Edwin dan Joko Anwar di Tornado Coffee, Kemang, 31 Agustus 2007

Sisi storytelling masih menjadi masalah besar film Indonesia. Itukah sebabnya mengapa Joko Anwar mengaku terus mencari formula yang bisa membuat penonton Indonesia going gaga? Lalu mengapa Edwin berkeras bahwa orang Indonesia memang gagap mengekspresikan apa yang ada dikepalanya? Kita juga bisa ikuti mengapa Joko dan Edwin berani menyebut bahwa di negeri ini banyak filmmaker punya aura jahat.

Eric Sasono: Gue mau ngomong storytelling ya. Dalam soal storytelling pertanyaan buat kalian beda-beda. Kalau buat lo Jok, pertanyaannya soal re-invention dalam konteks film Indonesia yang sudah lo definisikan. Seperti apa lagi re-invention itu?

Joko Anwar : Lho, kalau ngomong Indonesia sebenarnya gue sebagai filmmaker berbeda sama pendapatnya Edwin. Kalau dia merasa sebagai filmmaker di jaman sekarang ini it’s not very favorable buat dia, buat guefavorable. Karena kita belum menemukan formula yang bisa membuat penonton Indonesia merasa going gaga. Kalau Hollywood udah ada formula yang bikin mereka going gaga. Blockbuster, Harry Potter and the stuff. Kalau Thailand ada sendiri yang bikin mereka going gaga. India jelas, songs and dance. Indonesia belum ada. Di situ pencarian yang menurut gue sangat menarik sebagai filmmaker yang berada di jaman sekarang. Jaman dulu tahun 1980-an ada Sundel Bolong contohnya, itu bikin kita going gaga.Beranak dalam Kubur, Dono Kasino Indro. Karena belum ada banyak sekali film luar yang mempengaruhi otak penonton. Kalau sekarang sudah banyak sekali going on di kepala penonton. Lantas formula dalam film Indonesia apa? Belum ada. Makanya gue sekarang sebagai filmmaker merasa excited.

Eric Sasono: Justru menurut lo ini saat puncak gitu ya?

Joko Anwar: Saat yang baik untuk mencari itu.

Eric Sasono : Dengan dua film lo, merasa nemu sesuatu nggak?

Joko Anwar : Belum!

Eric Sasono : Belum?

Joko Anwar: Belum, tapi I’m proud of it! Sekalipun setiap gue nonton film gue pasti ngeliat kesalahan. Kalau misalnya film gue diputar di festival gitu, gue begini (Joko menutup wajah dengan tengannya). Tapi apakah dua film ini sudah jadi film yang gue cari-cari? Belum.I want to find that, man! Gue mau mencari film yang benar-benar…. Bisa sebagai medium atas apa yang ingin gue katakan dan jadi sesuatu yang enak untuk ditonton dan dialami.

Eric Sasono : Kalau di box-office kita ada Sherina, AADC..

Joko Anwar : Sherina, AADC itu kasusnya seperti Dono Kasino Indro dulu. At that time bagus, tapi kalau misalnya dilakukan sekarang, kita sudah sangat terbuka sekali. Accessibilitas kepada film-film di seluruh dunia.

Eric Sasono : Maksud lo pada waktu itu penonton belum sadar film?

Joko Anwar : Belum banyak referensi..

Edwin : Jadi menurut lo kalau AADC dibuat sekarang belum tentu laku?

Joko Anwar : Mmmm.. belum tentu. Tapi itu tidak mengurangi value film itu. Karena film itu dibuat untuk masanya dan berhasil.

Eric Sasono : Kalau lo Win, merasa storytellinglo itu bagian dari proses nggak sih, dalam konteks lo sebagai orang Indonesia?

Edwin : Oh iya. Kalau saya lihat sendiri ya film-film itu menceritakan sesuatu yang abstrak atau susah dijelaskan dengan kata-kata. Gagap gitu. Dan orang Indonesia itu kan gagap sebenarnya, kalau saya lihat. Orang Indonesia itu gagap untuk mengekspresikan apa yang ada di kepalanya dengan sangat clear.

Joko Anwar : Orang Indonesia iya. Dan itu wajar sekali. Emang kita sudah lama disuruh diam kok. Wajar aja. Nggak usahlah ngomong penonton. Scriptwriter aja masih begitu. Begitu kita ngomong, enak kita ngomongnya. Tapi begitu harus nulis, berhadapan dengan keyboard: switch! Perbedaan bahasa lisan sama bahasa tulisan..

Eric Sasono : Lo merasakan kegagapan itu ketika mengerjakan dua film lo? Orang yang bekerjasama dengan lo? Atau penontonnya?

Joko Anwar : Itu nggak gue anggap kesulitan ya. Gue merasa itu advantage. Kan film itu akan lebih berhasil jika sebuah society yang masih sangat, katakanlah, belum terbuka, ketika mereka menonton, film lo berhasil membuka ruang-ruang di kepala. Itu successful. Daripada kalau misalnya gue bikin film di sebuah society yang sudah gape bikin film, impact-nya nggak akan sebesar kalau gue bikin di Indonesia.

Edwin : Sebenarnya tuh kalau lihat film-film lo yang dua itu sebenarnya elo bikin film untuk film..

Joko Anwar : Banyak yang bilang itu dan gue harus setuju walaupun sebenarnya nggak sengaja. Karena memang dasar gue adalah membuat film untuk memberikan efek yang sama sebagaimana film-film yang gue tonton memberi efek ke gue. Gue memang sangat worship film. Meskipun dia nggak bisa menimbulkan bau. Hehe. Film itu harus apa? Harus fun. Sebuah film itu harus fun dengan levelnya sendiri-sendiri. Padahal gue menganggap film seperti The Last Picture Show bukan film komedi yang bikin penonton hahaha, tapi so fun. Irreversible atau I Stand Alone yang sangat depresif menurut gue pantes. Setuju nggak lo?

Eric Sasono: Ilustrasinya?

Joko Anwar: Ilustrasinya gini. Banyak film Indonesia itu mean spirited. Apa ya bahasa Indonesianya?

Eric Sasono: Berniat jahat?

Joko Anwar: Bukan berniat jahat. Spiritnya tuh jahat. Setuju gak lo? Seakan-akan bilang ‘gue hukum nih’ penonton dengan nonton film itu. Setuju nggak lo? (Joko menyebut satu judul yang dianggapnya mean-spirited itu, tapi ia meminta agar judul film itu jangan ditulis)

Edwin: Auranya jahat.

Joko Anwar: Exactly! Auranya jahat. Dan kecenderungan ini sangat luar biasa lho di Indonesia.

Edwin : Karena situasinya juga sih. Aura filmmaker-filmmaker kita ini jahat.

Joko Anwar : Elo merasa nggak beberapa waktu yang lalu film independen semuanya tentang apa? Tentang drugs. Dibikin seperti… kayaknya penonton mau dilempar durian ke mukanya, gitu. Duar!! Kecenderungannya gitu. Kayaknya dia merasa bahwa apa yang ingin dia sampaikan tidak akan kesampaian kalau dia tidak menyampaikannya dengan jahat.

Eric Sasono : Hehehe..

Joko Anwar : Coba film Stanley Kubrick, Clockwork Orange, itu film yang sangat sadis, sangat gila. Tapi nggak mean spirited gitu. Lo ngerasa nggak?

Edwin : Bukan ini sih. Tapi ketika seluruh sistem yang berkait sama film Indonesia itu punya kecenderungan ke aura yang jahat…

Eric Sasono : Maksudnya dorongan pasar?

Edwin : Segala macam. Semua. Filmmaker, pembuatnyalah, kritikusnyalah, ke penontonnyalah, industrinya sendiri apa pemegang kekuasaannya. Mean spirited gitu. Tak bersahabat.

Eric Sasono : Tidak bersahabat?

Joko Anwar : Jadi mereka bikin film itu bukan untuk something to celebrate. Menurut gue seharusnya ada something to celebrate. Ekstremnya lihat Ratatouille misalnya. Sekarang gue ada di sini, dan gue melakukan semua ini karena kecintaan sama film..

Edwin : Lo ngerasa ketika bikin film ada sesuatu yang seharusnya nggak lo pikirin gitu kan? Kayak tekanan-tekanan yang nggak perlu ada, gitu kan?

Joko Anwar : Banyak banget..

Edwin : Ada tekanan gitu waktu gue bikin film. Ya di satu sisi sih kalau orangnya kuat bisa aja mencuekin gosip. Salah satu tekanan itu ya gosip-gosip. Itu yang paling kelihatan jahatnya..

Joko Anwar : Tapi gue gak tahu ya. Di beberapa negara filmmaker sangat dekat. Di sini? Saling gontok-gontokan nggak sih?

Edwin : Gontok-gontokan sih nggak. Tapi tusuk-tusukan dari belakang sih iya. Kita bisa rasain auranya. Ada yang berdarah nih!

Joko Anwar : Yang paling salah di Indonesia sebenarnya ini. Semua orang merasa bahwa everbody else is competition. Salah.It’s wrong! Salahnya apa? Masih bodo-bodo semua! Saingan sama Ang Lee. Jangan sama Joko Anwar, sama Edwin..

***