Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian VIII – Kritik Film di Indonesia Bukan Cuma Jelek, Tapi Parah!

Joko Anwar kesal pada kritik film yang ia temui di suratkabar. Ia percaya kritik film penting, tetapi mengapa ada yang justru ia sebut membodohi? Mengapa pula ia tetap punya harapan tinggi pada kritik film? Di sisi lain, mengapa bagi Edwin, kritik membuatnya berhati-hati dan mempertanyakan apakah ia masih perlu membuat film?

Joko Anwar : (Kepada Eric sasono) Sekarang gue tanya lu balik boleh nggak? Boleh dong..

Eric Sasono : Iya, boleh.

Joko Anwar : Kritik film itu adalah yang sangat penting di perfilman. Tadi elo nanya Edwin soal sparring partner.Gue kira bakal ngomong ke situ..

Eric Sasono : Nggak jadi karena Edwin belum pernah dikritik..

Joko Anwar : Karena sparring partner yang paling bagus adalah kritik film

Edwin : Netral kan dia..

Joko Anwar : Artinya apa? Kritik film ini sudah harus jadi orang yang minimal seimbang dengan filmmaker atau lebih pintar karena they have to study film. Karena begitu elo jadi filmmaker, yang elo pelajari adalah teknik. Dari segi segi estetik waktu lo kurang. Seharusnya ada sesuatu yang mem-back up itu. Kritik film Indonesia parah! Bukan cuma jelek, parah! Elo tahu nggak kayak Kompas, on the record, Kompas!! (Joko mendekatkan mulutnya ke alat perekam dan mengeraskan suaranya) Dan itu akhirnya bikin susah karena membodohi. Kalau menurut lo gimana?

Eric Sasono : Gue belum lama sampai menulis surat ke redaksi Kompas.

Joko Anwar : Yang dibilang science fiction?

Eric Sasono : Ya. masak Bourne Ultimatum dibilang science fiction? Apakah yang nulis resensinya nggak tahu? Apakah editornya nggak tahu? Menurut gue, mereka give film critic a bad name, dan gue nggak rela. Penulis itu juga salah mengartikan Kala. Dia juga memakai kata ‘negro’ pada tahun 2006. Pokoknya banyak sekali lah. Dan itu bisa jadi ikutan dari semua kondisi yang kalian gambarkan. Penonton yang masih film buff-baru. Filmmaker-nya di bawah tekanan. Mereka sendiri juga adalah produk dari sebuah sistem kerja yang tidak respectfull terhadap film. Bahwa mereka tidak pernah membuat usaha ekstra misalnya untuk memahami film. Menurut gue bukan hanya film. Problem juga sama di seni rupa juga begitu, teater dan sebagainya. Semua. Tapi film sangat nyata karena film kan selalu mempunyai exposure lebih. Mass appeal. Dan kalau seni rupa ada kritikus dari luar. Tapi mereka menganggap enteng film. Bukan berarti bahwa film harus berat. Tapi bahwa lo harus ada respek dan passion. Itu yang menurut gue hilang. Tidak ada passion mereka sebagai penonton film. Problem lain lagi adalah pemahaman storytelling, pemahaman bahasa. Bahwa film juga kan grammar. Dan pemahaman itu parah.

Joko Anwar : Yang paling parah justru Kompas! Ini on the record lho ..

Edwin: Iya, gagap semuanya. Saya sih nggak pernah baca koran, nggak nonton TV. Saya lebih percaya internet. Maksudnya ya yang kayak model-model youtube gitu, yang memang personal. Buat saya mereka bisa lebih dipercaya. Bahkan seperti National Geographic juga gitu. Seharusnya kita bisa punya akses internet lebih cepat.

Eric Sasono : Elo mengharapkan apa peran kritikus? Apa yang lo bayangkan ketika membaca sebuah review?

Joko Anwar: Setiap gue membaca sebuah review dari luar negeri, apakah di majalah atau di internet, kayak rottentomatoes atau metacritic.com; bukan cuma filmmakernya yang dapat sesuatu. Bahkan gue sebagai penonton juga merasa: I see. Karena terkadang sebagai filmmaker lo merasa: it doesn’t work out. Kenapa ya? Karena kalau misalnya lo ajak ngomong gue sama Edwin ya kita kayak gini. Ya secara verbal kita nggak bisa ngomong.We can do it with the movies. Jadi kalau cari jawaban secara verbal what went wrong, itu susah. Harapan adalah hal itu datang dari film critic, what doesn’t work, why doesn’t work. I don’t care about it should’ve been done like this. Tapi gue perlu: why doesn’t work. Itu yang gue pikirin. Misalnya di RumahFilm ada beberapa kritik tentang ending film gue. Mereka bilang this .. this and this. Apapun itu, apakah elo setuju atau tidak dengan itu, elo sebagai filmmaker juga harus membuka diri. Dan jangan nolak, tapi itu semua harus diproses. Kalau gue, gue proses, dan pasti ada benarnya. Kritikus film yang baik adalah kritikus yang bisa membantu filmmaker menempatkan dirinya ada di mana.

Eric Sasono: Menurut elo gimana Win? Kritik film. Elo mengeluh film lo belum pernah dikritik. Apakah akan membantu dengan melihat kritikus yang sekarang ada?

Edwin: Pasti sih kebayangnya akan jadi sebuah input dari orang luar yang netral, yang tidak subyektif terhadap filmmaker atau filmnya sendiri. Pastinya akan membantu. Penting.

Eric Sasono: Joko bilang kritik yang baik yang bisa memberi tahu filmmaker dimana tempatnya. Buat elo apa Win?

Edwin: Ya, supaya jadi lebih hati-hati aja bikin film. Saya sih berharap ada kritik yang akhirnya bisa membuat saya berpikir: masih perlu nggak bikin film? Apakah saya berada di tempat yang benar sekarang ini?

Eric Sasono: Gitu ya? Masih se-eksistensial itu problem lo ya?

Edwin : Kalau elo sampai kapan jadi kritikus? Perlukah ada kritik terhadap kritikus?

Eric Sasono : Perlu. Perlu karena kritik pertama ya pembaca lah. Dan kritikus harus siap dikritik seperti halnya dia mengkritik film. Dan buat gue sendiri jadi kritikus kan kayak semacam kecelakaan, kalau gue mau jujur. Karena awalnya, elo tahu lah gue pengen jadi filmmaker, tapi merasa bahwa gue nggak berbakat.

Joko Anwar : Elo pengen jadi filmmaker?

Eric Sasono : Awalnya..

Edwin : Dia pernah bikin film pendek.

Eric Sasono : Ya, bikin film pendek. Gue ngerasa gagal. Merasa bahwa ada yang lebih berbakat lah..

Joko Anwar : Kenapa elo berhenti?

Eric Sasono : Ya gue merasa ada yang lebih berbakat aja ketimbang gue..

Joko Anwar : Elo mencoba dengan cukup nggak, sebelum elo memutuskan untuk berhenti?

Eric Sasono : Mungkin terlalu banyak batasan. Dan itu bisa jadi tekanan yang bikin gue nggak pede. Bikin gue nggak lepas bikin film dan itu..

Joko Anwar : Elo udah nonton film pendek gue kan? Sejelek itu! Hehehe..

Eric Sasono : Gue nggak cukup pede. Nggak cukup deterministik, nggak cukup konsisten untuk jadi filmmaker..

Joko Anwar : Menurut gue, elo terlalu cerdas.

Eric Sasono : Taik lu!

Joko Anwar : Maksud gue gini. Elo terlalu cerdas secara verbal. Filmmaker tuh biasanya idiosinkratik, man. Seseorang yang verbalnya oke banget, udah nggak butuh lagi. Lo dengan tulisan sudah bisa membuat orang: wow! Gitu lho..

Eric Sasono : Itu juga kan proses sebetulnya. Dan akhirnya gue merasa bahwa di situ passion gue lebih sampai. Gue ngerasa nemuin bahasa gue sendiri. Tadinya gue juga berpikiran untuk jadi novelis, nulis cerita, nulis fiksi. Sempat menulis skenario. Gue nyoba di Brownies dan gue merasa nggak ada challenge lagi. Gue sempat ditanya ketika menang kritikus terbaik DKJ 2005. Ada yang nanya: lo mau jadi penulis skenario atau penulis kritik? Gue merasa pertanyaan itu nggak perlu ditanyakan pada posisi gue waktu itu. Ya gue jawab, kalau ada pertanyaan yang memaksa, baru gue jawab pertanyaan itu. Kalau belum dipaksa oleh keadaan, gue belum akan menjawab. Belum lama ini satu skenario yang gue tulis tahun 2003 mau dibeli orang..

Joko Anwar : Terus, lo bilang?

Eric Sasono : Akhirnya gue bilang gue nyumbang cerita aja deh. Jadi diambil sama orang lain..

Joko Anwar : Judulnya?

Eric Sasono : Belum, belum jadi. Belum produksi. Kalau gue nulis scenario, mungkin gue harus berhenti nulis kritik..

Joko Anwar : Gue sekarang bikin film dan bikin kritik. Sinema Indonesia. Hehehe..

Eric Sasono : Garin masih. Sutradara dan kritikus film..

Edwin : Menurut elo film-film yang eksistensialis sekarang ini masih relevan nggak?

Eric Sasono : Mungkin gue nggak nyebutnya eksistensialis.. Mungkin pada dasarnya gini. Sekalipun Joko bilang dia sudah selesai dengan dirinya sendiri, tapi ada sesuatu dari dalam dirinya yang muncul dan keluar dalam film-filmnya kan? Somehow soal personal ini muncul. Ini soal ketika porsi personalnya besar banget, seperti film-film lo Win. Gue bisa ikut ngerasain sakit nonton Very Slow Breakfast. Buat gue justru mungkin jangan-jangan film-film seperti itu yang long lasting. Kalau Joko bilang harus ada ko-eksistensi, gue percaya film-film seperti yang lo buat itu menyumbangkan sesuatu. Belajar dari Malaysia lah. Mereka mulai dari Uwee Haji Saari dan sampai akhirnya Amir Muhammad dan kawan-kawan. Mereka memberikan sesuatu buat penonton film Malaysia. Itu kan muncul dengan adanya kelompok yang konsisten melahirkan karya-karya seperti itu.

***

Percakapan kemudian ditutup dengan obrolan lebih santai tentang berbagai hal. Tentang Joko yang sedang menyiapkan sebuah filmnya yang judul sementaranya mengandung frasa 24-frames. Ia juga teribat dalam reality show, On the Lot, sebuah reality show yang menguji ketrampilan sutradara muda berbakat. Juga tentang Edwin yang bercerita bahwa ia masih terus berkutat dengan penyelesaian Babi Buta yang Ingin Terbang.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s