Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Bedjo Van Derlaak (@EddieCahyono)


"Aku cinta pada negeriku, tapi tak ingin itu jadi alasan membunuh". Bedjo Van Derlaak menyusun sebuah pertemuan tak terduga yang menghasilkan semacam makian terhadap perang.

Film yang berlatarbelakang perang, biasanya justru merupakan film yang anti perang. Lewat penggambaran perang, para pembuat film biasanya ingin menggambarkan bahwa perang tak punya kebaikan dan membuat manusia harus membunuh manusia lain tanpa alasan yang sungguh-sungguh mereka pahami. Sutradara yang kerap sinis pada glorifikasi perjauangan bersenjata dan kekerasan seperti Stanley Kubrick atau Oliver Stone menggunakan film berlatar perang dengan cara seperti ini. Usmar Ismail sedikit banyaknya juga memperlihatkan tragedi kemanusiaan pasca perang dalam film-filmnya.

Namun film berlatar perang di Indonesia umumnya, biasanya malahan merupakan glorifikasi dari kepahlawanan, yang amat sering keliru. Beberapa film seperti Janur Kuning dan Serangan Fajar misalnya, bahkan menempatkan Kolonel Soeharto sendirian sebagai pahlawan yang sedemikian penting yang menentukan tetap tegaknya Indonesia sebagai satu bangsa. Film berlatar perang memainkan peran sangat penting dalam kepolitikan Orde Baru, terutama dalam mendukung penerimaan terhadap fungsi sosial politik (selain fungsi pertahanan keamanan) TNI di Indonesia, yang dikenal sebagai dwi-fungsi.

Bedjo Van Deerlak lebih dekat dengan tradisi para sutradara sinis Amerika ketimbang pada posisi film-film propaganda. Setting film ini adalah pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ketika tentara Belanda kembali lagi ke Indonesia dalam bentuk NICA, dan bergabung dengan tentara sekutu. Dalam sebuah pertempuran di garis depan, seorang anggota TNI bernama Bedjo bertemu dengan seorang tentara NICA bernama Heinrich Van Derlaak. Di tengah-tengah mereka adalah seorang ibu yang tepat sekali sedang akan melahirkan anaknya.

Terus terang saja, bangunan cerita macam ini amat sangat mengingatkan saya pada cerita pendek karya Nugroho Notosusanto berjudul “Bayi” yang ada dalam kumpulan Hujan Kepagian. Pertemuan tak terduga dua tentara dari dua kubu berbeda di tengah gubuk dengan ibu yang akan melahirkan itu sepenuhnya sama. Namun ada beda sikap antara cerita Bedjo Van Derlaak ini dengan “Bayi”, persis seperti perbedaan antara kubu para sinis para pembuat film anti perang dengan kubu film perang-propaganda di Indonesia. Bedjo Van Derlaak tampak sinis pada perang dan beranggapan bahwa perang bisa saja menjadi hal terburuk yang mungkin terjadi pada manusia. Sedangkan, Nugroho Notosusanto, ideolog terpenting dwi fungsi ABRI dalam buku sejarah, museum yang lalu diturut oleh para pelaku budaya populer Orde Baru, mengangkat cerita “Bayi” bagaikan sebuah “karangan khas penuh human interest” pada perjuangan politik bernama perang.

Dalam soal pembuatan film, Bedjo Van Derlaak termasuk kerja istimewa yang mungkin dilakukan oleh sebuah komunitas film. Bagaimanapun film ini adalah period piece, dimana kostum dan properti syuting harus diusahakan dengan cara istimewa, tak bisa memakai pakaian dan barang-barang sehari-hari. Lagipula ini film perang, butuh ledakan dan tembak-tembakan. Ini menunjukkan kapasitas produksi yang tinggi dari Four Colors Film, komunitas film Yogyakarta yang telah menghasilkan dua sutradara film layar lebar:  Ifa Isfansyah dan Eddie Cahyono.

Bagi saya, Bedjo Van Derlaak serupa belaka dengan Harap Tenang Ada Ujian, sama-sama memperlihatkan bahwa komunitas Four Colors FIlm memang merupakan gerakan arus pinggir yang satu saat akan masuk ke, alih-alih menyediakan tandingan bagi, arusutama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s