan saja, amat bergantung pada masing-masing orang. Kehidupan seks promiskuis, kesetiaan dan kecabulan berjalan beriring. Semua itu dilakukan oleh Alain Guiraudie tanpa sensasionalisasi. Ia memang sedang menggunakan sinema sebagai pelanggar tabu, dengan memperlihatkan adegan seks dan alat kelamin laki-laki yang tampak jelas di layar. Lewat kisah pembunuhan dan gelora seks, akhirnya film ini tak hanya mempertanyakan mengapa para tokohnya yang mengambil keputusan mengherankan dalam film, tapi juga kita sendiri tentang apa yang dianggap wajar dan tidak seputar soal konvensi tentang seks.

2013 - Frances-Ha9. Frances Ha (Noach Baumbach)

Di pertengahan usia 20-an, Frances tak tahu persis apa yang diinginkannya. Bahkan ia mungkin tak mengerti apa yang tak diinginkannya. Namun Frances tetap penuh mimpi dan angan-angan, sampai akhirnya ia harus kompromi terhadap keterbatasan yang dihadapinya. Inilah kisah bagaimana keterbatasan-keterbatasan membentuk mimpi dan aspirasi, hingga akhirnya orang harus realistis dengan apa yang mampu diraihnya. Dalam fotografi hitam putih dan editing yang tak mulus, Noach Baumbach seperti sedang mencoba menyajikan gambaran kebingungan kelas menengah Amerika ketika individu di dalamnya sedang mencoba masuk ke dalam lingkaran itu. Bisa jadi orang seperti Frances adalah diri kita sendiri, atau malah bukan orang yang ingin kita jadikan sahabat jika kita temui dalam hidup sehari-hari, tapi kita tahu bahwa lewat orang seperti Frances kita bisa mengerti hal-hal yang enggan kita akrabi.

2013 - stories we tell8. Stories We Tell (Sarah Polley)

Sarah Polley mencoba melacak sejarah dirinya sendiri sebagai seorang anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan. Ia mengumpulkan rekaman dokumentasi film keluarganya dan menyusunnya dengan peragaan ulang ibunya, Diana Polley dan ayahnya Michael Polley. Berpusar pada kehidupan mereka sewaktu muda, Sarah mencoba mengkonfrontir kenangan dan pandangan orang tentang asal-usul dirinya sendiri. Lewat rekonstruksi yang rumit ini, saya merasa diajak memasuki sebuah wilayah pencarian jati diri yang penuh dengan cermin untuk memantulkan refleksi diri sendiri. Kenyataan jadi rumit karena berpadu dengan kenangan dan persepsi yang tak mungkin ditapis dari fakta, bahkan mungkin fakta tidak pernah benar-benar merupakan fakta karena ia adalah kenangan dan persepsi yang diobyektifikasi: dinyatakan dan direkam dan terlepas dari pembicaranya.

2013 post tenebras lux7. Post Tenebras Lux (Carlos Reygadas)

Koherensi memang bukan departemen yang diutamakan dalam cerita film ini, dan hal itu kerap menjadi salah satu ciri film buatan sutradara asal Spanyol, Carlos Reygadas. Dengan menggunakan idiom-idiom agama, Reygadas biasanya bercerita tentang pedalaman hidup manusia yang berkaitan erat dengan soal seks, kematian dan penebusan dosa demi mencapai kesejatian hidup manusia. Kali ini terasa bahwa tema itu jauh lebih longgar, dan Reygadas mendahulukan fragmen-fragmen tak beraturan dan tak berurutan dengan visualisasi yang kuat. Menonton film ini akhirnya seperti memandangi lukisan ekspresionis yang menimbulkan kesan pada tarikan garis kuat dan warna serta motif yang tegas, ketimbang narasi yang muncul dari soal-soal konvensional film semisal plausibility dan koherensi plot.

2013 - fruitvale station6. Fruitvale Station (Ryan Coogler)

Buat saya film ini amat mengingatkan pada Elephant (2003, Gus Van Sant) yang berkisah mengenai penembakan Columbine. Persamaannya adalah pada kamera dan penceritaan yang amat santai tentang keseharian tokoh utamanya sampai cerita berpuncak pada momen dramatis yang tak ada bandingannya. Ini terjadi karena dua hal. Pertama, momen itu bersumber dari kisah nyata yang memang amat dramatis. Kedua, momen itu sudah menjadi bagian keseharian orang Amerika karena besarnya perhatian orang dan media terhadapnya, termasuk representasi peristiwa itu sendiri di dunia maya. Akhirnya struktur penceritaan semacam ini mengingatkan bahwa kehidupan nyata itu pada dasarnya sudah amat dramatis adanya.

2013 - beyond the hills5. Beyond the Hills (Christian Mingui)

Mempertanyakan peran agama di abad keduapuluh satu, ketika Eropa sedang terjangkit problem besar bernama migrasi penduduknya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Alina baru saja kembali dari Jerman, menemui teman dekatnya, mungkin pacarnya, Voichita yang sudah tinggal di biara khusus perempuan. Di biara Kristen Orthodox itu, Alina segera menjadi persoalan karena ia hanya berpikir dengan cara maju ke depan; tak bisa melingkar atau bercabang. Segera benturan demi benturan terjadi hingga ke titik ekstrem yang mengakibatkan akhir yang tragis. Dengan alur penceritaan yang begitu natural dan akting istimewa, film seperti ini seperti mengingatkan bahwa fungsi sinema untuk mempertanyakan hal-hal besar sambil mau tak mau membuat film yang disajikan oleh pusat industri terkemuka berubah jadi semacam industri kalengan dengan formula basi yang diulang-ulang.

2013 - Upstream Color4. Upstream Color (Shane Carruth)

Jika film ini disebut sebagai terpengaruh Terrence Malick – dalam pengertian positif – rasanya tak berlebihan sekalipun ambisi Shane Carruth terasa sedikit berbeda. Jejak Malick jelas terasa pada gambaran waktu yang melingkar, ketimbang linear, terutama dalam hubungan antara dua tokoh utama dalam film ini. Kita tak terlalu bisa membedakan (dan rasanya juga tak kelewat peduli) apakah mereka sedang mengalami masa kini, masa lalu atau masa depan. Lanskap luas sebagai latar yang mempengaruhi perkembangan individu juga bisa dilacak ke Malick. Namun tema fiksi ilmiah dalam Upstream Color menjadikannya lebih dari sekadar peniru (lihat misalnya Ain’t Them Bodies Saint) karena dengan penceritaanya yang elusif Carruth berhasil mempertahankan filmnya menjadi sesuatu yang mempesona dan indah. Gambar dan warna dalam film ini jadi terasa visceral, seakan membangkitkan indra penglihatan untuk menjadi lebih aktif menikmati elemen-elemen dasar sinema itu. Pengalaman memuaskan dan menakjubkan.
2013 - leviathan3. Leviathan (Lucien Castaing-Taylor dan Verena Paravel)

Saya sudah beberapa kali membahas film ini sebagai salah satu penantang bagi penceritaan dalam sinema. Bisa jadi ia terpengaruh, bisa jadi mempengaruhi apa yang perkembangan sinema terakhir yang bersandar pada kapasitas indrawi manusia untuk mencapai pengalaman sinematik yang optimal. Saya merasa menemukan pengalaman itu dalam penceritaan tentang keseharian kehidupan nelayan yang menakjubkan sekaligus mengerikan ini.

2. The Great Beauty (Paolo Sorrentino)2013 - The_Great_Beauty

Apa sesungguhnya keindahan? Penulis Jep Gambardella pernah menulis satu buku yang menjadi karya klasik, tapi ia belum menulis karya apapun sesudah itu. Dari situ ia berhasil masuk ke lingkaran kaum jet set kota Roma. Hidupnya penuh dengan pesta mewah tiap malam, begitu mewah hingga tampak hampa, memalukan sekaligus tak nyata. Inilah sebuah komentar yang mampu menangkap suasana jaman Italia pada era Berlusconi. Lewat sikap anti klerik dan satir yang diajukannya, Sorrentino akhirnya mengkontraskan hidup yang innocent dan penuh gairah usia muda sebagai sebuah antitesis bagi masyarakat kontemporer yang digambarkannya hampa itu.
2013 - the act of killing1. The Act of Killing (JoshuaOppenheimer, Christine Cynn and Anonymous)

Jika Werner Herzog berkata bahwa film ini tidak punya preseden sebelumnya dalam sejarah sinema, ia agak berlebihan karena film seperti Moi Un Noir atau S 21: Khmer Rouge Killing Machine sudah memperlihatkan peragaan ulang yang dilakukan oleh para pelaku pembunuhan. Namun Herzog ada benarnya dalam hal lain: menjadikan peragaan itu sebagai festival yang dirayakan bersama oleh satu bangsa memang belum pernah muncul secara terbuka. Maka film ini merupakan pertanyaan kepada kolektivitas bernama bangsa, kebetulan saja Indonesia. Diletakkan dalam kerangka global, pertanyaan itu jadi meluas sekaligus bercabang terhadap peradaban manusia sekarang ini: pertama, sedalam apa kita mempertanyakan argumen yang dipakai sebagai pembenaran bagi jatuhnya para korban ketika kita membangun peradaban kita; kedua, sampai dimana kita mau berempati pada pembunuh massal untuk bisa mengakui bahwa ada soal inheren dalam diri manusia yang bisa memaklumi (atau bahkan berpartispasi dalam) pembunuhan massal agar hal semacam itu tak terulangi lagi dalam kehidupan manusia sekarang ini?

Keluar daftar: Gravity (Alfonso Cuaron), Nobody’s Daughter Haewon (Hong Sang-Soo), The Selfish Giant (Clio Barnard), Before Midnight (Richard Linklater), Cutie and the Boxer (Zachary Heinzerling), Blue Jasmine (Woody Allen).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s