The Museum of Innocence

Apakah The Museum of Innocence adalah sebuah museum?

Pertanyaan itu terjadi dalam diskusi pendek saya dengan Ozlem Mertel, seorang mahasiswa museologi Universitas Bilgi, Istanbul, yang juga staf Open Society Foundation yang sehari-hari membantu kami menjalani kegiatan summer course ini. Dalam kunjungan bersama dengan instrukturnya, Ozlem bercerita bahwa diskusi seperti itu juga terjadi dan akhirnya sang instruktur menyimpulkan bahwa The Museum of Innocence bisa dibilang sebuah museum.

Sayang sekali saya tak tahu bagaimana diskusi itu terjadi, tapi kunjungan saya ke museum itu sedikit membuat saya sedikit bertanya: ini museum atau bukan. The Museum of Innocence atau Masumiyet Müzesi dalam bahasa Turki adalah judul sebuah novel karya Orhan Pamuk. Saya sudah membaca bukunya sejak di Jakarta dan tak tahu persis bahwa museum itu sungguh ada di Istanbul, Turki. Setelah saya tahu bahwa museum itu benar-benar ada, maka saya langsung berpikiran untuk mengunjunginya. Museum atau bukan, yang jelas pengalaman ke The Museum of Innocence ini adalah salah satu pengalaman terbaik saya dalam mengunjungi museum.

Museum itu terletak di Jalan Çukurcuma, sebuah jalan kecil di daerah Beyoğlu, Istanbul, tersambung dengan Jalan Istiklal, salah satu kawasan turis utama di Istanbul. Museum itu seperti sebuah rumah lain saja di kawasan itu, tak ada yang membedakan kecuali warnanya yang merah dan tulisan Masumiyet Müzesi  di atasnya. Tentu saja museum itu seperti layaknya rumah lain saja karena ide dasar museum itu memang dulunya berasal dari rumah milik keluarga Fusun yang dikunjungi oleh tokoh utama novel tersebut.

Yang menarik adalah kita bisa masuk museum itu dengan membawa novelnya. Kita cukup menunjukkan halaman dimana terdapat gambar tiket museum itu (dan percakapan dalam novel tokoh Kemal Bey menyatakan kepada Orhan Pamuk bahwa ia akan mendirikan museum tersebut) dan mendapatkan stempel di novel itu. Kemudian kita diberi tiket untuk masuk ke dalam.

Pajangan pertama di lantai dasar museum itu sudah amat menarik secara visual (sayang sekali tak boleh menggunakan kamera, bahkan handphone di dalam museum) yaitu puntung rokok bekas hisap yang dipajang di dinding dari lantai ke langit-langit. Puntung rokok itu diletakkan di dalam kaca, ditempel dengan jarum. Di bawah puntung itu terdapat catatan-catatan kecil, tulisan tangan, dari Orhan Pamuk tentang kenangan Kemal Bey sepanjang tahun 1975 hingga 2005. Jumlah persis puntung itu adalah 4.213, masing-masing dilengkapi dengan catatan-catatan kecil. Ini menjadi metode utama presentasi museum tersebut: detil yang masif tentang hal-hal yang mungkin kita buang dalam kehidupan nyata sehari-hari. Museum ini seperti sedang membangun narasi dari remah-remah yang tertinggal oleh gaya hidup dan keseharian kita: sesuatu yang bisa kita temui juga dalam novel Pamuk itu.

Pajangan di museum itu dibuat berdasarkan pembagian bab yang ada di dalam novel. Novel itu ada 83 bab, berawal dari “The Happiest Moment in My Life” hingga “Happiness” di bab terakhir. Karena rentang waktu novel itu cukup panjang (berawal dari 1975 dan berakhir di tahun 2005, maka tiap bab seperti mencatat momen-momen penting pada masa tersebut. Pamuk mencatat dengan amat teliti gaya hidup kelas atas Istanbul di masa itu, dan bagaimana mereka berhubungan dengan kelas pekerja yang secara sosial berada jauh di bawahnya. Tokoh dalam novel, Kemal Bey, adalah seorang yang berasal dari keluarga kaya yang jatuh cinta pada seorang gadis bernama Fusun, padahal Kemal sudah bertunangan dengan seorang perempuan dari kelasnya juga, Sibel.

Novel ini mengisahkan dengan rinci bagaimana Kemal Bey berusaha mendekati Fusun setiap hari selama bertahun-tahun. “Mendekati” mungkin pada akhirnya bukan kata yang tepat, karena selama masa yang panjang itu Kemal Bey seperti mengetahui secara rinci kehidupan Fusun, dan itulah yang memang ingin diceritakan oleh Orhan Pamuk. Ia seperti sedang mengajak kita melihat sebuah etalase kehidupan pribadi, hubungan yang unik antara dua orang, tapi lebih dari itu, bagaiman seseorang diperlakukan sebagai obyek oleh orang lain. Fusun adalah obyek perhatian, cinta, dan juga pada saat yang sama pameran “kekuasaan” dan keberdayaan Kemal Bey akan apa yang diinginkannya.

Tapi, apa sesungguhnya yang diinginkan oleh Kemal Bey? Hubungannya dengan Fusun tidak pernah beranjak mendekati pernikahan, karena posisi Kemal Bey agak sulit mengingat bahwa ia mengkhianati tunangan sekaligus calon istirnya, Sibel, yang berasal dari lingkungan dan kelas sosial yang sama. “Pengkhianatan” Kemal terhadap hubungannya dengan SIbel merupakan juga runtuhnya bangunan status sosial yang menopangnya selama ini karena, ia pelan-pelan mulai ditinggalkan dan meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Kemal membuat alasan demi alasan untuk berada terus di dekat Fusun. Pembicaraan tentang pernikahan tidak terjadi, dan hubungan mereka tak beranjak dari kunjungan demi kunjungan setiap malam.

Museum itu sendiri diceritakan dalam novel tersebut. Kemal Bey menjadi terobsesi pada Fusun dan mulai mengumpulkan segala macam benda yang berkaitan dengan Fusun. Menjelang akhir hayatnya, Kemal Bey sempat berbincang dengan penulis novel ini  –dan ini menjadi bagian dari cerita–  Orhan Pamuk untuk membuka museum of innocence dimana segala macam barang ini dipajang di sana. Maka Orhan Pamuk pun kemudian membuka museum ini sesuai dengan pesan Kemal Bey. Jadilah museum ini berdiri di jalan Çukurcuma, berada di rumah yang pernah menjadi bekas rumah keluarga Fusun.

Tempat untuk stempel The Museum of Innocence ada dalam cerita novel ini

Dalam konteks pusaran itu, The Museum of Innocence waktu yang disusun kronologis dalam novel dan museum seperti diberi catatan kaki: bahwa waktu bisa berhenti dan tak bermakna ketika perhatian pada detil terjadi dengan masif. Pada bab berjudul “Sometimes”, Pamuk sengaja bermain-main dengan”menghentikan” waktu dan berpusar pada kebiasaan-kebiasaan yang dilihat oleh Kemal Bey dalam bertahun-tahun mengunjungi rumah Fusun. Waktu jadi ditandai oleh remeh-temeh, pernak-pernik gaya hidup kelas bawah keluarga Fusun yang diamati oleh Kemal Bey (dan Orhan Pamuk). Bab yang dalam novel seluruh kalimatnya diawali dengan kata “Sometimes”, di museum itu diubah jadi benda-benda kecil, yang pada setiap bendanya dipasangi kalimat-kalimat kutipan novel tersebut. Inilah obyektifikasi yang termasuk paling istimewa bagi saya karena menisbikan waktu, membuatnya jadi kumpulan momen yang bersambungan; sedangkan tiap momen itu selalu terhubung dengan kenangan pribadi atasnya. Kenangan yang subyektif diubah oleh Pamuk menjadi obyektif karena selalu dikaitkan dengan amatannya terhadap hidup Fusun dan keluarganya!

Sekalipun waktu bisa ‘dihentikan’ begitu rupa oleh Pamuk, tapi museum ini tidak berniat untuk merayakan keabadian, justru sebaliknya. Pamuk menegaskan bahwa para tokoh dalam novel itu adalah manusia dan mereka sedemian rupa terhenti oleh waktu. Di lantai paling atas, terdapat klimaks museum tersebut: tempat tidur Kemal Bey yang katanya tinggal di tempat itu pada akhir-akhir hidupnya. Pada akhirnya waktu lah yang menjadi penghubung antara manusia sebagai subyek yang mengamati dengan obyeknya, dan tempat tidur itu seperti sebuah monumen besar bagi berhentinya waktu bagi sang subyek. Pengamatan harus berakhir juga.

Berjalan sekitar 45 menit di museum tersebut terasa tak cukup. Kelewat banyak detil yang disajikan, dan ini sebenarnya konsisten belaka dengan apa yang disajikan oleh Pamuk pada novelnya. The Museum of Innocence adalah pameran detil yang masif, mencoba menghadirkan masa lalu, tidak menjadikannya sebagai vintage, melainkan sebagai kumpulan obyek yang ‘tak berdosa’ dan menantikan para pembacanya untuk menafsirkan, memberi makna dan ‘mengobyektifikasi’ mereka sebagai benda-benda yang membawa ke dalam semacam mesin waktu. Namun bisakah kita mengobyektifikasi benda-benda itu mengingat bahwa mereka berputar di sekitar hidup Fusun? Lebih penting lagi: bisakah kita berada pada posisi untuk mengobyektifikasi tanpa mengingat peran penting Kemal Bey yang melangkah satu arah begitu saja ke dalam hidup Fusun? Kemudian: bisakah obyektifikasi itu hadir ke hadapan kita tanpa adanya Orhan Pamuk sebagai penulis yang mengantarai hidup orang-orang itu dengan kita sebagai pembaca, baik pembaca novel maupun “pembaca” museum itu sendiri?

Maka bisakah museum itu, yang berisi benda-benda yang dibuang dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sebuah museum di kota seperti Istanbul, kota yang pernah menjadi ibukota 3 kekaisaran besar dalam sejarah manusia? Apa makna benda remeh temeh kontemporer dibandinkan kota yang nyaris setiap bangunannya begitu spektakuler dan masih menjadi museum yang tak pernah mati? Maka saya melihat The Museum of Innocence  lebih mirip seperti perpanjangan narasi Orhan Pamuk tentang Istanbul yang sudah dimulai dengan novelnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s