Film dokumenter favorit: The Retel Helmrich Trilogy (Eye of The Day, Shape of The Moon dan Position Among The Stars, [Leonard Retel-Helmrich])

Hidup satu keluarga ini mewakili perubahan besar yang terjadi di satu negara besar bernama Indonesia?
Hidup satu keluarga ini mewakili perubahan besar yang terjadi di satu negara besar bernama Indonesia?

Karya ini sesungguhnya ambisius, ingin menangkap banyak sekali hal mengenai negeri bernama Indonesia dari mikrokosmos sebuah keluarga berbeda agama. Lewat kehidupan tiga generasi di keluarga itu, Leonard Retel Helmrich bercerita tentang keadaan Indonesia dimulai dari perubahan besar yang meruntuhkan Soeharto sehingga kehidupan sesudah perubahan itu, mulai dari soal globalisasi, kemiskinan, menguatnya Islamisasi, korupsi, kriminalitas dan sebagainya. Maka sesungguhnya film ini bertaruh amat banyak karena Helmrich ingin menangkap efek dari konsep-konsep besar itu dalam kehidupan sehari-hari subyeknya, dan hanya dari situlah mikrokomosnya bisa benar-benar bekerja menangkap Indonesia.

Dengan tema seperti itu seharusnya Helmrich menghadirkan sebuah magnum opus yang megah dan riuh rendah oleh gelombang perubahan besar, tetapi hal itu tidak terjadi. Alih-alih, karya ini malah menjadi halus dan penuh dengan kedalaman emosi, lantaran gaya bercerita Helmrich yang personal dan kedalaman emosi. Hal ini terutama dicapai lewat gaya kamera Helmrich yang turut bergerak mendekati subyeknya pelan-pelan untuk mengungkapkan berbagai sisi si subyek, seperti enggan berpindah ke gambar lain sebelum makna lain dari subyek itu terungkap.

Film terakhir dari trilogi ini sempat memicu kepala berita seputar “film tentang kemiskinan di Indonesia menjadi nominasi Piala Oscar”. Saya merasa penggunaan kata “kemiskinan” untuk menyederhanakan kisah keluarga dalam trilogi ini memang penyederhanaan yang berlebihan. Kisah keluarga tiga generasi ini mencakup banyak sekali soal sekaligus: identitas, agama, tekanan sosial, hingga kisah coming of age yang terjadi di tengah perubahan-perubahan sosial politik yang terjadi di sebuah negara besar bernama Indonesia. Potret yang disajikan oleh Helmrich benar-benar intim, nyaris tanpa batas dan begitu spontan. Para subyek seperti tak berjaga sama sekali terhadap kamera sehingga mereka seperti tak punya ruang belakang, tempat mereka merenung dan bersembunyi dari kita, para penonton.

Advertisements

1 Comment

  1. Apa maksud Bung Eric di tulisan ini, bahwa Helmrich itu ‘kebanyakan gaya’ soal pengambilan gambar dan penataan kamera? Jadi unsur lain, terutama cerita dan fokus cerita jadi berantakan dan pada akhirnya film ini jadi semata-mata dokumenter dengan gambar ciamik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s