Film Pendek Indonesia Hingga Kini – A Very Slow Breakfast (Edwin, @babibutafilm)

Sebelum Edwin menjadi seorang sutradara yang diperhitungkan sejajar dengan nama-nama besar seperti Zhang Yimou, Billy Bob Thornton atau Miguel Gomes di seksi kompetisi Berlinale 2012 tahun ini, bakat besarnya sudah tampak pada film pendek pertamanya ini. Karya ini tergolong nyentrik dan amat kuat secara visual memperlihatkan bahwa Edwin memang seorang sutradara yang lahir dari sebuah generasi audio visual, ketimbang generasi tekstual. Elemen naratif yang dibangunnya berangkat dari premis visual demi premis visual yang ia rendengkan ketimbang premis tekstual yang cenderung untuk bercerita apatah lagi berniat menjelaskan persoalan.

Edwin memanfaatkan layar dengan sangat baik, mengatur komposisi sedemikian rupa untuk menghasilkan posisi-posisi para tokoh yang tampak “terpaksa” berada dalam posisi membungkuk untuk menegaskan bahwa filmnya adalah sebuah cara pandang menyimpang terhadap apa yang sehari-hari kita terima. Lihat pula bagaimana hubungan-hubungan antar tokoh dalam film dihadirkan secara visual. Interaksi mereka sudah salah sejak semula. Mereka seperti berada dalam satu ruangan karena kebetulan harus demikian, karena -dari suara musik senam di TV- kita tahu bahwa masing-masing punya dunia yang terpisah satu sama lain. Alangkah berhasilnya Edwin memanfaatkan perbedaan suara dalam film ini sebagai pemisah ruang mental antar tokoh-tokohnya, yang tidak kebetulan adalah anggota-anggota satu keluarga. Ia memang ingin bicara tentang keterpisahan dunia anggota keluarga yang demikian jauh, lebih dari sekadar apa yang diakui dipermukaan.

Pada A Very Slow Breakfast ini Edwin, seperti pada film-filmnya yang lain, membahas keluarga atau menjadikan keluarga sebagai lokus pembahasan tema-tema yang diangkatnya. Seperti sempat saya singgung dalam lema sebelumnya yang membahas empat film pendek Edwin, A Very Slow Breakfast ini seperti sedang membagikan sebuah kenangan pedih tentang keluarga dan akhirnya muncul semacam penjelasan kenapa Edwin seperti tidak percaya sama sekali pada keluarga. Kegiatan sarapan sebagai rutinitas yang diasumsikan penuh keceriaan dan matahari pagi, justru ditampilkan sebagai sebuah kegiatan penuh tekanan dan muram.

Hingga kini, saya merasa A Very Slow Breakfast sebagai film Edwin yang paling kuat, paling ekspresif dan paling dalam bicara tentang dirinya dan pengalamannya. Apa yang disajikannya pada Babi Buta sudah tampak di sini: elemen visual sebagai pengganggu kenyamanan penonton. Lihat bagaimana ia memanfaatkan ketombe, extreme close up terhadap rokok yang dinyalakan dan pengambilan gambar dari selangkangan sebagai upayanya mengganggu cara pandang mapan kita dalam menikmati karya audio visual. Memang ada novelty atau kebaruan yang patut dianggap penting dalam film ini, tetapi bagi saya A Very Slow Breakfast tidak berhenti di situ: belum pernah saya melihat sebuah keluarga digambarkan dengan satir sepahit (dan seefektif) ini dalam sebuah film Indonesia.

Advertisements

2 Comments

  1. Amiiin. Semoga demikian. Saya baru nulis soal film tahun 2005, artinya belum 10 tahun. Belum apa-apa. Semoga masih bisa terus menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s