Film dokumenter favorit: Lift (Marc Isaacs, 2001)

Dalam film pertamanya ini, Marc Isaacs telah memperlihatkan bakatnya: menggunakan mikrokosmos untuk menggambarkan persoalan-persoalan lebih besar. Ia membawa kamera ke dalam lift dan merekam orang-orang yang menggunakan lift itu. Tanpa kata-kata, mereka memandangnya dengan asing, tapi lama kelamaan jadi terbiasa. Isaacs memang tidak sedang mengeksplorasi model film dokumenter observasional, ia membiarkan subyek dalam filmnya melihat ke kameranya, membuat mereka memandang langsung ke penonton. Ia bahkan memperlihatkan lalat di dinding, mencandai istilah “lalat di dinding” yang biasanya digunakan untuk mengumpamakan letak kamera dalam film dokumenter.

Apa yang disajikan dalam mikrokosmos Marc Isaacs ini ia teruskan dalam beberapa film yang ia buat seperti All White in Barking dan Men of The City. Melalui potret-potret lingkungan yang kecil, Isaacs membawa saya kepada persoalan-persoalan yang lebih besar seputar kehidupan multikultural Inggris yang pelan-pelan sedang mengalami pendefinisian ulang. Lift menurut saya lebih dari sekadar sebuah potret ikonik bagi bagi persoalan sosial politik lebih besar, bagi saya Lift adalah sebuah metafor dari peran kamera dalam film dokumenter itu sendiri. Ia akrab dan mempertemukan orang pada satu kepentingan, tapi pada saat yang sama juga memisahkan karena pada akhirnya orang menuju ke tempat yang berbeda-beda.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s