Merayakan Film Dokumenter

Little Eddie dan Big Eddie
Little Eddie dan Big Eddie dalam Grey Gardens (Maysles Bersaudara, 1975) membuat para tokoh dalam film fiksi bagai karikatur satu dimensi

Film dokumenter favorit, bagian 2

Kembali ke soal “creative treatment to actuality“, apa makna frasa ini? Sampai dimana aspek kreatif itu mendahului aspek actuality pada film dokumenter? Bukankah selalu ada kemungkinan bahwa creative treatment itu semata berkreasi terhadap medium sehingga lupa akan kaitan dengan kenyataan (dan pesan?) yang ingin ditampilkan? Apakah nantinya tidak akan tercampur baur dengan film-film eksperimental, misalnya?

Kreatifitas pembuat film dalam melakukan treatment terhadap subyek dan tema film dokumenter selalu berpeluang untuk membuat film dokumenter tidak lagi menghadirkan “kebenaran”. Lantas apa yang membuatnya menjadi berbeda dengan film fiksi jika film yang mengaku dokumenter sebenarnya rekaan saja.

Ada dua isu berkaitan dengan hal soal treatment dan kebenaran ini. Pertama adalah isu etika. Jika seorang pembuat film dokumenter sengaja “mengarang” fakta, ia tentu telah membohongi para penontonnya yang berpikir bahwa apa yang ditontonnya adalah film yang disusun berdasarkan standar mencapai kebenaran faktual yang ketat. Tapi, bagaimana seandainya sang pembuat film tak berniat mematuhi standar tersebut? Michael Moore, misalnya. Ia menyatakan bahwa film yang dibuatnya adalah film sebagai sebuah bentuk gerakan politik, dan ia tak terlalu peduli apakah filmnya disebut dokumenter atau bukan. Lagipula, ketidakpatuhan terhadap standar verifikasi kebenaran ini jangan dijadikan dasar bagi penilaian terhadap film dokumenter (Bruzzi, 2001) karena hal itu tidak membatalkan film itu sebagai sebuah karya maupun “pesannya”. Lagipula jika dilihat lebih luas lagi, sekalipun kerap mengaku terikat pada penyajian fakta dan kebenaran, film dokumenter tetap sebuah film. Ada medium yang mengantarai antara apa yang direkam dengan hasilnya, maka kehadiran sang pembuat film tak akan terhindarkan.

Karena itulah Michael Moore tak terlalu peduli jika ia dituding memanipulasi fakta. Baginya, apa yang disajikannya adalah film yang membawa pesan politik lewat anekdot dan pola penceritaan yang melibatkan dirinya sebagai semacam pahlawan kesiangan. Sebuah “political buffoonery” kata Dave Saunders (2010), atau bisalah disejajarkan dengan gonzo journalism model Hunter S. Thompson.

Kedua, apa sesungguhnya “kebenaran” itu? Kita sudah sedikit membahas bahwa keberadaan medium, seperti kata Noel Carroll (2001), membuat bias tak terhindarkan. Medium dan teknologi perekaman – juga teknologi presentasi seperti editing – tak bisa dipungkiri telah menyebabkan kebenaran bisa menjadi banyak versi. Contoh paling mudah tentu saja soal kebenaran “versi filmmaker” versus kebenaran “versi subyek (atau narasumber)” dalam film dokumenter. Soal pertentangan dua suara (multiple voice atau polifoni) semacam ini menjadi soal amat klasik, sejak kebenaran versi Oumaro Ganda subyek utama film Moi Un Noir vs kebenaran versi Jean Rouch hingga kebenaran versi Joshua Oppenheimer vs Anwar Congo pada The Act of Killing, yang bisa dilihat di liputan Al Jazeera ini, misalnya.

Maka dengan demikian, pencapaian kebenaran tak akan saya jadikan ukuran terpenting, sebagaimana umumnya para peresensi film yang kebanyakan dijadikan patokan oleh situs Rotten Tomatoes yang saya singgung sebelumnya. Mereka umumnya terkaget-kaget menyaksikan “kisah nyata” yang diungkapkan oleh sang pembuat film dokumenter, dan lupa bahwa film dokumenter, sebagaimana film, bukan semata alat seperti mikroskop yang dipakai untuk menemukan bakteri jenis baru. Film dokumenter juga bukan semata penerjemahan poster untuk keperluan demonstrasi dan advokasi, sekalipun salah satu fungsi utama film dokumenter adalah membuat sebuah isu menjadi urusan publik, dan tak hanya jadi isu bagi orang perorangan semata.

Jangan lupa bahwa film dokumenter adalah karya audio visual yang juga juga pantas untuk dinikmati dari aspek terobosan-terobosan audio visual yang mungkin dilakukannya dalam mengantar cerita. Aspek audio visual ini penting, karena apabila yang penting hanya “pesan” untuk advokasi soal-soal sosial politik, kenapa tidak menulis opini di koran saja atau membuat tulisan investigasi mendalam di majalah yang distribusinya luas? Seorang pembuat film dokumenter membuat film dokumenter, saya percaya, mencintai medium film sehingga ia memutuskan untuk menggunakan medium tersebut untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

Dengan demikian, sekali lagi, pada akhirnya saya membuat daftar ini mirip belaka seandainya saya diminta untuk membuat daftar untuk film-film fiksi. Baik elemen naratif maupun elemen artistik punya arti sama pentingnya. Ini daftar saya, tak berdasar urutan tertentu.

Satu catatan penting lagi: daftar ini berdasarkan film yang sudah saya tonton. Mungkin terkesan seperti ada upaya kanonisasi film dokumenter, dan saya tak akan menghindar jika ada tudingan semacam itu. Namun yang terpenting bagi saya adalah perayaan terhadap bentuk non-fiksi ini, mengingat selama ini film fiksi dirayakan dan dipuja sedemikian rupa; padahal khazanah film dokumenter sama atau bahkan mungkin lebih kaya daripada film fiksi. Saya ingin merayakan pengalaman-pengalaman saya dalam menonton film-film ini, sekaligus menangkap bagaimana para pembuat film ini membuat soal-soal tertentu jadi soal publik, bukan semata soal hasrat individual.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s