Film Dokumenter Favorit Tahun 2013

Stories we tellTahun 2013, kabarnya, merupakan tahun yang riuh rendah oleh film dokumenter. Setidaknya, majalah The Economist menyatakan tahun ini sebagai kebangkitan film dokumenter, setidaknya di Inggris. Peningkatan penghasilan film dokumenter di Inggris mencapai enam kali lipat daripada tahun sebelumnya. Masih menurut majalah itu, penyebabnya adalah matinya realisme (ditandai dengan film-film sekuel yang berasal dari komik dan film laga berkisar kehancuran bumi) telah mendorong penonton yang lebih serius untuk memilih kisah dan penceritaan yang otentik ketimbang visualisasi yang spektakular dan jalan cerita yang diulur-ulur. Saya termasuk setuju pada dugaan itu, disamping promosi yang juga cukup besar dilakukan sesudah Michael Moore membuktikan kelarisan film dokumenter untuk filmnya, Fahrenheit 9/11.

Tahun 2013 ini saya cukup banyak menonton film dokumenter karena akses yang lebih terbuka. Berikut ini adalah daftar 12 film dokumenter favorit saya tahun ini.

12. Undisputed Truth (Spike Lee)

Film dokumenter sebagai perpanjangan dari stand-up comedy? Sebenarnya dalam film fiksi, kita bisa melihat bahwa film-film Woody Allen adalah perpanjangan dari lawakan-lawakan panggungnya, tapi Undisputed Truth punya beberapa keistimewaan. Pertama, format film ini merupakan lawakan panggung yang ditelevisikan (panggung dan siaran TV bisa saling berganti) ketimbang dramatisasi seperti film-film Woody Allen. Kedua, dan ini yang penting, tokoh utama dalam film ini adalah Mike Tyson, petinju yang popularitasnya mungkin hanya kalah dari Muhammad Ali. Tyson yang dikenal sangar dan berangasan, di film ini ia bisa amat sangat lucu dalam menceritakan kisah hidup dan meledek dirinya sendiri. Satu hal yang ditegaskan di sini: film dokumenter seratus persen adalah pespektif seseorang, dan yang namanya keberimbangan bukan hal yang jadi tujuan penting.

 

11. Blackfish (Gabriela Cowperthwaite)

Sebuah model film dokumenter jurnalisme investigatif klasik yang tak puas dengan apa yang ada di permukaan. Dengan mengikuti kisah hidup seekor paus karnivora jenis orca bernama Tilikum, film ini mengajak kita masuk ke dalam tragedi dan penyembunyian fakta yang berada di balik bisnis hiburan untuk keluarga. Akhirnya film ini tak hanya mengungkapkan kepada publik hal-hal semisal kriminalitas dan penyimpangan dalam kegiatan bisnis, tapi juga mengarah pada soal lebih mendasar tentang apa sesungguhnya biaya yang pantas dikeluarkan untuk sebuah hiburan. Bagai film The Corporation (Mark Achbar) yang mengungkapkan faktor externalities (alias melemparkan resiko kepada pihak ketiga) sebagai sifat alamiah pembentukan korporasi, film ini memperlihatkan bahwa externalities itu bisa berakibat kematian langsung dan berkelindan pula dengan apa yang tak kita persoalkan sehari-hari.

 

10. Hava Nagila: The Movie (Roberta Grossman)

Menceritakan perjalanan sebuah lagu Yahudi berjudul Hava Nagila, mulai dari sebuah lagu rakyat yang kabur asal-usulnya, hingga menjadi ikon budaya pop dan alat bantu bagi peneraan stereotip orang Yahudi di film dan televise; dan akhirnya pemahaman orang kebanyakan. Film ini bisa jadi merupakan sebuah upaya melacak sesuatu yang kabur, tapi ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu: bagaimana mendedah sebuah mesin yang kompleks bekerja untuk menjadikan ritual, tradisi – dan mungkin agama – menjadi bagian dari penjelasan terhadap sesuatu yang lebih rumit dan menantang. Diceritakan dengan humor, film ini menggoda kebiasaan kita yang senang dan puas dengan stereotip.

 

9. Pussy Riot: A Punk Prayer (Mike Lerner, Maxim Pozdorovkin)

Berkisah seputar pengadilan terhadap kelompok musik Pussy Riot di Rusia, yang bisa jadi paling kontroversial di permulaan abad keduapuluhsatu ini, terungkap perlawanan terhadap soal-soal besar yang pasti jauh dari selesai. Mungkin feminisime menjadi ujung tombak di sini, tapi bayangkan kelantangan perempuan-perempuan muda ini dalam memilih estetika mereka dalam menentang hal-hal paling mapan bernama Patriarch dan Vladimir Putin dalam lingkungan sosial politik mereka. Bayangkan dalam sebuah masyarakat yang cenderung meremehkan perempuan dan patriarkal semacam ini para perempuan ini berteriak di tempat-tempat paling dianggap sakral dalam budaya mereka mengupayakan agar perselingkuhan antara agama dan politik dibongkar ke hadapan umum.

 

8. Flaneur #3 (Aryo Danusiri)

Menceritakan mengenai para pengikut Jamaah Rasulullah yang direkam sesudah dakwah usai di Lapangan Merdeka, Jakarta, Indonesia. Mereka masih merubung panggung, berebut air minum (dan mungkin berkah) dari para pendakwah, kaum habib yang biasanya mengaku diri bergaris keturunan dari nabi Muhammad. Yang menarik adalah: hubungan pengikut agama yang taat dan para pendakwah ini dicatat dalam sebuah fase baru oleh Ario Danusiri. Ini dilakukan lewat dua hal peran para pengikut dalam mempengaruhi wajah kota dan masuknya teknologi baru dalam mendefinisikan ketakwaan. Bagi saya, gambaran “human swarm” dari Aryo seperti bercanda dengan sesuatu penting: ketakutan terhadap zombie yang tumbuh dalam tradisi budaya populer demokrasi liberal saat ini. Para jamaah ini tetap manusia dan kehadiran mereka mempengaruhi peradaban kita. Lantas, apakah ketaatan beragama selalu berarti kehilangan kebernalaran?

https://ericsasono.wordpress.com/2013/06/17/para-pengelana-kota/

 

7. Room 237 (Rodney Ascher)

Hubungan manusia dengan sinema kerap menghasilkan kultisme, sebuah pemujaan yang tak tertangkap akal sehat dan pembuat film ini merekam semacam kegilaan itu dengan setia dan berlama-lama. Ia tak mengajak kita memahami kenapa pemujaan itu terjadi atau apakah obyek yang dipuja memang pantas diperlakukan sedemikian. Ascher merekam pemujaan terhadap film The Shining (Stanley Kubrick) yang oleh para pemujanya dianggap sebagai salah satu film paling banyak dimuati kode rahasia. Jadilah film itu dianalisa dan ditelisik dengan cara yang menantang persepsi kita sendiri tentang apa yang sesungguhnya mampu dihasilkan manusia dari proses menonton film. Inilah inti sinema: fetishisme, ketika sesuatu dinilai jauh lebih berharga ketimbang nilai intrinsik yang dikandungnya. Atau justru sebaliknya: tak ada yang intrinsik dalam sinema dan interaksi karya dan penontonlah yang utama. Film ini menyadarkan bahwa jalan keluar dari dilema itu tak mudah, sekalipun pemujaan yang cenderung tak masuk akal itu juga tak ingin kita pelihara.

 

6. The Road: A Story of Life and Death (Marc Isaacs)

Jalan yang dimaksudkan dalam film dokumenter ini adalah jalan tertua di Inggris, tempat yang menjadi saksi sejak jaman Romawi bagaimana manusia terus mendatangi sebuah pusat peradaban yang masih punya denyut hidup yang kuat. Marc Isaacs mengajak kita ke jalan itu dan berhenti sejenak untuk melihat siapa saja yang melakukan perjalanan-perjalanan tersebut, apa yang membuat mereka berada di sana, dan seperti apa mereka berakhir. Di sini, Isaacs tampak setia pada kredonya untuk memberi suara kepada orang-orang yang tak mampu bersuara. Tanpa Isaacs, mereka bisa jadi merupakan orang-orang terlupakan, dan bisa saja mati di flat mereka tanpa diketahui sesiapa selama 3 hari. Inilah keistimewaan Isaacs: ia tak menjadikan orang-orang ini sebagai perangkat bagi gagasannya sendiri, melainkan  membuat mereka menjadi manusia-manusia yang utuh dengan kehidupan dan kematian mereka.

 

5. Seeking Asian Female (Debbie Lum)

Subyek dan pembuat film documenter ini sama-sama menantang persepsi mereka tentang stereotip yang mereka hadapi. Ketimbang semata “othering” alias memandang subyeknya sebagai semata-mata liyan, sang pembuat film mencoba memasuki wilayah pribadi dan mencoba memahami “sang monster” itu sebagai manusia yang punya dimensi beragam dan tak mempan masuk dalam kerangkeng stereotip. Hasilnya menurut saya adalah gambaran yang luar biasa menarik, bukan hanya tentang gagalnya obyektifikasi sang lelaki terhadap perempuan “Timur” dan runtuhnya mimpi ideal sang perempuan terhadap Amerika, tetapi juga satu hal penting lain: intervensi pembuat film terhadap hidup tokoh-tokoh yang dijadikan subyeknya adalah hal yang tak mungkin terhindarkan.

 

4. Stories We Tell (Sarah Polley)

Sarah Polley mencoba melacak sejarah dirinya sendiri sebagai seorang anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan. Ia mengumpulkan rekaman dokumentasi film keluarganya dan menyusunnya dengan peragaan ulang ibunya, Diana Polley dan ayahnya Michael Polley. Berpusar pada kehidupan mereka sewaktu muda, Sarah mencoba mengkonfrontir kenangan dan pandangan orang tentang asal-usul dirinya sendiri. Lewat rekonstruksi yang rumit ini, saya merasa diajak memasuki sebuah wilayah pencarian jati diri yang penuh dengan cermin untuk memantulkan refleksi diri sendiri. Kenyataan jadi rumit karena berpadu dengan kenangan dan persepsi yang tak mungkin ditapis dari fakta, bahkan mungkin fakta tidak pernah benar-benar merupakan fakta karena ia adalah kenangan dan persepsi yang diobyektifikasi: dinyatakan dan direkam dan terlepas dari pembicaranya.

 

3. Cutie and The Boxer (Zachary Heinzerling)

Mengisahkan seniman Jepang Ushio Shinohara dan istrinya, Noriko. Mereka sudah menikah 40 tahun dan tinggal di New York. Noriko bertemu Ushio ketika berumur 19 tahun, ketika itu ia seorang mahasiswa seni. Jatuh cinta, Noriko meninggalkan hidupnya dan memutuskan untuk menjadi istri sekaligus asisten suaminya, seorang seniman yang melukis dengan cara meninju kanvas. Setengah diam-diam, Noriko menggambar komik tentang karakter “cutie” yang ia ambil dari perjalanan hidupnya sendiri dan hubungannya dengan suaminya yang ia sebut sebagai ‘bullie’. Dengan materi yang tersedia sepanjang 4 dekade, film ini mengisahkan tentang upaya menghadapi proses menua beriring dengan warisan macam apa yang bisa diberikan dan pemaknaan terhadap hidup dan hubungan yang sudah berjalan panjang.

 

2. Leviathan (Julien Castaing-Taylor and Verena Paravel)

Film dokumenter ini menurut saya berhasil menjadi penantang serius bagi teknik penceritaan dalam sinema kontemporer. Keberanian para pembuatnya untuk membuat obyek-obyek dalam filmnya tampak asing telah menimbulkan pertanyaan penting tentang fungsi sinema sebagai sebuah perangkat untuk mempertanyakan persepsi tentang realitas dan bagaimana realitas itu dikisahkan. Referensi kepada kisah Moby Dick dalam film ini juga menggali pertanyaan tentang hubungan obsesi manusia dengan pekerjaannya. Maka dengan cara mengasingkan para penonton dengan pekerjaan yang dianggap biasa saja dalam kehidupan sehari-hari, film ini mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendekati kita pada situasi apokaliptik, yaitu ketika kehidupan secara massal berada di ambang batasnya.

 

1. The Act of Killing (Joshua Oppenheimer, Christine Cynn and Anonymous)

Jika Werner Herzog berkata bahwa film ini tidak punya preseden sebelumnya dalam sejarah sinema, ia agak berlebihan karena film seperti Moi Un Noir atau S 21: Khmer Rouge Killing Machine sudah memperlihatkan peragaan ulang yang dilakukan oleh para pelaku pembunuhan. Namun Herzog ada benarnya dalam hal lain: menjadikan peragaan itu sebagai festival yang dirayakan bersama oleh satu bangsa memang belum pernah muncul secara terbuka. Maka film ini merupakan pertanyaan kepada kolektivitas bernama bangsa, kebetulan saja Indonesia. Diletakkan dalam kerangka global, pertanyaan itu jadi meluas sekaligus bercabang terhadap peradaban manusia sekarang ini: pertama, sedalam apa kita mempertanyakan argumen yang dipakai sebagai pembenaran bagi jatuhnya para korban ketika kita membangun peradaban kita; kedua, sampai dimana kita mau berempati pada pembunuh massal untuk bisa mengakui bahwa ada soal inheren dalam diri manusia yang bisa memaklumi (atau bahkan berpartispasi dalam) pembunuhan massal agar hal semacam itu tak terulangi lagi dalam kehidupan manusia sekarang ini?

 

Penantang: Pervert Guide to Ideology (Slavoj Zizek dan Sophie Fiennes), The Great Hip Hop Hoax (Jeanie Finlay), Oxyana (Sean Dunne), Sound City (Dave Grohl), More than Honey (Markus Imhoof). Sangat ingin nonton: At Berkeley (Frederick Wiseman), Manakamana (Stephanie Spray dan Pacho Velez), The Square (Jehane Neoujaim), The Last of the Unjust (Claude Lanzmann).

Advertisements

1 Comment

  1. Salam kenal, senang sekali ada list yang tersusun begitu argumentatif seperti ini.Tak banyak artikel yang menyuguhkan list untuk film film serius.Pilihan anda pun sangat brilliant, terutama dua teratas The Act Of Klling, Leviathan. Kalau boleh memilih juga, Suitcase Of Love and Shame dan Leviathan adalah dokumenter eksperimental kesukaan saya tahun ini. Dan saya juga sedang menunggu Manakamana. 🙂 🙂 great

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s