Film dokumenter favorit: Nothing but Time (Alberto Calvacanti, 1926)

Siapa melihat siapa? Motif mata seperti ini berulang pada banyak film dekade 1920-30an, termasuk pada karya ambisius Fritz Lang, Metropolis.
Siapa melihat siapa? Motif mata seperti ini berulang pada banyak film dekade 1920-30an, termasuk pada karya ambisius Fritz Lang, Metropolis.

Film ini bisa dikatakan merupakan bagian dari gelombang estetika film di dekade 1920-an yang menggabungkan antara simfoni musik dan kota seperti Berlin: Symphony of a Great City (Walter Ruttman, 1927), Manhatta (Paul Strand) atau Regen (Joris Ivens, 1929) dan puncaknya A Propos de Nice (Jean Vigo, 1930). Masing-masing mendekati subyek mereka, kota, dengan cara berbeda, tapi umumnya ditandai oleh dua hal: pertama, kronika kehidupan keseharian dan para manusia anonim di dalamnya, peran musik yang besar dalam membentuk ritme film dan teknik penceritaan. Calcavanti menambah elemen yang fiksional pada film ini melalui seorang tokoh perempuan yang berlaku seperti semacam pengamat bagi perilaku-perilaku yang lebih kecil.

Dari sini, bagi saya, karya Calcavanti ini beranjak selangkah dibandingkan dengan karya semasa dalam kerja kamera yang tak lazim dan penyuntingan yang menimbulkan asosiasi-asosiasi yang tajam ketimbang semata ritmis. Lihat misalnya bagaimana ia mempertahankan anonimitas manusia di dalam kotanya sambil pada saat yang sama menggambarkan sebuah hidup yang berat dan sulit. Pengambilan gambar seorang perempuan dari sudut pandang yang jauh itu membuat kota menjadi klaustrofobik dan tampak asing, seakan seekor makhluk dengan anatomi mirip labirin yang sedang menjepit mangsanya. Perhatikan juga bagaimana asosiasi ia bangun dari montase lukisan dan bendera di awal film, untuk menimbulkan kesan “animated” pada gambar-gambar mati.

Melalui penggambaran-penggambaran ini, Calcavanti ingin menghadirkan sebuah kondisi rendah manusia melalui kisah tentang kota. Kota, adalah keseragaman jika tidak karena monumen di dalamnya. Dan monumen itu bagi Calcavanti bukan hanya bangunan dan tugu, tetapi juga perilaku manusia. Itulah yang membedakan manusia sekalipun celakanya, toh ruang dan waktu yang menentukan hidup manusia harus terlepas juga dari tangan mereka.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s