Film dokumenter favorit: Leviathan (Lucien Castaing-Taylor dan Verena Paravel, 2012)

Monster laut ini memuntahkan darah dari lambungnya
Monster laut ini memuntahkan darah dari lambungnya

Bayangkanlah anda menjadi seekor ikan di laut. Mungkin anda akan pernah mendengar kisah-kisah tentang monster laut seperti ini dari orang tua Anda. Bentuknya seperti perahu, mulutnya bagai jaring. Ia memiliki mata banyak yang terang menyala warna-warni di kegelapan malam. Suaranya mengerikan bagai derik logam beradu. Jangan sampai tertangkap oleh mulut itu, karena anda akan menemui kematian yang mengerikan. Tewas penuh darah dan tusukan dan berakhir dengan kepala terpenggal.

Inilah imajinasi muncul dari Leviathan, membuat film ini jadi memiliki kualitas fabel bagi saya. Terutama karena gambaran yang dihasilkan oleh kamera Lucein Castaing-Taylor dan Verena Paravel menimbulkan kualitas mistis dari pekerjaan manusia sebagai nelayan. Kamera sengaja menghadirkan distorsi bentuk dan suara-suara yang seakan berasal dari dunia antah berantah. Manusia direkam dari jarak yang tak akrab, membuat mereka jadi terkesan bukan orang, melainkan sosok yang dikendalikan oleh sesuatu yang tak kita kenali.

Bukan kebetulan pula bahwa perahu nelayan yang direkam oleh film ini berangkat dari pelabuhan New Bedford, pelabuhan yang menjadi latar kisah Moby Dick, novel yang ditulis oleh Herman Melville pada tahun 1851 tentang industri perburuan ikan paus. Ada nuansa apokaliptik, kata penulis di The Guardian ini, dan bagi saya perbandingan ini menarik. Di satu sisi kita ingat kisah obsesi Kapten Ahab yang gila di Moby Dick dan sebuah rutinitas mencari nafkah di Leviathan ini. Leviathan seperti meneruskan karya Castaing-Taylor sebelumnya, Sweetgrass (2009), dan sejenis juga dengan Agrarian Utopia (Uropong Raksasad, 2009) yang melakukan romantisasi besar-besaran pada pekerjaan manusia di bidang primer seperti petani, nelayan, peternak. Namun apa sesungguhnya yang membedakan, atau apa mempersatukan, antara obsesi dan pekerjaan manusia sehari-hari seperti itu? Saya merasa keberhasilan Leviathan sebagai film mirip dengan keberhasilan Moby Dick. Kedua karya itu sama-sama membuat saya, manusia, merasa terasing dengan salah satu aspek penting kemanusiaan itu sendiri.

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s