Nonton Bola di Inggris

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bisa lihat spanduk Arsenal Indonesia di Emirates?

Sebagai seorang penggemar sepakbola, ketika akan berangkat untuk bersekolah di Inggris, saya membayangkan bahwa saya akan banyak menonton olahraga ini di Inggris. Tentu secara khusus saya rutin menonton pertandingan-pertandingan liga Inggris di stasiun TV swasta ketika saya di Jakarta. Saya membayangkan selain menonton di TV, saya akan sesekali menonton pertandingan-pertandingan itu secara langsung di stadion.

Ternyata tidak semudah itu, baik untuk menonton di TV, apalagi menonton pertandingan langsung di lapangan. Menonton sepakbola di televisi di Inggris bukan perkara mudah dan murah. Pertama, untuk menonton TV saja, kita harus membayar iuran TV. Untuk TV berwarna besarnya iuran sekitar £145 setahun. Saya mendapat warisan sebuah TV 20” dari seorang eks warga negara Indonesia yang tinggal di Nottingham ini. Beliau pindah ke Cina sehingga banyak barangnya yang diwariskan, termasuk TV Samsung model lama dengan punggung menonjol besar dan berat. Kalau saya harus membelinya, TV seperti ini bisa saya dapatkan seharga £20 di toko yang menjual barang bekas untuk keperluan amal, milik British Heart Foundation. Namun untuk membawanya ke rumah, saya akan membutuhkan ongkos kirim £20 atau ongkos taxi sekitar £12. Maka TV warisan itu lumayan juga.

Namun sesudah ada TV, bukan berarti saya bisa langsung menonton. Tentu saya membayar iuran TV karena datang surat dari City Council mengingatkan bahwa alamat tempat tinggal saya tak terdaftar sebagai pembayar iuran TV. Kalau sampai saya tertangkap punya TV tapi tak membayar iuran, maka saya berpeluang kena denda yang jumlahnya bias mencapai £1,000. Resikonya terlalu besar, maka jumlah £145 itu pun saya bayarkan dengan skema bulanan.

Iuran TV sudah dibayar, tapi hanya berlaku untuk saluran-saluran gratis, atau yang dikenal dengan freeview. Tahun lalu ketika saya baru datang, saluran untuk menonton liga Inggris dimonopoli oleh Sky TV. Sejak tahun 1999 mereka memonopoli siaran sepakbola di Inggris, baik Barclays Premiere League maupun liga-liga di bawah Football League seperti Championship maupun League One. Untuk League Two, tak ada siaran langsung kecuali lewat saluran radio BBC lokal karena peminatnya kelewat sedikit.

Untuk berlangganan Sky Sport 1 & 2 (plus ESPN) yang menyiarkan BPL dan Championship, setidaknya harus membayar paket sekitar £42 per bulan dengan kontrak minimal 18 bulan, total menjadi £756. Jumlah ini belum ditambah dengan biaya sewa jalur broadband sekitar £14,5 per bulan. Jadi total £1,017 harus keluar untuk urusan menonton BPL di TV. Kesimpulannya, menonton BPL di TV jadi barang mewah.

Cara lain untuk menonton adalah pergi ke pub atau rumah judi dan menumpang menonton di sana. Celakanya saya bukan orang yang akrab dengan budaya minum atau judi, sehingga saya jengah pergi ke tempat-tempat itu. Sesekali saya berkunjung ke pub, tapi hanya mungkin apabila bersama teman. Maka cara ini tak bisa diandalkan untuk menonton rutin.

MOTDAkhirnya untuk urusan menonton siaran langsung sepakbola di TV, saya mengandalkan pada streaming online (sssttt.. ini sebetulnya ilegal). Kapasitas streaming mereka umumnya 200-an Kbps, maka gambarnya pecah-pecah dan terkadang macet. Yang akhirnya lebih saya andalkan adalah ulasan mingguan BPL bertajuk Match of The Day di BBC One. Selain itu ada juga Football League di BBC One yang membahas Championship, League One dan League Two. Tahun lalu Yahoo UK juga membuat rangkuman pertandingan mingguan BPL yang cukup bagus, tapi sejak hak siaran berpindah ke BT Sport, acara itu tak ada lagi.

Pada musim ini, siaran langsung sepakbola BPL pindah ke BT Sport. Mereka berhasil memenangkan tender siaran langsung dengan harga £1.2 miliar. Angka ini adalah rekor baru dalam sejarah liga Inggris dan dampaknya benar-benar menghebohkan. Klub yang berada di BPL kebagian jumlah amat besar dari nilai kontrak ini sehingga mereka bisa belanja pemain gila-gilaan. Untuk pertamakalinya pada musim ini klub-klub semacam Southampton atau Norwich City memecahkan rekor mereka dalam nilai transfer. Southampton mendatangkan Danny Osvaldo dari Roma (£12.8 juta) dan The Canaries merekrut Ricky Van Wolfwinkel dari FC Porto (€10 juta). Pemasukan dari siaran TV ini (belum lagi iklan dan harga tiket dan sebagainya dan sebagainya) membuat klub di divisi Championship ngebet untuk ikutan ke BPL.

Dampak perpindahan dari Sky ke BT Sport bagi saya? Tak ada lantaran saya tak menjadikan BT sebagai penyedia jasa sambungan internet. Saya terlanjur terikat kontrak dengan Virgin Media, dan tak bisa pindah begitu saja kecuali bayar denda yang nilainya nyaris sama saja dengan meneruskan kontraknya. Padahal BT menjanjikan siaran gratis lewat saluran pita lebar bagi pelanggan mereka. Nilainya Antara £10 sampai £18 per bulan. Tak buruk sebetulnya, tapi saya sementara ini saya harus menunggu sampai kontrak Virgin Media saya selesai sebelum pindah ke mereka.

Bagaimana dengan cita-cita saya menonton langsung pertandingan sepakbola di stadion?

Saya sudah menduga bahwa prosesnya tak akan mudah dan murah, tetapi ternyata lebih sulit daripada yang saya duga.

10 Ian Holloway 2
Ian Holloway ketika masih menangani Crystal Palace, bertanding melawan Nottingham Forest di City Ground, markas Forest

Di kota tempat saya tinggal, ada dua klub sepakbola yaitu Nottingham Forest dan Notts County. Keduanya lumayan istimewa. Nottingham Forest pernah menjadi juara Eropa dua kali berturut-turut tahun 1979-1980 ketika dipimpin manajer Brian Clough. Fragmen hidup Clough pernah difilmkan dengan judul The Damned United. Film ini mengambil momen ketika Clough menangani Leeds United (yang dianggap titik terendah karir Clough sebelum akhirnya ia berhasil membahwa Forest juara Eropa). Film ini tak terlalu disukai oleh penggemar Nottingham Forest karena amat mengecilkan arti Forest dengan menyebutnya sebagai “klub kampung” (provincial club) di penghujung film. Nottingham Forest kini berkompetisi di Championship, satu kasta di bawah Premiere League.

Sosok Brian Clough sendiri dijadikan pahlawan di Nottingham. Ia dianggap memberi kebanggaan besar kepada kota Nottingham dengan piala Eropa itu, sehingga patungnya didirikan di pusat kota Nottingham, lengkap dengan kutipan kata-katanya yang terkenal. Selain itu, di Waterstone di Nottingham, ada satu rak khusus yang isinya hanya buku biografi Brian Clough saja.

Sedangkan Notts County tidak seterkenal Forest. Tetapi jika orang membicarakan sejarah sepakbola Inggris tentu akan menyebut nama klub ini karena inilah klub sepakbola tertua di Inggris. Notts County berkompetisi di League One, dua kasta di bawah Premiere League. Klub ini adalah klub yng punya hubungan dengan Juventus. Seragam mereka serupa dengan Juventus, dan seorang pendukung Juventus asal Indonesia yang sedang belajar di Inggris dengan sengaja niat berkunjung ke Nottingham untuk menonton Notts County bertanding.

Dengan kedua klub itu, saya memutuskan untuk menonton Nottingham Forest secara berkala. Tidak kelewat reguler karena selain harga tiketnya lumayan, juga ada tugas-tugas kuliah. Harga tiket lepasan mereka musim lalu adalah £25-30 per pertandingan. Harga ini jelas lebih mahal ketimbang tiket terusan satu musim yang berkisar antara £300-600, yang bisa mencakup seluruh pertandingan sepanjang musim itu. Namun karena saya tak bisa membuat komitmen untuk satu musim, saya membeli tiket lepasan saja, dengan syarat harus menjadi anggota kelompok pendukung klub. Pendaftarannya gratis, paling banter kita dikirimi email atau surat promosi klub, dan saya tak keberatan akan hal itu.

Bagaimana dengan pertandingan klub-klub BPL? Tentu sejak awal saya mengincar pertandingan mereka, terutama klub besar dengan seragam merah, seperti Manchester United dan Arsenal (oh, saya bukan pendukung Liverpool, sekalipun tak keberatan juga menonton mereka). Namun untuk bisa menonton mereka langsung di lapangan bukan perkara mudah. Pertama, harga tiket mereka mahal. Arsenal dan ManUtd menjual tiket lepasan dengan harga £40-70. Untuk bisa membelinya, kita harus mendaftar jadi anggota klub suporter, dengan biaya pendaftaran £40 (Arsenal) atau £30 (ManUtd). Jika mau membeli tiket tanpa harus menjadi anggota, bisa saja membeli tiket yang namanya Match Day hospitality. Harganya? Paling murah  £199, sekalipun ini ditambah dengan jamuan makan siang ditemani legenda-legenda klub.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAHarga-harga itu membuat saya kesal dengan klub-klub besar itu. Namun saya berpikir ini kesempatan sekali seumur hidup, maka saya memaksakan diri merogoh tabungan untuk menjadi anggota, demi untuk bisa membeli tiket. Saya akhirnya bisa membeli tiket menonton Arsenal langsung di Emirates musim lalu (mereka mengalahkan Aston Villa 2-1). Untuk mendapatkannya bukan perkara mudah, karena sebagai anggota biasa (bukan anggota premium), saya harus menunggu giliran penjualan tiket lepasan yang tersisa. Loket online dibuka tepat jam 10 pagi, dan biasanya para penggemar sepakbola sudah mengawasinya sejak jauh hari, sehingga dalam 15-30 menit biasanya seluruh tiket terjual. Tepat pada waktu loket dibuka, saya segera membeli 2 tiket (untuk saya dan anak saya, Hatta) dan akhirnya berhasil mendapatkannya.

Sedangkan untuk mendapatkan tiket klub Setan Merah jauh lebih sulit, bahkan nyaris mustahil sekalipun sudah mendaftar jadi anggota biasa. Mereka klub global dengan pemegang tiket terusan BPL di seluruh dunia, dan ditonton sebagai semacam atraksi turisme. Maka untuk bisa mendapatkan tiket BPL, persaingannya adalah persaingan global. Menurut seorang teman, bisa juga mencari tiket ManUtd dngan cara mencari informasi tiket terusan yang tak dipakai. Biasanya pemegang tiket semacam ini tak bisa selalu datang menonton langsung dan menjual jatahnya di pasar sekunder. Namun informasi ini beredar di klub-klub dan kalangan terbatas saja, sehingga saya tak berhasil mendapatkannya.

Namun niat menonton ManUtd tetap kesampaian, sekalipun bukan pertandingan BPL mereka, melainkan pertandingan FA Cup putaran kelima musim lalu. Mereka bertanding melawan Chelsea (seri 2-2).

Satu hal yang saya rasakan ketika menonton klub besar bertanding: sepanjang pertandingan para suporter tak berhenti bernyanyi-nyanyi mendukung klub mereka. Ini berbeda dengan klub-klub yang lebih kecil.

Stadiun Loftus Road, markas QPR
Stadiun Loftus Road, markas QPR

Musim ini saya sempat menonton Aston Villa melawan Newcastle United (skor akhir 1-2), dan tak merasakan atmosfir serupa. Tadinya saya pikir orang-orang Birmingham akan bersorak riuh rendah lebih berisik ketimbang orang-orang London atau Manchester. Ternyata keliru. Mereka menonton dengan tenang, dan hanya berteriak apabila ada aksi yang agak seru. Celakanya para pemain juga memperlihatkan permainan yang buruk dan tak menggairahkan. Klub seperti QPR (saya menonton langsung musim lalu, putaran keempat FA Cup melawan West Bromwich Albion) juga serupa, tak terlalu bergairah. Akhirnya memang itu yang membedakan: klub besar ternyata lebih bergairah ketimbang klub kecil.

Namun saya sudah terlanjur patah arang dengan klub-klub besar itu lantaran urusan membeli tiket tadi. Untuk klub seperti Aston Villa, saya bisa mendapat tiket mereka dengan harga £17 lewat situs viagogo yang jadi situs resmi penjualan tiket mereka. Terkadang situs itu jadi pasar sekunder, sehingga harganya bisa jatuh sampai £10. Lewat situs klub, harga termurah biasanya sekitar £23 untuk pertandingan dengan klub kecil lain. Namun untuk pertandingan dengan klub besar, harga bisa melambung. Saya sempat mengincar pertandingan Fulham vs ManUtd di markas Fulham, Craven Cottage. Lewat situs viagogo, harga tiket mereka jadi £99, padahal harga sesungguhnya mungkin separuhnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hatta di Emirates. Dia menjadi pendukung Arsenal musim ini.

Jadi untuk bisa mendapatkan tiket untuk menonton pertandingan langsung klub besar itu bagai mendapat lotere bahkan bagi orang Inggris sekalipun. Saya ingat seorang teman yang sempat putus dengan pacarnya lantaran si pacar memaksakan diri menonton pertandingan Arsenal padahal ia sudah janji untuk datang menemani teman saya untuk membuat tugas akhir kuliahnya. Kata teman saya, pacarnya bilang, “ini tiket Arsenal. Kapan lagi bisa dapat tiket Arsenal?”. Teman saya mengerti betul bahwa  memang sulit untuk dapat tiket Arsenal, maka ia mengijinkan. Namun sesungguhnya ia tak rela, maka mereka bertengkar hebat sesudahnya; dan mereka pun berpisah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s