Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Harap Tenang, Ada Ujian (@isfansyah)

Ujian, sepakbola dan gempa bumi menjadi keseluruhan elemen yang membentuk cerita. Bisa jadi kisah ini sebuah parodi, bisa juga sebuah film anak-anak yang segar.

Bakat Ifa Isfansyah sebagai pembuat film layar lebar sudah tampak pada film pendek ini. Ia amat terampil menguasai penyampaiak elemen naratif dengan efisiensi yang tinggi sekaligus juga menjadi milik khas medium film. Ia tidak verbal dan boros dialog. Ia lebih suka menggunakan elemen suara dan gambar untuk menyusun sebuah informasi yang tiba kepada kita tanpa terlalu kita sadari sampai akhirnya informasi itu maju ke depan sebagai bagian dari plot. Inilah ukuran saya untuk menyatakan soal bakat Ifa sebagai pembuat film layar lebar (lihatlah Sang Penari kalau masih tak percaya)

Perhatikan bagaimana ia menjadikan kecintaan terhadap sepakbola sebagai dalam latar belakang cerita ini. Cerita ini ditanam dengan efektif lewat secara sepintas lalu (bisa diacu pada film Mirror karya Jafar Panahi dari Iran) tetapi pada saat yang sama punya peran signifikan dalam plot (pada Mirror, pertandingan sepakbola sebagai referensi durasi, pada film ini, sebagai sebuah lingua franca antar bangsa – yang sayangnya tak nyambung).

Bahkan teknik penceritaan Ifa ini bagi saya sedikit eksesif mengingat begitu banyak informasi audio dan visual yang bertumpuk-tumpuk (lihat pengambilan gambar dengan benda-benda di latar depan untuk menimbulkan kesan “kedalaman”) dalam film ini. Namun untungnya Ifa tak ingin bercerita terlalu banyak. Materi yang dimilikinya memang sederhana dan pengembangan yang dilakukannya tergolong masih bisa diterima (perhatikan: ujian sambil membawa kandang musang? hehehe..).

Namun dari itu semua, yang paling mengena bagi saya memang cerita dari film ini. Semangat untuk memparodikan situasi sampai dengan amat telak. Katakanlah film ini adalah semacam metafor bagi sebuah sikap kekanakan yang tak mau periksa terlebih dulu alias apriori terhadap keadaan sekitar, terlebih ketika itu sesuatu yang asing dan disampaikan secara dogmatis dan disampaikan dengan cara mengulang-ulang bagai mantra tanpa kita paham apa maknanya. Mirip seperti anak sekolah dasar menghapal bahan ujian. Perilaku curiga dan sikap bermusuhan yang kekanak-kanakan macam ini tentu sudah jadi konsekuensi yang pasti muncul.

Namun film ini juga bisa dibaca tidak sebagai perumpamaan seperti itu. Film ini cerita anak-anak yang polos saja yang senang bermain dan asyik dengan pikiran sendiri. Mana bisa orang dewasa seperti saya masuk ke dalam pikiran seperti itu dan kemudian menghakimi bahwa pikiran itu keliru? Dalam keadaan wajar, bukankah kita akan iri melihat betapa sebuah dunia bisa terbangun utuh sedemikian dan hidup adalah semacam perluasan dari permainan yang tidak kita ketahui batas-batasnya?

Bagaimanapun film ini dibaca, saya ingin Anda yang belum pernah menontonnya untuk meluangkan waktu Anda sejenak untuk film ini, di sini: Harap Tenang, Ada Ujian (Ifa Isfansyah).

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s