Film dokumenter favorit: The Act of Killing (Joshua Oppenheimer, Christine Cynn and Anonymous, 2012)

Fantasi orang seperti Anwar Congo bisa menghasilkan sesuatu yang sureal? Jangan-jangan fantasi kita juga begitu..
Fantasi orang seperti Anwar Congo bisa menghasilkan sesuatu yang sureal? Jangan-jangan fantasi kita juga begitu..

Saya ingin memulai pembahasan film ini dengan problem. Perbedaan suara (multiple voice ataupun polifoni) yang ada dalam film ini tidaklah tanpa dosa, melainkan berangkat dari kesenjangan pengetahuan antara subyek dan pembuat film ini. Joshua Oppenheimer, bagai Jean Rouch dalam film-film etnografinya, jelas telah memiliki kerangka berpikir seperti apa Anwar Congo dan kawan-kawan akan ditempatkan dalam spektrum gagasan kehidupan publik, baik domestic, local maupun global. Adi Zulkadri mungkin punya bayangan tentang itu sehingga ia sengaja berpose, membuat Oppenheimer dan kebanyakan penonton merasa getun melihat bahwa pernyataannya tepat dan membuat posisi advokasi film ini jadi demikian kompleks, berlapis dengan soal-soal yang kita tahu tak bisa tersentuh tanpa meruntuhkan gagasan utama peradaban manusia sekarang ini. Namun Anwar Congo adalah titik rendah kesenjangan itu. Ia tahu akan sesuatu, tetapi tak sepenuhnya paham. Mungkin ia tak ingin berpose dan di balik performa yang ditampilkannya, ia punya ruang belakang yang rapuh dan pedalaman yang amat muram. Maka bisa jadi ia merasa ditipu oleh Joshua dan yang terpenting dari situ: kesenjangan pengetahuan ini menyulitkan posisinya.

Problem ini adalah urat tendon Achilles pada The Act of Killing. Joshua Oppenheimer mengubah kesenjangan pengetahuan ini untuk sebuah posisi politik karena ia tahu bahwa hal itu nyaris tak terhindarkan dalam pembuatan film dokumenter. Ia paham bahwa dengan demikian ia malah bisa menghadirkan satu pertanyaan yang menurut saya banyak diluputi oleh para pembahas film ini: apakah kita siap untuk membayangkan diri kita sebagai seorang pembunuh massal yang tak merasa berdosa dan tak bisa juga menemukan jalan penebusan?

Menurut saya, pertanyaan semacam ini belum pernah diajukan sebelumnya oleh sebuah film dalam bentuk seperti ini. Terutama karena The Act of Killing menyajikannya dalam lapisan-lapisan persoalan yang rumit: peragaan ulang dan kesejajaran peragaan ulang itu dengan perayaan terhadap posisi para pembunuh itu di masyarakat dan kehidupan politik Indonesia. Oppenheimer dengan amat cerdas mengambil manfaat dari deficit pengetahuan orang seperti Anwar Congo atau Herman Koto, yang serupa belaka dengan apa yang dilakukan oleh Jean Rouch terhadap Oumaro Ganda pada Moi Un Noir. Apakah orang-orang itu sejak awal tahu bahwa peragaan ulang mereka akan terletak dalam spectrum problem pelanggaran hak asasi manusia dan keheningan global terhadap pembantaian terduga komunis pada decade 1960-an?

Tentu ada problem etika yang amat menarik untuk dibicarakan, dan ini sama panjang usianya dengan perdebatan mengenai polifoni dalam film dokumenter yang tak akan pernah selesai. Tentu Joshua Oppenheimer, seorang pemegang gelar PhD dari Central Saint Martins, London, paham betul akan hal ini dan ia akan menyandarkan argumen etik ini pada perdebatan berusia panjang itu.

Karena ia melihat sesuatu yang lebih penting, dan inilah yang membuat The Act of Killing menjadi karya yang jenius. Ada defisit moral yang terlihat pada orang-orang seperti Gubernur Sumatra Utara, Sjamsul Arifin, pengusaha Haji Amin, wakil presiden Jusuf Kalla, sampai pembawa acara TVRI Medan. Apakah Indonesia, baik manusianya maupun secara sistemik berjalan berlandaskan deficit moral seperti itu lantaran kita tak pernah menuntaskan soal di masa lalu hingga kini? Kita bisa berdebat keras soal itu: apakah keseluruhan Indonesia atau beberapa hal yang bersifat publik saja yang ternoda oleh deficit itu? Di sinilah film dokumenter adalah konstruksi pembuatnya, dan bukan sepenuhnya representasi kenyataan. Joshua membangun argument bahwa seluruh bangsa Indonesia dan system sosial politiknya mengalami deficit moral, bukan hanya oleh pembunuhan massal yang terjadi pada decade 1960-an, tetapi juga oleh dipeliharanya dalih pembunuhan itu dalam cerita, dongeng dan penjelasan siap pakai mengenai bangsa ini. Maka mensikapi film ini bukanlah soal apakah argumen Joshua benar atau tidak, tetapi apa konsekuensi  Indonesia sebagai bangsa tak kunjung juga menuntaskan soal-soal mendasar seperti itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s