Film dokumenter favorit: Zidane, A 21st Century Portrait (Douglas Gordon dan Philippe Pareno, 2006)

Buat apa mengikuti pertandingan bola dengan melihat ke satu pemain ini saja sepanjang pertandingan?
Buat apa mengikuti pertandingan bola dengan melihat ke satu pemain ini saja sepanjang pertandingan?

Apa sesungguhnya yang dilakukan oleh seorang manusia jenius yang tak ada bandingannya d dunia pada saat ia sedang berada pada puncak aksinya? Yang ia lakukan adalah berjalan, berlari kecil, mengamati, menggaruk kepala atau hidungnya, mengamati lagi, menendang, berjalan lagi, berlari kecil lagi dan seterusnya selama sekitar 90 menit. Itulah Zinedine Zidane, salah satu pesepakbola paling terkenal dan paling berpengaruh di abad keduapuluh satu dalam film ini. Film ini merupakan rekaman pertandingan Real Madrid melawan Real Sociedad pada tanggal 23 April 2005, dengan mengikuti sudut pandang Zinedine Zidane yang saat itu membela Real Madrid.

Dengan meramu gambar dari 17 kamera, film ini menghasilkan berbagai sudut pandang gambar yang menarik, tapi tak sepenting perannya dalam mengguyahkan persepsi kita tentang apa yang kita anggap kita kenali: pahlawan dan pujaan. Ini terinspirasi dari film sejenis yaitu Football Like Never Before (1971) yang memfilmkan George Best dengan cara yang sama. Pertanyaan yang diajukan: siapa, atau apa, sesungguhnya pahlawan yang terwujud dalam sosok ini? Jangan-jangan ia cuma kumpulan piksel atau garis warna di layar televisi? Atau ia seorang lelaki usia dua puluhan dalam puncak kematangan fisiknya yang berkeliling-keliling lapangan hijau saja di tengah sorak sorai pendukung yang fanatik? Inilah sebuah karya yang mengasingkan, menantang persepsi dan membuat saya bertanya tentang mesin yang berjalan di belakang apa yang kita anggap ‘memang begitu adanya’.

Dari pengungkapan ini, tersingkap bukan hanya penonton film ini dengan Zidane, tetapi juga sorak sorai penonton yang terdengar janggal karena seperti salah waktu dan salah tempat. Lantas hubungan penonton dengan sang pahlawan (atau sepakbola secara keseluruhan sebagai salah satu arena kontemporer pemujaan) jadi lebih jauh, asing dan tak terkenali. Potret Zidane bukan sekadar potret seorang pesepakbola, ia juga potret masyarakat kontemporer dengan waktu luang mereka dan komersialisasinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s