Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian – VI Saya masih Mencoba Memfilmkan Bau

Joko Anwar merasa di era kini hampir mustahil untuk bisa meraih invention baru di film. Semua praktis telah ditemukan. Tapi, menyumbang re-invention masih dimungkinkan. Lalu apa re-invention yang digagas Joko? Mengapa pula ia sangat menyukai film-film yang memprovokasi? Film seperti apakah itu?

Eric Sasono : Win, Lo ngelihat craftmanship nggak dari film-filmnya Joko?

Edwin : Ada usaha ke arah sana.

Joko Anwar : Ada usaha. Haahhaha! Berhasil enggak, nomor dua.

Edwin : Ada. Storytelling jelas. Lo sebagai penulis, penulis yang bagus. Lo bikin film Janji Joni itu, terhiburlah yang nonton film itu. Paling itu kan maksud lo bikin film itu? Maksudnya, Joko dan cintanya terhadap film selalu kelihatan di dua filmnya. Dari Janji Joni ada passion film. Statemen-statemennya tentang film, itu ada semua. Pada Kala juga, tapi dalam bentuk yang beda. Meminjam istilah Joko, genre-bending. Itu menarik banget. Kalau saya menjadi seorang Joko memang itu yang paling asik. Ketika kita sudah tahu semua struktur yang benar bagaimana. Ayo dong kita main-main dengan ramuan yang tadinya baku itu. Jadinya dia tahu posisinya dimana dalam film-filmnya itu..

Eric Sasono : Jadi lo juga bisa ngeliat bahwa ada statement yang diucapkan Joko dalam film-filmnya?

Edwin : Mmm.. statement sih lebih ke sesuatu yang bukan personal. Tapi lebih tentang film. Tentang passion. Tentang sekelilingnya gitu. Belum kelihatan sih sesuatu yang personal dari dia. Maksudnya sih mungkin ada. Tapi nggak asiklah dibahas. Enakan ngebahas bagaimana teknik-teknik dia untuk menceritakan, untuk memain-mainkan genre noir di Kala? Sama orang-orang sekolahan Kala dilihat sebagai film noir yang salah. Padahal sebenarnya ya memang salah. Karena dia memang bermaksud merusak genre noir.

Joko Anwar : Satu hal yang sering diucapkan teman-teman ketika gue bikin Kala. Mereka bilang, bahkan mereka bikin di blog mereka, film itu another movie of Joko that would be misunderstood. Tapi selalu ada resiko itu ketika elo memutuskan untuk tidak memakai easy way. Sebenarnya kalau mau ditanya apakah ada yang personal dalam film-film gue? ada beberapa. Tapi per part kayak adegan Kala pertama kali ketika elo liat ada payung-payung dari atas ada seseorang datang berlari dari kanan ke kiri, itu adalah statement gue. I will not take easy. Ada beberapa orang yang hujan mereka jalan pakai payung. Mereka jalan dari kiri ke kanan. Kan kita biasa baca dari kiri ke kanan. Gampang ngelihatnya. Begitu kita baca dari kanan ke kiri, nggak biasa gitu. Mungkin film gue lebih dinikmati di Arab. Hahahaha… Dalam Janji Jonigue juga masukin personal statement gue. Bagaimana posisi gue di film, ada di situ. Kala juga seperti itu. Mungkin personalnya di situ. Cuma, karena film sebagai sebuah karya seni yang selalu dinamis, tidak akan terus berjalan kalau tidak ada yang breakthrough. Orang-orang Hollywood yang sekarang besar kayak Scorsese, Coppola, Spielberg, adalah orang-orang yang membuat industri film mereka terus bisa berjalan. Itu karena mereka breakthrough. Itu film untuk industri perfilman. Sebagai filmmaker itu juga sangat butuh itu. Karena sebagai filmmakerlo nggak bisa lepas dari keharusan untuk me re-invent. One of the true nature of filmmaker adalah re-invent.

Edwin : Joko keren lah.

Eric Sasono : Re-invent apa nih?

Joko Anwar : To invent sudah nggak mungkin dan mungkin sound ambisius tapi untuk me re-invent, untuk make it fresh sama seperti industri yang lain lah. We need to fresh stuff gitu. Hal-hal yang segar sangat dibutuhkan. Misalnya dulu ada hip-hop, ada metal. Tiba-tiba masuk Linkin Park. Musik apa ini? contohnya begitu. Industri berjalan karena ada Linkin Park. Penjualan CD naik lagi, apresiasi naik lagi. Tadinya ada yang bilang ini stuck, gitu. Karena itu bukan hanya true nature-nya filmmaker doang, tapi true nature of human..

Eric Sasono : Elo ngeliat film-film kayak filmnya Edwin akan ngasih sumbangan ke proses re-invent itu?

Joko Anwar : Exactly! Itu dia yang paling gue suka. Ketika orang mengambil keputusan membuat film mungkin sekadar sok jago. Atau mungkin sekadar eksperimental tanpa dasar. Dia jelas. Seperti Kara misalnya. Sering gue omongin di forum-forum. Bikin film pakai seluloid ketika bagian Kara. Ketika bagian McDonald, sekalipun gue nggak setuju dengan yang dia katakan, bahwa McDonald sebagai predator, he puts McDonald dalam konteks yang peyoratif. Mungkin gue nggak setuju sama itu, tapi gueadmire his statement. Karena he states something! Karena gue nonton film bukan mau jadi seorang penonton yang agreeable.

Edwin : Gue setuju..

Joko Anwar : Tapi gue ingin di-provoke. Pikiran gue mau di-provoke. Gue pengen tahu apakah ini benar, apakah yang selama ini gue pikir salah? Film-film dia itu will be like that. Babi Buta will be like that. Will provoke people. Makanya gue bisa menghargai Nagabonar Jadi 2 ketimbang elo (kepada Eric – red) menghargainya karena di situ gue nggak setuju sama Dedi Mizwar talking about nationalism dan whatever bullshit itu tapi it makes me think. Is it the right way, is it yang bisa bilang lebih bener deh, apakah lebih penting? Jadi gue bisa menghargai film itu walaupun gue nggak setuju sama penempatan posisi dia. Bagaimana sebuah film bisa menciptakan itu kalau nggak ada sesuatu yang ingin disampaikan, whatever it is. Apakah itu gagasan, apakah itu pertanyaan.

Eric Sasono: Lo ngeliat nggak, adanya limit dalam statement seorang sutradara dalam karya-karyanya?

Joko Anwar: No! nggak ngomongin limit sih. Sebenarnya kita coba ke teknis. Itu yang gue benci: limit. That’s why I break it.

Eric Sasono: Di sisi lain kan maksud guesome people should’ve known better. Beberapa orang seharusnya tak mengatakan hal yang tak dimengertinya.

Joko Anwar: Ada. Adapretensiousness happen ketika he doesn’t know what he’s talking about. Karena penonton adalah kamera. They don’t lie. Camera don’t lie. Kalo misalnya aktor yang nggak sincere, nggak bagus keliatan di kamera. Sama kayak film juga. Begitu dia trying to be something yang bukan dia atau mengatakan sesuatu secara palsu atau nggak sampai ke situ, keliatan. Tapi bener yang lo bilang. Ada limitnya kalau dalam konteks itu. Tapi sometimes orang bisa mengatakan sesuatu yang outrageous kalau misalnya he can find the way to do it. Kalau pada jamannya mungkin film Lolita. Ada yang salah. Misalnya, sorry to say, film I Love You Om. He’s trying to saysomething tapi dia nggak tahu caranya.

Edwin: Mau nambahin aja. Itu tadi Kara dalam pemilihan media, film dan video. Itu idenya Sidi (Saleh) sebagai kameraman. Dia menerjemahkan bagian belakangnya itu dengan video. Nah, balik ke teknis dan hubungannya sama limit. Limit di technical itu menurut lo udah pol banget atau masih ada batasannya? Kalau saya sendiri masih agak mencoba. Sampai sekarang tuh masih nyoba bagaimana caranya menimbulkan bau. Karena menurut saya keterbatasan film itu adalah ketika kita pengen mencium bau, itu nggak bisa real banget. Nah, lo apa Jok?

Joko Anwar: Lihat nggak lo, film Scracth Card. Filmnya John Waters..

Edwin: Atau lo punya cara lain nggak untuk menimbulkan bau?

Joko Anwar: Nggak pernah mikir itu, man..

Eric Sasono : : Punya kebutuhan itu?

Joko Anwar : Nggak. Karena film kan sight and sound. And smell, hehehe… Smell-nya, smell bioskop. Tapi bener yang gue bilang alangkah beruntungnya bapak-bapak kita ketika invention masih sangat sedikit. Jadi people do it all the time, happens all the time. Ketika mereka pertamakali meletakkan kamera di atas kereta api, kamera jalan. Itu track pertama, track movement pertama. Oh my god. Ketika Hitchcock track in zoom out, Oh My god. Sekarang gue udah nggak ngeliat lagi kemungkinan itu terjadi. But sometimes people came with something. Sudah lama nggak ya?

Eric Sasono: Irreversible kayak gitu? Mungkin invensinya lebih luas, nggak hanya sebatas teknis tapi juga storytelling.

Joko Anwar: Iya. Irreversible, bisa. Atau Memento.

Edwin: Tapi saya pengen tahu banget gimana caranya orang bisa ngerasain bau itu dengan tool yang kita punya sekarang ini. Nggak usah nyiptain alat-alat baru lagi. Karena kalau kita ngomongin moment yang didokumentasikan, memotret realita lewat film, bau kurang dieskplor sampai sekarang.

Eric Sasono: Tak cukup hanya dengan sight and sound?

Edwin : Maksudnya kalau kita mau mendokumentasikan kehidupan kita, tiap hari kita membaui sesuatu kan? Saya selalu membayangkan film itu gunanya untuk mengingat apa-apa yang pernah kita rasakan. Kalau misalnya nanti 10 atau 20 tahun lagi saya nggak bisa ngebau, gitu, nah bau itu gimana caranya nih sekarang. Saya butuh banget..

Joko Anwar : Emang nggak cukup dengan ekspresi. Ketika film American Pie, misalnya, ketika dia tiba-tiba mengambil coklat yang ternyata tai itu..

Edwin : Nah sekarang kalau lo lupa bau tai gimana?

Joko Anwar : Hahahahaha… Mungkin kalau ngomong sama Arya Kusumadewa nyambung ya. “Tuhan beri aku kentut..”

Eric Sasono : Mungkin soal kenangan. Bahwa film membangkitkan kenangan. Bukannya kenangan terletak pada scene? Kalau buat gue sendiri misalnya film lebih banyak pada scene..

Joko Anwar : Karena kita ngomongin bau literally. Kalau nggak literally sih gue ngerasain bau dalam film all the time. Ketika film itu hujan, gue bisa ngerasain bau hujan..

Edwin: Karena gini ya. Maksudnya kita kan ngerespon semua di otak. Bau itu kan di otak. Sebenarnya cuma alat doang. Mustinya ada cara supaya men-trigger sel-sel di otak untuk menciptakan sensasi bau.

Joko Anwar : headline lo tuh: Edwin mencari invension bau. Hehe..

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s