Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Everything’s OK (Tintin Wulia)

Diantara pembuat film pendek generasi 2000-an, Tintin Wulia adalah salah seorang dari yang percaya bahwa film pendek adalah sebuah karya sendiri yang perlu ditekuni sungguh-sungguh secara tersendiri, dan bukan jalan masuk untuk membuat film panjang. Dengan komunitas Minikino yang ia bentuk di Bali, Tintin mempromosikan film pendek sebagai sebuah cara untuk “detox” dari konsumsi medium audio visual yang tak perlu. Kini ia lebih suka disebut sebagai seorang “seniman” ketimbang pembuat film pendek, karena karyanya meluas, tak terbatas pada medium film (atau video) pendek saja.


Dalam Everything’s OKini, Tintin menggambarkan salah satu masalah klasik yang begitu mudah ditemui di berbagai negara: urbanisasi dan pertumbuhan kota yang menurunkan kualitas lingkungan hidup secara drastis serta dominasi ruang oleh bangunan-bangunan besar. Penggunaan bahan-bahan sederhana pada film ini menimbulkan kesan figuratif: sebuah penceritaan yang universal dan mudah ditangkap siapa saja. Namun karya ini sama sekali tidak naïf. Judul film pendek ini memperlihatkan ironi yang ingin digambarkan oleh Tintin dan ironi yang diniatkan begini hanya bisa muncul dari kecerdasan, tidak dari kenaifan.

Selain grafis animasi yang istimewa dari kesederhanaan itu, karya ini kuat pula dari ironi yang dihasilkannya. Ironi ini bisa berarti sikap Tintin untuk menertawai diri sendiri (sebagaimana Voltaire menggunakan figure l’ingeunue untuk menertawai kebodohan prang-orang seperti dirinya) atau justru sebagai sindiran bagi kemapanan yang dihasilkan oleh sebuah “mesin besar”. Tintin mengimplikasikan ironi itu sebagai sebuah sindiran terhadap “mesin besar” tersebut sekalipun ia tak mendefinisikan apa atau siapa atau bagaimana rupa si mesin besar itu. Ia hanya menggambarkan perilaku: sesuatu yang bisa melekat pada siapa saja dalam posisi sosial politik yang bagaimana saja.

Maka Everthing’s OK adalah sebuah kerja kebudayaan, kerja seni, yaitu ketika seniman memotret perilaku secara figurative dan membiarkan penafsiran terhadap siapa pelaku itu berada di tangan penonton sepenuhnya. Terus terang saja, tak banyak seniman kita yang mampu berada pada posisi seperti ini, bisa jadi karena kenaifan mereka, bisa jadi karena memang tak ada posisi yang mereka pijak sebagai tempat memandang persoalan.

Lihat video Everything’s OK di sini: Everything’s OK (Tintin Wulia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s