Mencatat Film Indonesia di tahun 2010

Belakangan semakin sulit bagi saya untuk membuat daftar “film terbaik” karena rasanya tak adil membandingkan film satu dengan lain bagai sebuah kontes kecantikan atau seperti lomba lari. Setiap film tentu punya anasir dan masing-masing unsur itu tentu bekerja dalam ranah yang berbeda bagi penonton berbeda. Maka jika ingin membuat perbandingan antar film, hal yang paling jauh saya bisa lakukan adalah otentisitas pengalaman menonton ketimbang membandingkan anasir semisal sinematografi, editing dan sebagainya. Memang sih, otentisitas menonton itu kelewat subyektif tapi toh saya merasa sejauh ini saya sudah lumayan banyak menonton film untuk ikut memasukkan soal-soal teknis tadi dalam penilaian otentik tidaknya dalam menonton film. Misalnya, saya bisa memberi contoh. Ketika menonton sebuah film saya merasa bisa menebak apa kira-kira shot berikutnya dari film itu. Bahkan komposisi dan ritme editing juga sudah bisa saya perkirakan sebelum terjadi. Ini termasuk pengalaman menonton yang sangat tidak asyik dan tidak otentik, mudah terulangi. Hal semacam ini sebenarnya mengurangi kenikmatan menonton, tapi sudahlah. Mungkin saya dikutuk hingga hal seperti itu tak terhindarkan.

Kembali ke soal penilaian, maka ketimbang menilai mana yang paling baik di antara film-film yang saya tonton tahun 2010, maka saya memutuskan untuk mencatat saja, khusus untuk film-film Indonesia. Ada alasan lain kenapa saya hanya mencatat saja.

Tahun ini saya merasa agak kesulitan kalau membuat peringkat, sekalipun daftar semacam itu ada juga gunanya. Setidaknya bagi saya untuk bersenang-senang. Tahun ini keberatan saya terhadap film-film Indonesia, terutama yang saya tonton di bioskop, jauh lebih besar ketimbang rasa gembira ketika menontonnya. Maka saya berpikir ketimbang memilih “mana yang terbaik”, saya memutuskan untuk membuat daftar berdasar “mana film yang paling bergairah untuk saya catat”. Ini semacam daftar peringkat juga, tapi tentu bukan peringkat berdasar pencapaian kesempurnaan melainkan peringkat berdasarkan interaksi film-film itu dengan saya.

Oh, dan saya tak membedakan antara film dokumenter dan fiksi. Ini dia daftar catatan saya:

9.      Minggu Pagi di Victoria Park (Sutradara : Lola Amaria)

Filmmaking sebagai laku turisme ? Tentu saja. Sejak Nanook of The North tahun 1929, filmmaking selalu membawa keterpesonaan terhadap sesuatu yang jauh di sana, sekalipun apa yang disajikan sebenarnya hanya kisah hidupnya sehari-hari. Sayang sekali bahwa Lola Amaria masih menjadikan sebagian subyek filmnya dengan cara pandang seperti ini, padahal ia sudah pergi jauh dengan determinasi tinggi membuat film ini. Ia masih merasa perlu menyajikan hal sehari-hari subyeknya sebagai tontonan untuk menciptakan sensasi aneh terhadap yang asing, bagai sebuah curiosity cabinet a la abad kesembilanbelas. Mungkin penonton Indonesia masih berada pada tahap seperti itu : penonton curiosity cabinet ? Puluhan tahun lalu Nya Abbas Akup sudah mengatakan hal itu, dan tak kelewat salah rasanya jika ada yang berubah.

8.      Ampun DJ (Sutradara : Agus Darmawan)

Saya tercengang pada fakta bahwa kamera dalam film ini bisa masuk ke tempat-tempat intim semisal kamar mandi, menandakan adanya sebuah kepercayaan besar dari para subyek terhadap pembuat film ini. Inilah sebuah observasi yang sangat sungguh-sungguh terhadap para subyek film tanpa ada prasangka apapun kecuali sang kamera itu sendiri. Tentu bisa ada salah sangka terhadap kamera terutama bahwa ia melakukan gazing, tapi itu selalu resiko sebuah filmmaking, bukan? Perhatikan bahwa pengabaian terhadap basa-basi teknis sudah membuat film ini menjadi wakil dari cara tutur film Indonesia era new media yang sudah memasukkan hal keseharian dan “tak penting” sama patut ditontonnya dengan drama.

Eh, tapi tunggu dulu, benarkah film ini tanpa prasangka? Inilah kelemahan utama film ini yang membuatnya jadi gagal total: kenapa fakta-fakta menarik yang sudah bicara banyak itu harus dibenturkan dengan slogan-slogan dangkal seperti “kota budaya” dan “kota pelajar”? Bagi saya, karya ini jadi kekanak-kanakan, padahal tanpa lirik rap menggurui dan slogan-slogan itu, seharusnya Ampun DJ berpeluang untuk menjadi salah satu film Indonesia paling kuat tahun ini.

7.      Sang Pencerah (Sutradara: Hanung Bramantyo)

Film ini bukan yang pertama mengangkat tema pembaruan Islam, tapi inilah film yang paling punya sikap tegas terhadap keadaan kontemporer yang dihadapi Indonesia, terutama pasca Soeharto.  Ini kredit yang tinggi mengingat kritik politik bagai lama absen dalam film Indonesia. Kritik tegas ini, diiringi dengan production value yang jauh di atas rata-rata merupakan sesuatu yang sulit untuk ditemui tahun ini. Sayang saja bahwa film ini bersandar pada stereotip guna memudahkan persoalan dan pencernaan penonton – argumen yang selama ini juga dikembangkan oleh para pembuat opera sabun a la Indonesia alias sinetron. Bukan hanya tokoh utama film ini yang terasa bersifat satu dimensi, persoalan yang dihadapinya juga terasa datar dan terlalu dipermudah demi pemahaman instan. Tentu jika topiknya cinta monyet, tak apalah, toh dalam kasus seperti itu kita tahu penonton memang sekadar cari mimpi. Tapi apakah penonton juga cari mimpi ketika menonton film dengan tema pembaruan Islam? Rasanya tidak, dan dalam konteks ini saya terpaksa menyatakan tawaran pembuat film ini jadi tak bijak dalam jangka waktu yang lebih panjang. Untuk tahun ini, saya mencatat Sang Pencerah, tapi dalam jangka waktu lebih panjang – sejarah film Indonesia misalnya – saya akan mengunggulkan film semacam Titian Serambut Dibelah Tujuh atau Para Perintis Kemerdekaan atau Nada dan Dakwah sebagai film pembaharuan Islam favorit saya.

6.      Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (Sutradara: Dedi Mizwar)

Ada yang namanya sikap politik dan sinema tentu saja bisa menjadi salah satu penyaluran terpenting bagi hal itu. Dedi Mizwar, seorang yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden, paham betul bahwa sinema adalah alat kuat  pembawa gagasan dan keprihatinan. Ia punya konsep jelas bahwa film adalah alat komunikasi dan sebaiknya dalam berkomunikasi, film tak salah dalam menyampaikan pesan. Maka film ini menjadi semacam khotbah, semacam teriakan yang mengandung vulgarisme pada pesan yang disampaikannya itu. Bukan sekadar tak keberatan, tapi memang efek itulah yang ingin disampaikan oleh Dedi Mizwar dari kisah tentang generasi muda dan jalan buntu harapan akibat segala sesuatu seperti salah tempat dan salah kelola ini. Untungnya Dedi tak mengorbankan cerita dan tak lupa pada rumus-rumus penguras emosi, sekalipun pen-zhohir-an beberapa pesannya terasa jadi ganjalan serius bagi kelancaran film ini dalam bertutur.

5.      Metamorfoblues (Sutradara : Dossy Omar)

Sayang sekali bahwa beberapa bagian terpenting film documenter ini sudah muncul di film Generasi Biru yang beredar tahun lalu. Maka saya tak lagi kelewat terkejut dengan pendadaran fakta tentang para Slanker yang sudah jadi subkultur yang hidup berurat berakar dengan sangat dalam, mungkin jauh lebih dalam ketimbang akar lembaga-lembaga politik kita. Namun dengan faktor kejutan yang berkurang, Metamorfoblues masih berhasil membawa saya menjadi seorang turis yang sabar dan dipenuhi rasa ingin tahu tentang apa itu Slankers dan bagaimana ia hidup serta menjadi daya hidup bagi banyak orang di negeri bernama Indonesia. Sutradara Dossy Umar berhasil dengan mulus mentransfer energi itu keluar layar, kepada penonton terutama karena ia tak berhenti di permukaan, tak puas dengan anekdot. Ia mencoba memahami mengapa para Slankers itu percaya dan ia berhasil membawa keyakinan itu keluar layar.

4.      Working Girls (Sutradara: Sammaria Simanjunta dan Sally Anom, Yosef Anggi Noen, Daud Sumolang dan Nita Nazyra C. Noer)

Para sutradara dalam film ini mampu membuktikan bahwa film yang diniatkan menjadi film kampanye selalu punya peluang mengatasi “niat propagandis” media ini dan bersikukuh bahwa manusia punya cerita yang kaya nuansa dan unik pada masing-masing kasusnya. Inilah kekuatan sinema yang sejak lama membuatnya terus mampu bertahan dari godaan untuk mendangkalkan persoalan dan turut serta mengabdi pada “tendens” yang kelewat kontekstual dan sempit. Para perempuan pekerja dalam film ini seperti diberi hidup oleh para filmmaker di kumpulan ini karena keberanian mereka – lagi-lagi – untuk menjadi observer alias pengamat yang baik, sabar dan ingin tahu. Maka momen-momen kecil ketika fakta kecil terungkap mampu membelokkan pandangan kita yang sudah ajeg terhadap banyak hal. Salut!

3.      Belkibolang (Sutradara: Agung Sentausa, Ifa Isfansyah, Tumpal Tampubolon, Rico Marpaung, Anggun Priambodo, Azhar Lubis, Wisnu Surya Pratama, Edwin, Sidi Saleh).

Jika sampai ada omnibus Gue Cinta Jakarta sebagaimana Sawasdee Bangkok yang mengambil insipirasi dari Paris J’taime atau I Love New York, maka Belkibolang adalah versi alternatifnya, kalau tak mau dikatakan sebagai sebuah sub-versi narasi tentang Jakarta yang dibangun oleh pandangan arus utama. Belkibolang atau “belok kiri boleh langsung” bisa dibaca sebagai sistem berlalulintas Jakarta sekaligus memberi konotasi “kiri” yang melawan “kanan” yang berkonotasi mapan. Film ini memang mampu menabrak langsung beberapa tabu. Ifa Isfansyah sengaja membuat kisah palindrome yang akhirnya mengajukan struktur elipisis  murni ketika peristiwa dan waktu tak terbedakan, dan film bisa dipandang dari “segala arah”.  Edwin sekali lagi (sesudah Dajang Sumbi) membuat pemeran utama perempuan dalam filmnya bugil, kali ini untuk merangsang adrenalin dan berspekulasi terhadap ketidakyakinan penonton. Maka jika “kanan” adalah sinema yang mapan lewat tema dan cara tutur yang seperti tak terganggu gugat, maka Belkibolang menegaskan bahwa penonton bisa belok ke “kiri” tanpa ragu dan menunggu.

2.      3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (Sutradara: Benny Setiawan)

Terlalu banyak catatan kaki yang membuat film ini kelewat penting untuk diabaikan. Pertama, film ini berlawanan dengan arus film Indonesia semasa yang mengidentikkan kesuksesan dengan bersekolah di perguruan tinggi atau jadi kaya. Film ini santai saja memandang aspirasi semacam itu dan berusaha untuk melihat sebuah alternatif tokoh archetype dalam film Indonesia yang bersifat etnis (ketimbang nasional), berpendidikan SMA (ketimbang perguruan tinggi) dan seorang (semi-) aktivis (ketimbang apolitis). Kedua, film ini mengedepankan sifat kosmopolitanisme Indonesia tanpa banyak cingcong, sebagai sebuah fakta yang harus dihadapi oleh setiap individu dalam merumuskan identitasnya. Identitas individu adalah proses negosiasi yang konstan dan film ini dengan tepat memberi gambaran itu. Ketiga, film ini adalah komedi yang segar dan dikerjakan dengan akting yang sangat mulus, membuat para tokoh di dalamnya bukan saja mudah untuk dipercaya, tapi bisa bikin penonton dengan tulus menjatuhi simpati. Maka catatan saya terhadap film ini sebetulnya tidak banyak dan saya menikmati film ini, terutama pada akting Laura Basuki yang bagi saya tahun ini menjadi salah satu pemain yang paling tak sadar (less-conscious) akan keberadaan kamera.

1.      On Broadway #1 (Sutradara: Aryo Danusiri)

Berisi 41 menit shot tunggal tak terputus tentang sebuah ibadah sholat Jumat di sebuah basemen di Broadway, New York. Karya ini menunjukkan bahwa apa yang menjadi latar belakang dari penempatan kamera itu sama pentingnya dengan apa yang ada di dalam layar. Maka terhubunglah teks dan subteks film ini. Mudah sekali untuk tergoda menghubungkan kota New York, Islam, pembangunan mesjid di ground zero dan segala sirkus liputan media dengan film ini, dan terus terang saja subteks itu terbaca juga. Namun bagi saya, On Broadway #1 punya sebuah titik berangkat yang lebih dari sekadar semata respons terhadap problem kontemporer semacam itu. Bagi saya, peristiwa apa saja bisa hadir dalam layar seperti ini, tetapi, pertama, film ini menegaskan bahwa gagasan peletakkan kamera sejak pertama sudah merupakan sebuah laku kreatif dan kedua, perekaman yang dilakukan menegaskan bahwa penonton diajak untuk menikmati peristiwa dan membebaskan diri memberi tafsirnya sendiri atas peristiwa itu. Sebuah sinema murni? Mungkin saja secara teori film ini bisa digolongkan begitu, tapi pesona yang muncul dari menyaksikan peristiwa itu terurai dalam durasinya bagai menyaksikan sebuah bunga mekar untuk mencapai kesempurnaannya. Tentu tak cocok bagi pendamba drama dan penikmat film Michael Bay. Namun dari film semacam ini kita seperti diingatkan bahwa peristiwa punya semacam hidupnya sendiri dan bagaimanapun intervensi pembuat film dalam menghadirkannya kembali punya keterbatasan yang amat serius. Dan itu patut dinikmati dengan sukacita.

Advertisements

5 Comments

  1. selamat siang pak erik, perkenalkan nama saya yeni yuliani mahasiswi dari Universitas Bhayangkara Bekasi. saya sedang menjalani studi semester 8 dan sedang proses pembuatan skripsi tentang adegan kekerasan dalam sebuah film karya anak bangsa. jika bapak berkenan, bisakah saya mewawancarai bapak mengenai beberapa pertanyaan perihal adegan adegan dalam sebuah film? jika bapak bersedia, nanti saya akan minta dibuatkan surat resmi dari kampus saya.. untuk jawabannya saya unggu ya pak melalui email saya di yheniyuliani@ymail.com .. terimakasih banyak pak sebelumnya, mohon maaf mengganggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s