Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Alam: Syuhada (@Hanifrancajale)

Inilah sebuah film dokumenter yang berangkat dari permainan makna ketimbang dari usaha untuk merekam sebuah realitas. Siapa anak bernama Alam ini yang tampak dipilih secara acak dan tak bisa kita anggap sebagai anak yang mewakili orang-orang segenerasinya? Apa pula usaha si pembuat film yang hanya merekamnya dalam satu kesempatan di sebuah angkot dan membiarkan anak itu bicara semaunya tanpa diberi konteks? Mengapa gambar-gambar jalan raya tampil begitu saja di film ini tanpa ada landasan estetika? Ini karya apa?

Namun kurator dan seniman Hafiz Rancajale cukup paham bahwa permainan makna ini akan menyebabkan munculnya “pembacaan”, termasuk dari orang-orang seperti saya. Bayangkan pernyataan bahwa anak seperti Alam ini bercita-cita mati syahid, karenanya ia ingin menjadi tentara. Bukankah ini perayaan tautan-tautan makna ketimbang sebuah representasi kenyataan? Bagaimana mungkin Tentara Nasional Indonesia (atau ABRI pada masa lalu) bisa diidentikkan dengan makna “mati syahid”? Bukankah bagi para pengejar “mati syahid” di Indonesia, TNI justru bermakna “thogut” yang patut diperangi dengan kekerasan?

Pembacaan-pembacaan macam ini tak urung akan muncul melihat Alam: Syuhada, yang bisa membuat karya ini berjalan-jalan cukup jauh ke berbagai festival. Bagaimanapun, karya ini lahir dalam sebuah konteks bernama Indonesia, sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan lokasi terjadinya salah satu peristiwa terorisme internasional terbesar sesudah penabrakan menara kembar di New York, Amerika Serikat. Maka ke-syahidan Alam dan segala akan tertaut pada fakta-fakta itu. Dengan kecerdasan pentautan makna, Hafiz tak perlu jauh-jauh ke pelosok dan repot mengikuti hidup orang lain. Ia cukup bermain-main dengan makna dan sebuah karya terbentuk karenanya.

Saya tak akan merayakan pentautan makna semacam ini sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang mengejar fakta. Bagi saya, ada peluang untuk melihat karya semacam ini sebagai sarana memperlihatkan kemampuan manusia sebagai makhluk simbolis. Bukan hanya pada subyek yang direkam, tetapi lebih kepada si perekam, Hafiz, yang perlu juga dipandang sebagai makhluk yang sedang bermain-main dengan simbol itu. Perhatikan baik-baik bagaimana Alam menjawab pertanyaan Hafiz di angkutan umum itu. Apakah anda yakin bahwa Alam tidak sedang mempermainkan Hafiz dengan jawaban-jawabannya? Ketika yang penting hanya tautan-tautan makna, maka bisa saja kita membacanya demikian, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s