Tan Malaka: Durhaka pada Siapa?

Foto latihan Opera Tan Malaka dari http://www.salihara.org

1

Saya berhasil mendapat tiket pertunjukan Opera Tan Malaka di Teater Salihara tanggal 19 Oktober 2010 yang menutup rangkaian Festival Salihara. Saya tidak akrab dengan opera dan relatif tak pandai menilai anasir pada opera dan ini kemudian menjadi persoalan dalam menikmati pertunjukan yang disutradarai Goenawan Mohamad ini. Tentu saya tidak berharap pada musik pop sebagai ilustrasi atau plot yang linear dan mudah dicerna atau tarian dinamis macam street dance pada opera ini, tapi terus terang saja anasir musik, drama dan gerak dalam Opera Tan Malaka malam itu membuat saya banyak berkerut kening ketimbang terhanyut. Kebanyakan anasir yang disajikan tak mudah saya mengerti, terutama rasanya karena saya memang tak terlalu mengerti musik.

Elemen drama dalam opera ini nyaris tak ada. Dalam pengantarnya, saya kutipkan di alinea ini, Opera Tan Malaka disebut sebagai “opera esei” karena yang dipentaskan bukanlah cerita melainkan discourse. Tak ada aktor yang memerankan tokoh, tak ada dialog antar peran. Ada dua penyanyi aria dan dua pembaca teks yang terkadang bersilangan, terkadang paralel. Dari segi ini, Opera Tan Malaka bisa dianggap sebagai “opera minimalis”.

Maka saya tak bisa menemukan elemen-elemen “tradisional” yang penting bagi saya dalam menikmati sebuah opera seperti cerita (dan plot) serta karakterisasi. Karena yang ditampilkan memang “montase dari pelbagai anasir yang berbeda: multimedia, gerak, teks, reportase, kur, puisi – di atas panggung yang didesain dalam gaya Konstruktivisionis Rusia setelah Revolusi Oktober 1917.”

2

Maka dengan ketidakakraban pada pelbagai anasir tersebut – kecuali beberapa – maka saya masuk ke dalam apa yang disajikan oleh Opera Tan Malaka: discourse. Discourse itu disajikan dalam tiga babak, sekalipun bukan pembabakan Aristotelian yang kita pahami sebagai “awal-tengah-akhir” dalam pengertian perkembangan plot. Pembabakan dalam Opera Tan Malaka lebih mirip dengan pembabakan kronologis-tematis berupa pengujian terhadap perkembangan gagasan yang dibawa oleh tokoh tersebut dan benturan-benturannya dengan situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, saya tak bisa menangkap keseluruhan bangunan benturan tersebut dan pada tulisan ini dengan terpaksa saya harus berbagi kebingungan di beberapa tempat.

Tiap babak ditandai oleh semacam – kalau saya tak keliru – fanfare yang kemudian diiringi dengan satu dari dua penyanyi aria di opera itu, Binu Sukarman, yang menyanyikan tentang seorang ibu di jaman dulu yang didatangi oleh anaknya yang bermaksud untuk menjadi durhaka. Hmm, menarik. Apalagi ketika nyanyian ini menjadi penanda babak yang akhirnya terus memunculkan pertanyaan ke benak saya sepanjang pertunjukan berlangsung: terhadap siapa Tan Malaka durhaka?

Terhadap siapa Tan Malaka durhaka? Pada pengantar opera ini, Tan Malaka disejajarkan dengan Malin Kundang, tokoh cerita rakyat yang kita kenal sebagai anak durhaka. Sebagaimana Malin Kundang, Tan Malaka adalah seorang perantau, dan sebagaimana perantau yang pergi jauh, ia kembali untuk durhaka pada asal-usulnya. Tan Malaka sebagaimana Malin Kundang adalah antitesa terhadap yang lama. Ia adalah pembawa gagasan pencerahan dan rasionalitas dimana pesona sihir menghilang dan logika menjadi penguasa manusia.

Apakah dengan demikian berarti Tan Malaka telah mendurhakai logos manusia Indonesia yang bersandar pada pengetahuan non-rasional? Bisa jadi inilah kedurhakaan pertama Tan Malaka. Tapi bagi saya ada agenda lain dari Tan Malaka. Ia tahu persis bahwa pengetahuan non-rasional adalah salah satu musuh bagi revolusi dan kebebasan manusia yang diperjuangkannya. Di titik ini, Tan Malaka bisa dilihat bukan benar-benar anak kandung Indonesia. Ia sejatinya adalah anak kandung revolusi yang selalu bertualang demi revolusi yang dipercayainya. Maka ia selalu membawa beban ringan kemana-mana, termasuk tak ingin dibebani oleh logos lama yang non-rasional itu yang baginya bisa menghalangi revolusi.

Tan Malaka adalah anak kandung revolusi, dan ia percaya bahwa revolusi tak bisa dilakukan dengan “buku yang lama”, maka Tan Malaka pun menulis. Ia menulis dan menulis, 3 jam sehari dan ia pun absen dari peristiwa penting negerinya : Proklamasi Kemerdekaan. Sekalipun bagi banyak orang, Muhammad Yamin misalnya, Tan Malaka adalah Bapak Republik, ia berdiri di tepian memandangi proklamasi, entah apa sebabnya. Mungkin sejak awal ia tak percaya pada dua proklamator dan setting yang memunculkan mereka yang dianggapnya berkolaborasi dengan kolonialis. Mungkin ia merasa proklamasi yang dibacakan itu tak sungguh-sungguh berkeinginan mencapai kemerdekaan sepenuhnya, merdeka 100%, sesuatu yang kemudian menjadi gagasan yang dijualnya ketika mendirikan Persatuan Perjuangan atau PP.

PP ini tak terlalu disinggung dalam Opera Tan Malaka, sekalipun inilah yang menjadi titik balik perpisahan hubungan Tan Malaka dengan republik yang baru lahir – dimana ia tak ikut serta membidaninya secara langsung. Gagasannya lebih banyak muncul di coretan tembok dan ruang-ruang diskusi menghendaki “kebebasan” sepenuhnya dari kolonialisme, dan inilah yang menimbulkan sengketa ketika ia mulai mengumpulkan kekuatan untuk berhadap-hadapan dengan pemerintahan yang dibentuk dari hasil proklamasi.

Maka tibalah berita yang lembut tapi mengejutkan yang dibacakan dengan singkat oleh Niniek L. Karim: Tan Malaka dibunuh. Perbedaan pandangan terhadap revolusi dan kebebasan yang dicita-citakan Tan Malaka telah membawa pada kematiannya. Sang Malin Kundang yang durhaka terhadap revolusi, telah dijatuhi kutuk berupa kematian oleh revolusi itu sendiri.

Itulah kedurhakaan Tan Malaka: sejak semula ia tak bisa berinduk. Ia adalah gagasan bebas yang tak terkekang dan tak ingin terbeban. Ia melihat negerinya dengan mata elangnya dan menulis risalah tentang itu.

3

Siapa sebenarnya Tan Malaka? Penjelasan saya di atas hanya sketsa yang bisa saya dapatkan dari pertunjukan opera tadi malam. Tapi mungkin semacam sketsa itu juga yang bisa kita dapatkan  dari sosok yang sepanjang hidupnya berada “dari penjara ke penjara”.  (Panggung Opera Tan Malaka malam itu dipenuhi oleh jeruji sebagai metafor penjara.  Apakah ini yang membuatnya absen dalam berbagai momen penting bangsa ini ?) Opera Tan Malaka malam tadi juga sama sekali tak ingin membuat penjelasan apapun tentang Tan Malaka.

Alih-alih, Opera Tan Malaka malah dengan sengaja menyediakan Tan Malaka sebagai sebuah wadah yang kosong yang siap diisi, sebagaimana narasi penutup dari Whani Darmawan. Ia bagaikan nisan Pahlawan Tanpa Nama yang selalu ada di tiap-tiap Taman Makam Pahlawan. Tak penting betul sesiapa yang ada di bawah tanah yang diwakilkan oleh nisan itu karena nisan itu adalah simbol dan bangsa ini membutuhkan selalu nisan semacam itu. Nisan Pahlawan Tanpa Nama itu, dalam gagasan Ben Anderson, adalah artefak penting guna menentukan pembentukan sebuah bangsa dengan berangkat dari sebuah imagined community. Hanya dengan nisan semacam itu, simbolisasi bagi apa yang “dimiliki bersama” bisa menjadi kongkret dan akhirnya membentuk batas-batas imajiner bersama tentang kebersamaan tersebut.

Tan Malaka, melalui opera ini, telah dibawa memainkan peran proyek pembentukan Indonesia dalam kaca mata “Andersonian” itu. Pembiaran sosok itu tetap “kosong” telah membuatnya menjadi semacam penanda bagi kolektivitas Indonesia sebagai bangsa yang masih terus harus membayangkan kebersamaannya sebagai komunitas yang hidup bersama. Masih dalam konteks proyek membentuk Indonesia, lagi-lagi opera ini percaya pada pandangan Andersonian akan pentingnya barang cetakan sebagai penyebar gagasan nasionalisme. Menulis menjadi bagian penting dan dirayakan dalam Opera ini, bahkan digambarkan bahwa proses penulisan itu menjadi penyebab absennya Tan Malaka dari peristiwa mahapenting Proklamasi Indonesia sekalipun ia sesungguhnya ada di Jakarta pada saat peristiwa itu terjadi.

Pada opera ini, tampak ada kecenderungan untuk men-defamiliarisasi Tan Malaka, padahal sosok ini sejak semula sudah tidak akrab dalam stok pengetahuan kolektif kita. Ia memang tokoh yang seperti disembunyikan dari wacana umum. Buku-bukunya baru bisa diterbikan relatif sesudah Soeharto turun dan diskusi mengenai gagasannya kadang masih terasa dikenai stigma. Dan belum sempat kita mengenal dengan baik sosok ini, Opera ini dengan sengaja menempatkan Tan Malaka sebagai sosok mitikal dan misterius. Posisi misteriusnya dinikmati dan ketidakhadirannya dirayakan. Pada opera malam tadi, ia lebih banyak dikenali dengan tanda dan gagasan, ketimbang melalui sosok dan kisah.

Mengapa posisi begitu yang dipilih? Defamiliarisasi ini bisa jadi mengecewakan mengingat banyak yang datang – saya dan istri saya misalnya – berniat menonton opera ini dengan harapan bisa “mengenal Tan Malaka lebih jauh“. Namun ketika sifat mitikal dan misterius serta ketidakhadiran Tan Malaka yang malah ditampilkan, pertanyaan malah jauh lebih banyak datang ke benak saya ketimbang jawaban. Inilah sebuah strategi politik kebudayaan yang menarik, karena terus terang, memang ada semacam ekspektasi untuk “mengenal Indonesia lebih jauh melalui perkenalan terhadap Tan Malaka” yang saya bawa sebelum menonton.

Ekspektasi itu ternyata harus berhadapan dengan proses yang tak mudah. Selain diminta untuk mengenali berbagai anasir dalam opera ini (dimana saya kebanyakan gagal), ternyata ada hal lebih penting yang saya harus garis bawahi: tak ada yang bisa diambil begitu saja tanpa pikir lagi (taken for granted) mengenai Tan Malaka dan gagasannya. Dengan membiarkan posisinya yang tetap mitikal dan menyodorkan kekosongan sosok,  saya sebagai penonton harus bertanya lagi tentang sosok-sosok dan kisah-kisah yang sudah familiar bagi saya. Kekosongan sosok itu juga menghendaki saya berusaha untuk mengisinya, dengan bayangan saya sendiri mengenai “komunitas yang terbayangkan” itu dan posisi Tan Malaka di dalamnya. Inilah sebuah ajakan untuk tidak begitu saja menerima Indonesia dengan berangkat dari berbagai apriori yang sudah secara umum diterima dan dianggap kebenaran, karena sesungguhnya Indonesia masih membutuhkan kerja aktif imajinasi manusia di dalamnya untuk membayangkan seperti apa imagined community itu dan posisi keanggotaan dirinya sendiri di dalamnya.

Tan Malaka sudah mengambil posisi sebagai anak durhaka terhadap revolusi dan siap dengan kutuk yang menimpanya. Inilah dialektika yang ia bawa dan sodorkan bagi bangsanya ketika ia hidup. Dan kini, sekian tahun sesudah kematiannya, dialektika itu juga yang seharusnya hadir ke tengah-tengah kita.***

Advertisements

2 Comments

  1. Seandainya Tan Malaka cukup flamboyan (meski tetap menyadari pentingnya memberi jarak), mungkin dia sudah mengenakan kostum ala V for Vendetta. Lalu dia berkata, “There’s no flesh or blood within this cloak to kill. There’s only an idea.” 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s