Tentang Spiritualitas Dunia yang Mundane

Sutradara asal Portugal, Pedro Costa, bukan sedang bercerita tentang tulang atau anatomi tubuh lainnya. Film ini merupakan pembuka dari trilogi yang dibuatnya tentang kawasan Fontainhas, sebuah kawasan kumuh di kota Lisabon, Portugal, yang dihuni oleh para imigran asal Afrika dan orang kulit putih miskin Portugal. Pedro bercerita tentang orang-orang di kawasan ini yang – bersama dua filmnya yang lain In Vanda’s Room dan Colossal Youth – kemudian menjadi sebuah esei panjang tentang kawasan Fontainhas dan manusia yang tinggal di dalamnya.

Bones berpusar pada kehidupan dua orang perempuan Clotilde (Vanda Duarte) dan sahabatnya yang suicidal, Tina (Mariya Lipkina). Clotilde bekerja sebagai pembersih rumah tangga. Tina baru saja melahirkan bayi tak terencana dari pacarnya. Tina tak berniat sama sekali membesarkan bayi itu. Ia kemudian menyerahkan si bayi pada ayahnya yang abai dan pengangguran. Sang ayah (Nuno Vaz) lantas berkeliaran di kawasan bisnis kota Lisabon menggendong sang bayi sambil menggamit orang lewat “bisa beri sesuatu buat si bayi?” atau “sudah tiga hari saya dan bayi ini tak makan.”

Sampai seorang perawat baik hati, Eduarda Gomes (Isabel Ruth), memberi sandwich dan susu kepada ayah dan bayi itu. Namun itu tak cukup. Sang ayah memutuskan untuk memberi saja si bayi kepada Eduarda. Ia menyangka perempuan paruh baya menaruh hati padanya. Namun Eduarda hanya seorang berhati baik. Ia hanya ingin berbaik hati dan merasa iba pada si bayi dan ayahnya.

Clotilde akhirnya tahu bahwa si bayi ditolong oleh Eduarda. Ia kemudian melamar menjadi pembersih rumah Eduarda. Sekali lagi, Eduarda yang baik memberi kesempatan pada Clotilde. Sementara itu sang ayah mencari orang lain diberinya si bayi. Bertemulah ia dengan seorang pelacur (Ines De Medeiros) yang tak keberatan memelihara di bayi, dengan syarat sang ayah tak lagi menemuinya. Sang ayah, yang meletakkan si bayi di kolong tempat tidur ketika bercinta dengan sang pelacur, tampaknya tak terlalu peduli. Tapi Clotilde mencium rencana itu dan sempat mengancam Sang Ayah dan meminta agar si bayi diserahkan saja kepadanya untuk diasuhnya bersama dua anaknya sekarang.

Sementara itu sang ibu, Tina, tampak tak peduli. Ia lebih banyak melamun atau mencoba melakukan bunuh diri. Clotilde lah yang akhirnya menjadi pengikat bagi hidup si bayi dan Tina, juga beberapa orang lagi di kawasan Fontainhas itu.

Cerita pada Ossos ini pantas untuk menjadi sebuah melodrama, tapi Pedro Costa bukan sutradara yang membuat film untuk mengeksplorasi rasa sentimentil penontonnya. Bahkan “penonton” seperti absen dari kepala Pedro ketika ia bercerita mengenai orang-orang depresi itu. Pedro seperti mendadar fakta apa adanya, maka cerita menjadi tidak mudah. Segala jenis formula yang berlaku guna mengeksploitasi emosi diabaikannya. Lupakan bahwa ada rumus semisal set up dan pay-off guna membuat penonton teraduk emosinya.

Alih-alih membangun kesatuan ruang-waktu, teknik editing film ini membangun semacam jarak emosional dengan para tokoh dalam film. Tak ada sudut pandang yang diikuti guna membuat kamera terus menjadi semacam voyeur yang terlibat pada persoalan. Pedro tak berminat untuk membangun kisah dengan sistematika ruang, kronologi waktu, maupun konstruksi mood (semisal Wong Kar Wai pada In the Mood for Love). Juga ia tak membangun asosiasi longgar antara dua pokok pembicaraan seperti gaya montage sutradara Rusia, Sergei Eisenstein. Alih-alih Pedro tampak seperti ingin mengejar kualitas spiritual dari segala macam perilaku yang mundane ini. Dengan kamera low key, Costa membiarkan peristiwa bicara terungkap sedemikian rupa agar bicara sendiri. Agak mirip dengan film-film Robert Bresson, tapi Pedro tak menggambarkan kehidupan tokoh-tokoh religius dan tak menggunakan ikonografi. Maka kualitas spiritual yang biasanya ditemukan pada visual motif film-film Bresson dicabut oleh Pedro Costa.

Atau tepatnya, kualitas spiritual itu dikejar Pedro bukan dari nobility, melainkan dari nilai-nilai yang dianggap degeneratif seperti pengabaian, keputusasaan, depresi hingga rasa ingin bunuh diri (suicidal). Pedro seperti sedang menggambarkan semacam etos tersendiri milik kelas pekerja yang lahir bukan dari kebebasan berpikir dan kemampuan mentransendensikan kenyataan, melainkan keterpaksaan dan rasa putus asa terhadap kenyataan itu.

Apakah Pedro sedang bicara untuk orang miskin di Fontainhas? Rasanya bukan itu juga tujuan utama sinemanya. Ia sedang menawarkan sebuah materi filmis yang dianggapnya penting, bukan untuk emosi penonton (bahkan tidak untuk kebencian terhadap perilaku mereka) tapi sebagai sebuah pokok soal, sebuah subject matter dalam kesenian yang sedang ditawarkannya: sinema.

Bones / Ossos. Sutradara: Pedro Costa. Pemain : Vanda Duarte,  Mariya Lipnika, Ines DeMedeiros. Negara : Portugal, 1997.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s