Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Renita Renita (Tonny Trimarsanto)

Potret kehidupan waria di Jakarta ini mungkin bisa menjadi potret lebih besar mengenai hak asasi manusia di Indonesia. Bahwa keterpinggiran itu pahit dan memuakkan..

Renita Renita

Film ini  memandang persoalan dari perspektif sederhana, mungkin naïf, tentang satu kelompok orang-orang yang terpinggirkan. Tak ada komplikasi pandangan yang memperlihatkan waria sebagai salah satu bentuk perjuangan identitas multi-jender, bagian dari warna warni pilihan seksualitas atau eksistensi. Setidaknya, hal itu tidak dijadikan titik tolak yang dibahas berkepanjangan. Film ini lebih banyak membahas apa implikasi pergulatan identitas itu dalam kisah-kisah yang pahit. Tentu ada romantisasi dalam pembahasan film ini, juga cara pandang yang mengeksploitasi “nama siang” dan “nama malam” yang agak kekanak-kanakan.

Tapi lihatlah film ini sebagai sebuah film yang bercerita tentang bagaimana peminggiran itu terjadi. Apa yang namanya pergulatan identitas itu bisa sangat kongkret akibatnya. Perhatikan baik-baik cerita Renita alias Muhammad Zein Pundagau ini. Persoalan mereka kongkret: dicambuk anggota keluarga yang tak menerima mereka, diusir, sulit mencari nafkah, dipukuli tanpa alasan bahkan ditusuk pisau dan tidak semata kebingungan pendefinisian identitas mereka. Spektrum pergumulan identitas memang bisa keras dan mematikan seperti ini, dan Renita, Renita melakukan pencatatan dari sudut pandang pertama.

Bisa jadi film ini tampak naif dari sudut pandang multi-jender maupun sudut pandang kecanggihan teknis film dokumenter, tapi bagi saya persoalan tergambar dengan sempurna dalam potret sederhana ini. Termasuk ketika Renita bersaksi bahwa “penggerebekan di jaman Soeharto lebih enak daripada jaman sekarang”. Dari detil yang diceritakannya, kita paham bahwa masalah-masalah yang berasal dari peminggiran terhadap sekelompok liyan ini sedang terus meningkat, bukan hanya berasal dari ideologi radikal atau fundamentalisme yang kita cemaskan, tapi juga dari mesin birokrasi yang tak mampu bekerja dengan baik.

Saya sendiri merasa bahwa film dokumenter ini adalah semacam pembuka atau bahkan teaser dari sebuah film dokumenter panjang tentang Renita. Saya bayangkan bahwa Renita bisa bercerita lebih banyak dan lebih dalam tentang dirinya: perjalanannya pulang kampung, misalnya, untuk menemui ayahnya yang mengharap ia pulang bersama anak dan istri? Bisa jadi saya memilih mencatat Renita, Renita dengan bayangan cerita sekuat itu di benak saya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s