Tentang Memahami “Yang Lain”

Mereka mengambil keputusan dengan "mata tertutup". Orang di sekitar mereka terlanda putus asa yang akut akibatnya. Gambaran Garin Nugroho ini adalah yang terkuat dalam menyelami perasaan-perasaan tidak biasa itu.

Para tokoh dalam film Mata Tertutup, karya terbaru Garin Nugroho, adalah orang-orang yang menutup mata ketika mengambil keputusan terbesar dalam hidup mereka. Bukan sekadar mengabaikan kemungkinan pilihan lain, para tokoh dalam film ini sengaja menghindar untuk melihat kenyataan lain itu. Cuma ada satu kenyataan, karena itulah mereka yakin akan langkah yang mereka ambil.

Mereka adalah para pengikut Negara Islam Indonesia dan seorang calon pengebom bunuh diri. Mungkin keberadaan mereka mengejutkan kita sebagai bangsa: ternyata ada manusia Indonesia yang mengambil langkah sedemikian sulit untuk dipahami oleh rata-rata manusia Indonesia.

Maka dalam hal ini, film Mata Tertutup jadi istimewa. Film ini tidak menjadikan tokoh-tokoh itu sebagai orang lain, melainkan sebagai anggota keluarga yang hilang, sebagai diri kita yang tak menemukan tempat mengaktualisasikan diri, dan sebagai anak yang terdesak kemiskinan dan rasa cinta mendalam pada ibunya. “Mereka”, dalam film ini menjadi anggota keluarga, sanak kadang, atau bahkan diri “kita” sendiri.

Film ini mengambil tiga kisah. Pertama tentang ibu Asimah (Jajang C. Noer) yang kehilangan anaknya yang konon bergabung dengan Negara Islam Indonesia atau NII. Kedua, Rima (Eka Nusa Pertiwi) seorang mahasiswi yang mencari aktualisasi diri sebagai anggota NII. Ketiga tentang Jabir (M. Dinu Imansyah), murid pesantren yang terdesak kemiskinan dan mengharap syafaat – pengampunan di hari kiamat – bagi ibunya sehingga rela menjadi pengebom bunuh diri.

Kisah ketiga orang ini disajikan selapis demi selapis, dengan tempo yang tak terlalu cepat, mirip film Garin sebelumnya, Rindu Kami Pada-Mu (2005). Bedanya, pada film ini perubahan karakter ketiga orang ini lebih terasa ketimbang Rindu Kami yang lebih mirip mosaik. Bisa saya simpulkan bahwa film ini bisa jadi merupakan film Garin paling mudah diikuti mengingat perubahan karakter tokoh merupakan model kekisahan paling kerap ditemui dalam film-film Hollywood yang lazimnya kita tonton.

Namun ada hal penting dalam cara Garin bercerita. Ia tak menulis skenario secara rinci, dan para tokoh dalam film ini berperan tak jauh dari karakter asal mereka. Mereka diberi garis besar jalan cerita, dan dialog berkembang dengan sendirinya, mirip dengan gaya penyutradaraan teater rakyat semisal ketoprak. Akibatnya, plot berjalan amat alamiah; mirip dengan gaya bercerita film dokumenter.

Sekalipun demikian, Garin tetap sadar akan kekuatan sinema. Akting seluruh pemain berjalan amat baik. Bahkan ia kembali menemukan “bakat alam” Kukuh Riyadi yang menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia dalam bahasa Banyumasan. Ini hiburan yang istimewa. Garin juga amat pandai membangun konstruksi adegan. Perhatikan adegan hening yang dialami Rima sebelum tiba-tiba ia mendengar sayup-sayup lirik lagu: “..tanah airku, yang tidak kulupakan. Kau terkenang sepanjang hidupku..” Bagi saya, adegan amat efektif dalam membuat simpulan seluruh film: ketidakmampuan memahami sebagian dari diri “kita” sendiri seakan berasal dari kealpaan dalam menghargai tanah air kita sendiri.

Bisa jadi kita turut menyumbangnya lewat kesalahpahaman dan stereotip yang kita kembangkan. Media massa dan kisah fiksi banyak yang gagal dalam mencoba memahami “pihak lain”, alih-alih menempatkan mereka sebagai pesakitan dan manusia-manusia “tanpa wajah” yang siap menyerang orang lain nyaris tanpa alasan. Tak ada usaha untuk memeriksa motif mereka, apalagi memahami aspirasi dan meninjau pedalaman batin mereka.

Sampai di penghujung film saya tertegun melihat beberapa tokoh masyarakat muncul dan berbicara kepada penonton dalam bentuk wawancara. Film ini memang didanai oleh sebuah lembaga nirlaba, Maarif Institute. Untuk dibawa ke sekolah-sekolah guna membantu pengajaran untuk meningkatkan saling pemahaman manusia Indonesia dalam kehidupan bersama.

Ketika sutradara lain membuat video instruksional dengan cara didaktik, bahkan mungkin propagandis, Garin justru mengungkapkan pedalaman batin: mencoba memahami aspirasi, menggambarkan kecemasan dan rasa cinta yang kita miliki juga.Maka film ini tak berhenti pada pengkategorisasian orang lain atau penghakiman terhadap yang tak kita kenal, melainkan berlanjut pada pemahaman orang-orang yang berada di tempat yang tak terbayangkan sama sekali. Maka jika orang-orang itu telah mengambil keputusan penting dalam hidup mereka dengan mata tertutup, kita tak bisa ikut menutup mata terhadap keberadaan mereka sebagai bagian dari kita.

Pertamakali diterbitkan oleh Majalah Tempo

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s