Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian – IV Mereka Menonton Cenderung Untuk Mencari-cari Kesalahan

Setiap Sutradara memiliki rujukan kenangan sendiri. Edwin memulai dengan melahap film-film Hollywood. Sementara Joko Anwar menggilai film-film kunfu. Mengenai penonton film Indonesia sekarang? Joko menyebutnya mirip orang kaya baru, atau lebih tepat film buff baru. Tapi, apa alasan Joko menyebut penonton film Indonesia melek film sekadar judul?

Joko Anwar: Root film lo apa sih Win?

Edwin: Root film?

Joko Anwar: Maksudnya film-film yang lo tonton..

Edwin: Hollywood lah pasti.

Joko Anwar: Hollywood?

Edwin: Dari kecil nonton Hollywood lah. Film pertama kayak Jaws, Steven Speilberg, Indiana Jones, Rocky. Terus mulai bosan. Mulai ada Oscar. Kok yang menang Oscar nggak pernah saya tonton ya? Mulailah nonton Godfather, Silence of The Lamb. Ya udah trus mulai banyak sih tontonan. Animasi juga, Walt Disney. Sampai sekarang gue nonton animasi. Terakhir Ratatouille. Nonton film-film yang ribet sesudah sekolah film. Tapi nggak bisa dikaitkan deh. Sekarang ini saya bekerja lebih seperti kumpulan dari semua yang pernah saya tonton itu. Tapi lebih alam bawah sadar yang bekerja. Susah sih njelasinnya. Kadang-kadang nggak berhubungan apa yang kita pernah tonton dengan apa yang kita bikin. Beda bagian otak kayaknya..

Joko Anwar: Root film gue, film-film kungfu, film b-movie dan sekarang bikin film ya seperti itu.

Edwin: Waktu sebelum bikin film saya pernah nulis. Waktu SMA lah. Kan waktu itu belum kepikiran bikin film atau nulis. Ada cerita-cerita dan tulisan-tulisan sehabis nonton film atau baca komik. Kalau sekarang saya lihat tulisan-tulisan itu, sebenarnya juga nggak sama juga dengan yang ditonton masa itu. Jadi yang saya tonton cuma jadi trigger aja. Kalau film-film itu menjadi motivasi untuk membuat sesuatu sih iya. Kalau lagi nulis, susah ingat sama film yang pernah saya tonton…

Joko Anwar: Wah kalau gue sih all the time ..

Edwin : Saya gampang lupa sama apapun sih..

Eric Sasono : Buat lo penonton itu apa Jok?

Joko Anwar : Penikmat yang baik. Penting banget. Gue bikin film buat penonton.

Eric Sasono : Yang lo bayangkan penonton film Indonesia seperti apa?

Joko Awar : Penonton film Indonesia ini mirip orang kaya baru. Bedanya, penonton film Indonesia ini film-buff baru. Kita dulu susah untuk mengakses film. Film cuma yang diputar di bioskop karena kita tidak punya sistem distribusi video yang baik. Jadi terbatas tontonan kita. Tiba-tiba, muncul teknologi VCD yang lebih oke, lalu DVD yang memungkinkan semua film jenis apapun dari negara manapun bisa masuk ke Indonesia lewat DVD bajakan. Jadi gue pro-bajakan nih sekarang. Sebab penonton bisa mengakses itu semua. Terus ada semacam sindrom film-buff baru, mereka merasa diri mereka paling pintar, tapi sebenarnya nggak.

Eric Sasono : Jadi lo nggak percaya bahwa penonton Indonesia melek film?

Joko Anwar : Melek film sekedar judul. Mereka tahu filmnya, judulnya apa. Gue sering baca milis-milis, forum-forum, discussion board — kafegaul misalnya — kalau lo baca komentarnya lucu-lucu gitu. Lo bisa ketawa-ketawa sendiri karena mereka tahu judul, tapi begitulah… Misalnya mereka tahu film ini bagus karena ini itu. Tapi mereka bisa dibilang masih sangat artifisial. Apapun, mereka berpengaruh besar sama perfilman, karena penonton adalah faktor yang sangat besar. Attitude mereka itu menjadi faktor penting. Begitu mereka kena sindrom film-buff baru, mereka menonton film cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Jadi mereka selalu menempatkan diri di atas sebuah film. Padahal kalau lo mau mengambil sesuatu yang bagus dari film, mengambil manfaat dari pergi ke bioskop atau menyetel VCD, lo harus menempatkan diri setara dengan film itu. Lo masuk ke film itu mencari tahu what is that movie all about .

Eric Sasono : Dengan dua film lo ini, apakah lo bisa –katakanlah– mengarahkan penonton film Indonesia ini?

Joko Anwar: Mungkin terdengar arogan tapi that’s what I am doing right now. Itu yang bakal terus gue lakuin. Karena dari kecil, pendidikan yang gue dapat itu dari film-film yang gue tonton. Kalau gue masuk ke bioskop I want to love that film, dan gue dapat pendidikan tentang hidup, everything about it. Juga tentang how to treat people, how to deal with emotion dari film-film yang gue tonton. Tapi, begitu kita menempatkan diri di atas film, kita masuk ke bioskop untuk mencari kesalahan. Sekarang sindrom ini bukan cuma menjangkiti penonton biasa. Yang menulis kritik di koran di majalah semua seperti itu. Paling parah buat kritikus film ketika mereka kena sindrom film-buff baru. Mereka merasa tahu semuanya. Mereka nggak bakal dapat apa-apa. Dan mereka nulis!

Eric Sasono : Buat lo Win, lo sudah bikin empat film pendek. Menurut lo penonton film lo siapa sih?

Edwin : Nggak tahu..

Eric Sasono : Nggak tahu?

Edwin : Kalau yang datang itu sih kebanyakan anak-anak SMA…

Eric Sasono : Mereka ngasih komentar? Ada yang paling lo ingat dari komentar-komentar itu?

Edwin : Biasanya pertanyaan dan komentar mereka ada hubungannya sama logika. Misalnya di Kara. Patung Ronald McDonald itu jatuh dari mana? Terakhir ada yang nanya: ada anak kecil mukul-mukul Ronald McDonald pakai pedang di McD kenapa nggak distop sih, malah dikasih minuman? Semacam yang logis-logis begitu lah.

Joko Anwar : Nah, itu karena penonton film Indonesia masih melihat film per part. Padahal kalau nonton film kita harus menikmati the whole experience. Bukan cuma anak SMA, yang tua juga begitu. Mereka masuk untuk scrutinize… terutama film Indonesia. Karena berpikir film Indonesia bodoh-bodoh mereka masih berpikir di mana nih kesalahannya. Coba lihat film Barat, ‘wah, film ini keren banget’ dan mereka nggak mencoba untuk mencari kesalahan. Mereka melihat film Indonesia juga melihat sutradaranya. Beberapa sutradara Indonesia punya previlege atau mungkin anti-previlege, gue nggak tahu. Ketika mereka bikin film sesampah apapun mereka dipuji. Ada beberapa filmmaker kita yang gitu. (Film) ini bagus banget karena yang bikin si ini, si ini… (Eric sasono dan Edwin meminta Joko menyebut nama. Joko menyebut nama, tapi ia minta bagian itu off the record)

Joko Anwar : (bertanya ke Edwin) Seperti apa sih kritik film bagi lo?

Edwin : Kritik. Nggak ada sih yang ngritik. Perlu sih perlu.

Eric Sasono : Lo mengharapkan reaksi seperti apa sih dari penonton?

Edwin : Sudah biasa dapat reaksi begitu, nggak ada harapan lagi. Kalau Joko kan melihat: posisi penonton kita bagaimana, dia tahu. Dan dia berusaha mengajar mereka untuk pelan-pelan mengerti. Joko mau mengerti mereka, mereka mau mengerti Joko, ngobrollah mereka. Kalau saya sih nggak..

Eric Sasono : Nggak berusaha?

Edwin : Nggak. Susah, kayaknya. Nggak nyampe..

Eric Sasono : Kalau dibilang onani gimana?

Edwin : Ya nggak papa sih. Onani enak juga. Hahahahaha.. Sampai sekarang pun orang nggak akan onani kalau nggak enak..

Joko Anwar : Gue lebih suka onani lho, daripada sama orang. Tapi bukan film. Film gue nggak onani.

Edwin : Aku nggak terus-terusan lah. (Film) yang kedua pengen juga kayak Joko..

Eric Sasono : Tapi mungkin gini, pertanyaannya diubah. Lo merasa punya sparring partner nggak dalam film-film yang lo hasilkan? Atau dalam proses. Di luar kru ya..

Edwin : Di kru jelas ada ya. Makanya pakai kru yang sama. Kita tumbuh bareng lah. Di luar kru jarang banget kalau nggak bisa dibilang nggak ada, kali.

Eric Sasono : Festival punya arti nggak buat lo?

Edwin: Festival itu nyenengin di awal-awalnya. Saya merasa dihargai. Tapi ternyata sama juga. Dalam soal penonton sama juga. Tapi minimal, mereka di festival itu memberikan semangat untuk: ‘nggak papa, lo bikin film kayak gitu nggak papa’.

Joko Anwar : Sebenarnya festival film itu pentingnya buat seorang filmmaker adalah untuk sadar bahwa mereka nggak sendiri dan ruang bermain mereka bukan cuma di Indonesia doang. Mengunjungi festival menurut gue adalah pengalaman yang bikin kita humble. Karena bertemu banyak filmmaker yang bagus-bagus dan filmmaker yang keren-keren. Jadi kita nggak sombong dan kita bisa terpacu. Kalau kita nggak kemana-mana, kita cuma bikin di sini, apalagi kalau di negara sendiri dipuji-puji, ya sudah, putus. You are so good and you are so crap, nggak sadar!

Edwin : Ada sih partner in crime dari festival. Kita bisa kenal ada yang sama kayak kita. Punya masalah yang sama dan diskusinya, walaupun kecil, tapi punya arti. Kalau dari Malaysia ada Tan Chui Mui. Dari Filipina ada Joe Torres. Karakternya beda, filmnya beda tapi ada yang sama, kayak punya teman. Senang kalau ngeliat dia ngapain, atau sekarang lagi bikin film baru apa, pengen tahu apa yang lagi dikerjain. Kalau di sini ada Ifa (Ifansyah – red).

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s