Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian – V Investor Sudah Bertanya “Kok Si Ini Bisa…”

Gelombang baru perfilman Indonesia, belakangan memunculkan fenomena film-film murah dan laku. Apa dampak trend ini bagi filmmaker?

Edwin : Kali ini ngomong bikin film cepat kayak Rudi (Sujarwo – red). Dia bikin kayak gitu gimana? Berapa hari tuh? Berapa juta? Bagaimana menurut lo?

Eric Sasono : Pertanyaan soal moda produksi ini buat beberapa orang sudah mulai mengganggu. Karena sudah jadi benchmark. Produksinya murah dan laku. Tuh lihat, penontonnya banyak. Mengganggu, karena beberapa investor sudah bertanya ‘kok si ini bisa..’

Joko Anwar : Itu kekhawatiran yang gue rasakan juga. Alumni FFTV IKJ pernah bikin diskusi sehari judulnya film instan. Itu diadakan karena kekhawatiran seperti yang gue bilang tadi. Beberapa sudah khawatir karena sekarang ada benchmark baru yang sudah sangat rendah, sehingga mereka yang ingin bekerja dalam situasi yang katakanlah lebih proper, dengan bayaran yang lebih manusiawi merasa ter-challenge, merasa terganggu. Apa sih bahasanya? Terancam! Seharusnya sistem produksi itu dipilih setelah kita lihat filmnya apa dan dipilih yang cocok untuk film itu. Kalau misalnya ada orang yang bilang bahwa film disyuting 7 hari tidak benar, gue tidak setuju. Karena tergantung mau bikin film apa. Ada orang yang bikin film satu hari. Russian Ark misalnya, syutingnya cuma satu hari karena one take.

Edwin : Tapi juga nggak 700 juta (rupiah)..

Joko Anwar: Blair Witch Project… itu 200 juta.

Edwin: Tapi juga bukan buat mainstream, komersil.

Joko Anwar: Maksud gue, lo mau bikin film sistemnya seperti apa, syutingnya sesuai dengan filmnya, gitu. Kayak film Little Shop of Horror tahun 1968 misalnya, syuting cuma dua hari, modalnya juga kecil, box-office dan dianggap sebagai milestone film horror. Bersama Blair Witch Project, Little Shop dianggap film yang sangat jenius. Sekarang masalahnya di Indonesia sistem produksi film sesuaikah dengan filmnya? Sistem produksi yang digunakan, film instan itu, apakah sudah sesuai dengan film yang diproduksi? Jadi kalau ditanya benar atau salah? Salah! Seharusnya yang dipertanyakan bukan sistem produksinya tapi apakah cocok dengan film yang akan dibikin. Kalau kita lihat, film yang dibikin itu sebenarnya film dengan lokasi banyak, membutuhkan persiapan besar, sehingga syutingnya juga seharusnya lebih proper. Masalahnya kan di situ. Sekarang masalah kedua, masalah kekhawatiran orang-orang yang ingin bekerja dalam situasi yang lebih proper. Kalau menurut gue kita nggak bisa khawatir dengan adanya benchmark baru ini. Kalau menurut gue, sebagai filmmaker apapun posisi lo, expertiselo, lo harus membuat diri loindispensable. Jadi tidak bisa tidak, orang harus makai lo. Kalau misalnya ada art director yang satu produksi minta 100 juta (rupiah) sementara sekarang muncul anak-anak yang bisa dibayar hanya dengan 5 juta dan hasilnya sama, lalu salah siapa? Art Director itu nggak bisa membuat dirinya sangat bagus sekali sehingga harus makai dia. Kalau menurut gue, you have to make yourself indispensable.

Eric Sasono : Soal kualitas sumberdaya manusia…

Joko Anwar : Kita harus pakai Edwin, gak bisa kalau nggak pakai Edwin. Tapi dia mahal. Ya gimana dong, dia bagus dan kita butuh yang seperti itu. Jadi, orang harus pakai expertiselo. Karena memang hanya lo yang bisa ngelakuin itu..

Eric Sasono : Buat lo Win, apa produk-produk film instant yang lo tunjuk sebagai ‘keramaian palsu’ film Indonesia?

Edwin : Kalau buat sisi industri sih seru pasti. Tapi bukan, bukan masalah itu. Mungkin ke depannya akan ada semacam pijakan bareng-bareng, entah etika atau apa, yang bisa menjawab itu dengan lebih fair…

Eric Sasono : Win, guengedengerlo ngomong itu sebagai kru. Sekarang bagaimana lo sebagai filmmaker melihat sistem produksi seperti itu?

Edwin : Saya nggak pernah berada pada posisi itu. Maksudnya saya bukan kru yang dibayar, belum pernah menjadi itu. Film-film saya, saya cari dananya sendiri. Sampai sekarang ini belum pernah di posisi yang Joko ceritain tadi..

Eric Sasono : Iya, maka sebetulnya lo nggak terlalu khawatir juga mungkin..

Edwin : Sekarang memang belum kesentuh jadi nggak terlalu keganggu banget. Karena nggak ngerasain kan. Tapi nggak tahu kalau berikutnya saya mau bikin film yang untuk pasar..

Joko Anwar : Mungkin kalau Edwin sudah sampai di pertanyaan: ‘apakah gue harus hidup dari film’ baru kerasa…

Edwin : Iya.

Joko Anwar : Lo sekarang hidup dari mana?

Edwin : Ya video klip..

Joko Anwar : Nah, kalau kayak gue, hidup gue dari film. Gue nggak bikin iklan, nggak bikin video klip..

Edwin : Tapi video klip pun juga ada gitu-gituannya. Maksudnya kalau mau disamain bisa aja..

Joko Anwar : Itu masalah yang bakal dihadapi nanti kalau misalnya terbentuk asosiasi. Jaman sekarang okelah kalau kita mau bikin asosiasi dengan segala concern-nya. Fine. Tapi it’s not the end of the story. Pasti muncul masalah. Pasti. Masalah duit aja yang paling gampang. Karena salah satu yang diurus asosiasi biasanya adalah standar bayaran. Orang yang masuk asosiasi produser harus bayar sekian. Pasti orang mikir lah..

Eric Sasono : Jok, soal cari duit dari film. Lo sebut ada director for hire dan ada katakanlah director with statement. Banyak orang beralasan jadi director for hire dengan alasan dia lagi nyari duit sehingga akhirnya berada dalam posisi itu. Lo sendiri merasa bisa bertahan dengan statemen-statemen lo terus dalam bikin film?

Joko Anwar: Seperti gue bilang, si director for hire seharusnya mereka co-exist. Kita membutuhkan mereka. Tapi mereka harus… they have to make it with craft. Gue pengen tetap di sini. Makanya gue bikin production company. Make film for mass. Mungkin bukan gue yang nge-direct. I will produce it. Gue yang nulis. Tapi make it with craft. I’m very positive sama film Indonesia. Gue yakin kok. Tapi kita harus aktif. Gue harus aktif. Mungkin kedengarannya seperti bullshit, tapi gue seperti itu.

Edwin: Craftmanship yang gimana nih yang kurang?

Joko Anwar: Everything! Sekarang yang paling kurang menurut gue adalah kesadaran bahwa bahwa everything about teknik di film adalah storytelling. Kan selama ini orang selalu menaruh di pundak scriptwriter untuk storytelling. Padahal yang namanya camera movement, whatever itu semua storytelling. Craftmaship in what? In storytelling. Jadi bukan asal supaya kameranya dibikin keren segala macam. If it doesn’t tella story kamera bergerak satu mili pun don’t do it.

Eric Sasono: Lo ngelihat film-filmnya Edwin bagaimana?

Joko Anwar: Oh, Edwin adalah salah satu filmmaker yang sangat gue respek di Indonesia

Edwin : Taiklu!

Joko Anwar : Serius. Serius.

Eric Sasono : Kenapa?

Joko Anwar : Karena dia bisa membuat film-film yang seperti gue bilang tadi. Satu gel gitu. Kalau misalnya Edwin kita ibaratkan bikin kue, dia bikin gel gitu. As a whole, it’s very inspiring. Dan kalau gue lihat, dia punya storytelling walaupun dia nggak menyadari itu. Mungkin sangat intuitif tapi pemilihan medium apa segala macam itu storytelling..

Eric Sasono : Gue nanya sebaliknya. Win, lo ngeliat film-filmnya Joko gimana?

Edwin : Janji Joni dan Kala?

Eric Sasono : Iya.

Edwin : Copy paste aja dari jawaban Joko. Hehehe. Joko… anjing. Anjinglah Joko..

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s