Anak Punk dan Bajak Laut

Adegan perkelahian di antara peti kemas ini, mirip dengan film Merantau. Kebetulan atau standar film laga Indonesia?

Ini adalah film yang akan dibenci oleh anak punk. Penyebabnya jelas: untuk menggambarkan orang yang jahat dan berhati gelap gulita, film ini menggunakan orang yang didandani dengan rambut bergaya spike, tindik hidung, baju gelap dan segala atribut punk lainnya. Adegannya begini: berawal dari sekelompok anak punk nongkrong di pelabuhan. Dua saudara kandung, keduanya laki-laki pra remaja lewat sambil bergembira ria sehingga tak melihat genangan air di depan mereka. Saking girangnya, kedua bersaudara itu juga tak sadar kalau genangan air yang mereka injak telah muncrat dan percikannya jatuh di sepatu boot si pemimpin anak punk ini.

Percikan air itu membuat si pemimpin punk ini marah bukan kepalang. Ia kemudian mengajak rombongannya menguntit kedua bersaudara yang masuk ke sebuah toko kelontong. Sesudah sebuah adegan berisi pelajaran moral kecil-kecilan tentang mencuri, kejujuran dan rasa tanggung jawab di dalam toko, kedua bersaudara itu sempat berhasil kabur dari sergapan anak-anak punk yang menunggu mereka di luar toko. Tapi segera mereka ketahuan dan dikejar sampai akhirnya terjebak di sebuah lorong yang buntu karena ditutup selembar papan besar. Si kakak menyokong adiknya ke atas melewati papan penutup jalan itu, dan ia menunggu gerombolan punk tadi sambil tak lupa berkata “aku akan melindungimu” (apakah sehari-hari anda berkata seperti itu pada adik anda?).

Di balik papan (harfiah, bukan nama kota) si adik sempat mengikuti apa yang terjadi pada kakaknya. Diawali dengan percakapan, tentunya.

“Kenapa kau mengejarku?” kata si kakak kepada anak punk bermuka galak tadi.

“Karena kau telah… mengotori aku!” bentak si pemimpin anak punk.

Sampai di sini saya sempat berpikir. Apakah ini film laga tau film horor? Saya pikir percakapan macam itu hanya ada pada film bergenre kuntilanak (mengingat jumlahnya belakangan ini rasanya penggolongan ini ada benarnya..). Biasanya para perempuan yang menjelma hantu dalam film Indonesia itu “dikotori” oleh sekelompok pemuda brandal dan ia kemudian menuntut balas dengan mencekik atau menggigit mereka sampai mati (apakah para pemuda itu juga jadi hantu sesudah mati? Entah). Nah, apakah si pemimpin punk ini juga sejenis “kuntilanak” dalam arti bahwa mereka diposisikan sejenis setan yang kejam dan membalas dendam karena “dikotori”?

Rupanya, dalam film ini, sepatu dikotori percikan genangan air itu memang soal sama besarnya  dengan “dikotori” dalam arti kiasan (biasanya artinya diperkosa) sehingga anak punk itu pun membunuh si kakak dengan begitu tenangnya (bisa lihat pesan moral nomer satu? Ini: hati-hati kalau berjalan di daerah becek, jangan sampai memercikkan genangan air ke sepatu anak punk). Si adik melihat tragedi besar dalam hidupnya itu sambil menangis dari balik papan (ini harfiah.. oh, lihat paragraf sebelumnya). Saya terheran adegan semacam ini dihadirkan dengan santai sekaligus tak meyakinkan. Senang sekali pembuat film ini menyiksa tokoh mereka ketika kecil supaya ia punya sebuah persoalan besar ketika dewasa. Mungkin si sutradara Asun Mawardi sedang mempersiapkan tokohnya untuk menjadi penjahat besar sekelas Hannibal Lecter karena kesumat mendalam pada masa kecilnya.

Oh, tapi saya salah duga. Tepatnya saya lupa ini film laga, dan dalam film laga, cerita yang masuk akal boleh dilupakan. Hm, memang ada upaya menahan rasa tak percaya (istilahnya willingness to suspend a disbelieve) demi bisa menikmati aksi sedap yang berlangsung asyik-asyiknya. Mungkin pembuat film ini menginginkan kita untuk menunda rasa tak percaya itu. Tapi, oh, bagi saya mereka mengingkan terlalu banyak. Mereka menginginkan kita melupakan kemampuan berpikir paling dasar.

Karena ternyata masa kecil yang dilewati dengan kejam itu tak berdampak pada perkembangan psikologis anak pra remaja bernama Sunny tadi. Itu hanya jadi alasan agar ia bisa berakhir di panti asuhan, bertemu lantas membela seorang anak lain bernama Verdy yang di-bully dan kemudian mengangkat saudara. Ditambah dengan kliping koran di awal film tentang maraknya para bajak laut, jadilah premis utama film: ini kisah tentang bajak laut bersaudara.

Sudahlah untuk tertawa-tawa on other people’s expenses. Mungkin saya sinis seperti di atas tadi lantaran dikecewakan. Karena sebanrnya film ini berpeluang untuk menjadi film laga yang menarik. Pertama, mereka punya premis dasar sebuah kisah laga yang puitis, dendam dan persaudaraan yang dipertemukan oleh perasaan senasib. Kita ingat film-film klasik seperti Butch Cassidy and The Sundance Kid atau karya-karya klasik wuxia Hongkong berangkat dari situasi serupa itu. Kedua, mereka punya aktor laga yang punya jurus-jurus istimewa. Meskipun ada Robin Shuo dan para aktor Hongkong, saya malah terkesan sekali dengan Verdi Bhawana yang menjadi Verdi. Jurus jepitan dua kakinya terlihat sangat akrobatik dan istimewa, bahkan saya rasa bisa dibandingkan dengan jurus-jurus Tony Jaa. Saya bayangkan seandainya Verdi berada dalam satu layar bersama Iko Uwais dalam adegan perkelahian (tentu dengan cerita yang disusun rapi dan koreografi yang baik), hasilnya mungkin tak kalah menarik dengan melihat Donnie Yuen dan Jet Li dalam satu layar.

Departemen cerita adalah yang paling kedodoran dari film ini, seperti yang saya racaukan di bagian depan tadi. Penggunaan stereotype seperti anak punk tadi termasuk kedodoran yang tidak seberapa, sekalipun dari sini jelas sekali tampak bahwa film ini mencari mudah saja. Cerita jadi bolong-bolong tak keruan karenanya. Bolong-bolong dalam runtutan cerita film ini terasa amat sangat mengganggu, padahal seharusnya bolong-bolong semacam itu tak perlu terjadi seandainya penulis skenario film ini mau bersabar dan menyisir satu demi satu persoalan yang ada di situ. Saya merasa tak perlu lagi menggambarkan bolong-bolong itu karena begitu mudahnya dilihat seperti melihat bolong-bolong pada saringan minyak yang bisa anda lihat di tukang gorengan terdekat.

Saya juga melihat ada yang kedodoran dalam penataan laga. Kita bisa lihat bahwa film laga belakangan ini sudah berkembang sedemikian rupa dan standar sudah berubah. Film ini tampak masih mengandalkan pada standar perkelahian film Indonesia dekade 1980-an yang seluruhnya bertumpu pada adegan orang berkelahi. Padahal sejak Jackie Chan, adegan perkelahian sudah meluas kepada pemanfaatan properti sebagai sarana aksi. Sejak Drunken Master, bangku warung sudah menjadi senjata yang sangat hebat, dan ini terus berkembang hingga menjadi tangga lipat (First Strike) atau payung (Once Upon A Time in China). Pada Pirate Brothers, properti yang digunakan masih terbatas pada meja yang menjadi landasan jatuh para penjahat, yang sekaligus juga menjadi sarana untuk mengurangi dampak jatuh yang fatal (lihat penjelasan ini dalam film dokumenter Jackie Chan tentang bagaimana ia menyusun adegan laga).

Lokasi berkelahi dalam film ini juga sangat tidak kreatif. Pemanfaatan ruang tergolong biasa, dan koreografi perkelahian jadi terasa membosankan karena nyaris serupa. Lagi-lagi kita lihat kreatifitas Jackie Chan yang membuat perkelahian di akurium raksasa (First Strike) atau di bawah kolong kereta api yang sedang berhenti (Drunken Master 2). Juga lihat adegan perkelahian di pucuk-pucuk bambu pada Crouching Tiger Hidden Dragon yang bisa dikatakan menjadi puncak artistika genre wuxia.

Asun Mawardi juga seperti lupa pada elemen bernama para pemeran, baik yang biasa disebut dengan istilah casting, maupun yang namanya akting. Casting alias penggunaan pemain Hongkong dalam film membuat mereka bicara dalam Bahasa Inggris, padahal mereka dibesarkan di Indonesia. Tak apa seandainya ada penjelasan yang cukup bagi migrasi bahasa itu. Celakanya, penonton diminta untuk suspend the disbelieve untuk urusan bahasa ini. Saya sih mau-mau saja, tapi terlihat sekali betapa sembarangannya sang sutradara membangun sebab-akibat dalam film. Sekalipun si Sunny (ceritanya) dibesarkan di Hongkong dan jadi anggota Interpol, tak berarti ia harus lupa sama sekali bahasa ibunya yang ia pakai hingga ia berumur belasan tahun itu kan?

Dalam soal akting soalnya serupa belaka. Puncak kekecewaan saya adalah melihat akting Yayu W. Unru yang begitu saya kagumi dalam Jermal, dalam film ini dipenuhi oleh ekspresi wajah yang keliru dan dilebih-lebihkan.

Maka niatan saya menonton film ini untuk mendapatkan adegan laga yang keren tak sepenuhnya tercapai. Koreografi perkelahian cenderung berulang dari sekuen ke sekuen, sekalipun melihat jurus-jurus Verdi Bhawana tetap membuat saya girang. Namun secara keseluruhan, perasaan tak percaya saya terhadap film ini tak bisa saya tunda hingga film selesai. Sepanjang film saya menggerutu lantaran runtutan logika yang tak ada seperti kisah anak punk di awal film ini. Padahal jika lebih sabar dan telaten dalam membangun cerita, saya yakin Pirate Brothers ini mampu bicara banyak untuk mengisi kekosongan tontonan yang asyik di bioskop belakangan ini.

Apa boleh buat. Jika melihat bagaimana perlakuan para pembuat film Pirate Brothers terhadap materi yang mereka punya, tampaknya yang akan jadi warisan klasik dalam film Indonesia adalah pengabaian besar-besaran (yang sebenarnya tak perlu terjadi) pada cerita.

Pirate Brothers. Sutradara: Asun Mawardi. Pemain: Robin Shou, Verdi Bhawana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s