Ketika Pulang Kehilangan Makna

Skuter itu pun dibakar. Sang pemilik, Alit (Adilla Dimitri) mendorong pesta itu ke tepi pantai. Ia menyiramkan bensin ke kendaraan kesayangannya itu dan tak lama api menandai sebuah perpisahan. Sahabatnya Tasya (Dina Olivia) tertawa lepas. Sahabat serumahnya Bima (Winky Wiryawan) sempat kaget sejenak, tapi ikut tertawa juga. Sebuah perpisahan yang riang.

Lima tahun di San Fransisco, Alit memang akan kembali ke Indonesia, negeri dimana ia bisa makan gudeg sepuasnya. Ia tak butuh Skuter semacam itu di Jakarta. Itulah Alit. Seorang anak pertengahan usia 20-an yang punya hidup lepas dan agak bohemian. Bima percaya bahwa Alit sebenarnya mampu mendapatkan apapun yang ia mau. Tapi Alit memang tak mau.

Malam riang itu berubah menjadi sebuah pertaruhan bagi persahabatan mereka. Seperti kata-kata Alit, ia tak pernah naksir Tasya, ia tak pernah sayang pada Tasya. Sejak awal ia jatuh cinta pada Tasya. Hal itu bukan soal apabila Tasya bukan bekas pacar Bima dan Bima masih menyimpan rasa itu. Bahkan ia menyiapkan sebentuk cincin untuk sebuah komitmen lebih jauh dengan Tasya. Tapi Bima orang yang penuh perhitungan. Bima adalah seorang yang membaca kamus ketika duduk di kakus dan mematut pakaian serapi-rapinya. Bima bukanlah pengambil resiko. Sehingga soal berkomitmen serius dengan Tasya sekalipun ia buat neraca laba-rugi.

Alit menantang kedua sahabatnya di malam perpisahan itu. Di depan Bima dan Tasya ia ungkapkan cintanya pada Tasya. Kedua sahabat Alit ini terpukul. Bima merasa Alit melewati batas. Ia pun menantang Alit dengan cara Alit. Tak penting benar siapa yang kalah. Persahabatan mereka yang jadi korban.
Cinta segi tiga ini memang jadi semacam jalan buntu bagi Alit. Maka ia membakar skuternya, ia mengungkapkan isi hati terdalamnya, ia siap bertaruh akan persahabatnnya karena ia akan pulang.

Namun tiba-tiba pulang kehilangan makna bagi Alit. Sesuatu yang besar terjadi di tanah air. “Pulang” kehilangan pesona bagi Alit. Seharusnya ia runtuh. Namun Alit –Carlito ketika ia memesan burrito, makanan khas Meksiko– adalah sosok yang punya kelenturan luar biasa. Momentum ini jadi sebuah resolusi penting baginya dan akhirnya juga bagi Bima, sahabatnya.
6:30 adalah sebuah sketsa bagi kecemasan. Mungkin Bima bekerja dengan mapan di bank sehingga ia bisa beli rumah di San Fransisco. Mungkin Alit tak akan pernah punya kesulitan hidup di kota seperti San Fransisco karena akan selalu ada jaring pengaman semacam Bang Udin, si pengelola lahan parkir, yang akan menyediakan kebutuhan harian. Namun pulang tetap merupakan sebuah pertanyaan besar bagi mereka. Kepulangan adalah sebuah langkah besar sekaligus rundungan ketidakpastian. Alit lebih yakin terhadap pulang karena selama ini sang ibu (suara dan gambar Jajang C. Noer) selalu mengontaknya dan siap sedia membelikannya gudeg jika Alit meminta. Dan Bima adalah wakil dari ketercabutan dan siap menumbuhkan akarnya sendiri di tanah yang baru. Amerika, San Fransisco, buat orang Indonesia sekalipun tetap merupakan sebuah lahan tempat hidup, harapan, dan impian disemai dan dituai.

Ketika kelompok anak muda macam Alit dan Bima (dan mungkin Rinaldy Puspoyo, sutradara film ini, dan Adilla Dimitri pemain sekaligus penulis skenario) merindu akan pulang dari perantauan mereka di luar negeri, mereka berada pada posisi sejajar dengan para eksil. Pulang tetap jadi sebuah ultima sendiri, sekalipun entah apa yang akan mereka temui di tanah air. Namun bagi borjuasi muda global macam mereka berada pada persimpangan berjalur banyak dimana pulang berada pada posisi sejajar dengan pengembaraan atau menanamkan akar di tempat lain. Pada titik inilah film 6:30 ini menghadirkan potret kecemasan bahwa “pulang” bisa sama sekali tak bermakna.

Namun gagasan menarik dari para pembuat film ini tertutup oleh rangkaian kelemahan teknis yang mendasar. Terlihat bahwa sutradara Rinaldy Puspoyo (anak dari Ketua Bulog Wijanarko Puspoyo) mengalami orientasi yang keliru. Ketimbang membangun adegan dan mengatur ritme filmnya, ia mengejar komposisi gambar. Komposisi yang dikejar pun komposisi gambar kartu pos, padahal kedalaman emosi hanya bisa didapat jika ia mengacu pada lukisan — katakanlah semisal yang dilakukan sinematografi film Banyu Biru yang mengacu pada lukisan impresionis. Akibatnya seluruh potensi ledakan emosi yang dikandung oleh film ini tak terjadi.

Perekaman suara juga berlangsung dengan sangat buruk sehingga mengesankan kota San Fransisco seakan berisi jalan bebas hambatan semua. Secara auditif film ini ramai, tapi nyaris tak ada adegan interaksi antara para tokoh dengan orang lokal. Sehingga muncul pertanyaan apakah orang Indonesia di San Fransisco bisa punya sistem pendukung kehidupan yang tak berhubungan sama sekali dengan orang setempat. Pengalaman San Fransisco jadi sesuatu yang tak punya nilai khas sama sekali. Mereka gagal menghubungkan diri dengan pengalaman hidup mereka dengan lingkungan sekitar mereka.

Kelemahan teknis filmmaking yang mendasar pada film ini memang membuatnya tampak tak punya poin penting di bagian awal. Rinaldy dan Adila bagai sedang memperluas wilayah dan memperbesar biaya permainan mereka saja. Film ini akhirnya mewakili sebuah generasi yang membentuk kantong sosial yang steril –bahkan ketika di luar negeri– ketimbang keluar menghadapinya. Mereka bukanlah tipe orang yang membakar skuter dan kemudian menggugur gunung di hadapan.

6:30. Sutradara: Rinaldy Puspoyo. Pemain: Adilla Dimitri, Winky Wiryawan, Dina Olivia.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s