Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian III – Wawasan Penonton dan Wawasan Filmmaker Timpang

Film dan perfilman Indonesia selalu menarik dibincang dan diperdebatkan. Tapi mengapa Edwin mengatakan film Indonesia tak ada, sementara Joko Anwar ngotot mengatakan sudah ada? Bagaimana pula dua sutradara ini memandang rekor film-film di box-office? Juga apa alasan Joko ngotot menyebut film yang totally escapism diperlukan?

Joko Anwar : Gue ada satu pertanyaan. Lo kan sekarang ini filmmaker yg sedang bikin film Indonesia. You do it in this country, man. Lo punya kekhawatiran nggak sih tentang film Indonesia, tentang perfilman Indonesia?

Edwin: Ada sih. Maksudnya gini. Perfilman Indonesia kan yang nyiptain kita sendiri. Itu sesuatu yang nggak ada sebetulnya. Istilah doang.

Joko Anwar : Lo ngomongnya masih kayak Slamet Rahardjo… ”film Indonesia emang sudah ada”? Sutralaaah ada, udah!!

Edwin : Ngga ada, Jok..

Joko Anwar : Ada lah! Suster Ngesot kan film Indonesia. Film Indonesia kan film yang dibuat…

Edwin : Dibuat orang Indonesia? Iya. Tapi, maksud lo perfilman kan?

Joko Anwar : Iya! Lo punya nggak kekhawatiran? Kalau gue punya…

Edwin : Nggak, nggak ke film. Perfilman Indonesia kalau memang masih kayak gitu tadi, bakal terus ada. Orang akan tetep bikin film.

Joko Anwar : Kekhawatiran gue begini… Gue ngomong dalam konteks director yang have something to say kayak Riri Riza, Nia Dinata. Mereka nggak akan bikin film seandainya mereka nggak punya sesuatu untuk dikatakan. Sementara ada director for hire. Buat gue Garin Nugroho masih director for hire, karena Opera Jawa juga dibuat … (Joko tak menyelesaikan kalimatnya. Film Opera Jawa memang dibuat untuk memperingati 250 tahun kematian Wolfgang Amadeus Mozart – red). Gue terus terang kepingin ada industri film di Indonesia. Karena industri akan memastikan semua orang yang terlibat tetep bisa bikin film, apakah mereka director for hire ataukah yang have something to say. Mereka harus bisa co-exist. Kalau kita lihat Hollywood misalnya. Mereka punya film yang totally escapism, tapi juga ada filmmaker yang punya something to say. And somehow mereka subsidi silang. Film-film yang escapism ini they still well made , masih bisa dihormati sebagai film. Nah di Indonesia, jalur yang escapism ini they are so bad. Dan kayaknya peningkatan wawasan film penonton dan wawasan pembuat filmnya timpang banget. Penontonnya makin lama semakin pinter karena pilihan makin banyak, DVD bajakan makin bagus, sementara filmmaker kita nggak. Gue takut kalau ini mati, kita bakal balik ke jaman dulu lagi tahun 1990-an. Coba, kebangkitan film dimulai dari apa? Dimulai dari komersil! lihat Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta. Tahun 1960-an ketika film Hollywood sangat boring orang lari dari bioskop. Nggak ada lagi yang mau nonton film. Orang-orang lalu menciptakan blockbuster. Ada yang bikin film dengan gaya mereka tapi tetap menarik penonton. Orang-orang kayak Steven Spielberg mungkin sekarang dilihat sebagai mainstream filmmaker. Tapi tahun 1971-1972 dia dilihat sebagai pionir ketika baru pertamakali bikin film blockbuster Jaws. Juga Martin Scorsese, Francis Coppola dengan film-filmnya. Film-film komersil yang memulai semua ini. Nah, kita ini komersilnya nggak jalan. Tahun ini coba. Film apa yang huge success?? Nggak ada! Kecuali mungkin Nagabonar Jadi 2. Bukan Bintang Biasa yang didesain sebagai film yang sukses nggak laku karena suatu hal. Padahal promonya gila-gilaan. Kekhawatiran gue cuma itu.

Edwin : Buat Joko kekhawatirannya masuk akal karena dia melihat bahwa film itu ada karena ada yang nonton. Dan kalau begitu berarti bisa dihitung. Jelas takarannya: semakin banyak yang nonton, eksistensi film itu jadi lebih gede.

Joko Anwar : Oke, gue koreksi sedikit. Perfilman itu eksis kalau ada penonton. Tapi bukan per film. Jadi kalau misalnya ada satu film target audience-nya memang kecil ya nggak papa juga.

Edwin : Tapi kan lo bilang tadi, semua dimulai dari yang komersil? Berarti komersil ukurannya box office lah, apa lah..

Joko Anwar : Iya maksud gue gini. Gue sekarang berada di jalur ini. Tapi gue butuh orang yang diseberang gue untuk bagus juga.

Edwin : Kenapa lo butuh mereka bagus?

Joko Anwar : Seperti gue bilang. Salah satu nggak bakal bisa maju kalau yang lain nggak maju juga.

Edwin : Kalau refer ke Hollywood sih memang begitu kondisinya..

Joko Anwar : Dimana-mana..

Edwin : Misalnya taruhlah nggak ada lagi yang bikin film, terus tiba-tiba ada satu film. Cuma filmnya Garin doang gitu, kayak tahun 1995-an. Itu film ada! Film Indonesia tuh ada..

Joko Anwar : Iya ada.. Tapi orang yang mau bikin film sangat terbatas. Gak semua bisa.

Edwin : Tapi film Indonesia tetap ada kan? Tadi kan pertanyaannya takut kalau film Indonesia itu nggak akan ada lagi?

Joko Anwar : Nggak. Gue takut akan kembali ke jaman itu lagi. Sekarang mau nggak mau kita harus kembali ke hakikat film sebagai sebuah karya seni yang membutuhkan banyak duit..

Edwin : Gue lihat sekarang kan film komersil ini jadi lebih nggak maju-maju di Indonesia… gitu ya?

Joko Anwar : Commercial filmmaking..

Edwin : Ya, commercial filmmaking lagi stuck banget. Nggak ada peningkatan dan nggak bener… Kalau lo boleh milih, kayak gini terus atau hilangin aja yang ini?

Joko Anwar: Nggak bisa!

Edwin: Nggak. Harus milih. Lebih enak mana begini terus — sampai seumur hidup lo — atau mendingan nggak ada semuanya terus yang nongol yang kecil-kecil aja?

Joko Anwar: Gue milih bakal berusaha untuk masuk ke sisi yang komersil. Karena gue pikir itu bagus. Makanya sekarang gue punya rencana sama Richard Oh bikin film untuk mass-market tapi dibikin dengan kompeten.

Edwin: Oke. Terus kalau lo lihat film-film di sebelah lain, film-film yang non-komersil itu, lo lihat sudah bagus?

Joko Anwar: Nah, kalau film yang di sebelah situ, parameternya agak susah-susah. Karena itu art movie, susah ngukurnya..

Edwin: Tapi keberadaan mereka..

Joko Anwar : Kalau menurut gue, sekarang jangan.

Edwin : Jangan?

Joko Anwar : Jangan.

Eric Sasono : Seberapa besar sih Win arti penonton buat film-film lo?

Edwin : Ya senanglah kalau mereka ada. Tapi gini. Film itu tidak dibuat untuk mereka pada awalnya. Susah gitu membayangkan siapa yang bakal menonton film saya, misalnya Babi Buta..

Joko Anwar : Terus lo bakal mencoba nggak? Misalnya kelak dalam perjalanan bikin film lo mikir penonton? Misalnya lo bikin Babi Buta karena ada yang ingin lo sampaikan. Pertanyaan atau apalah, itu lo coba untuk lempar sampai ke penonton nggak? Dengan kata lain, mencoba supaya penonton dimudahkan untuk bisa ngakses film lo.

Edwin : Sudah pernah dicoba sih, tapi susah banget Jok. Susah banget dalam arti seperti menebak-nebak beribu-ribu, berjuta-juta karakter orang gitu. Film Babi Buta itu awalnya dari sesuatu yang personal, sesuatu yang pribadi, kok sekarang jadi buat orang lain. Maknanya kok berkurang rasanya. Terus ya sudah… kita balikin lagi. Sepanjang kita yang bekerja mengerti filmnya, beres. Kru kita kecil tapi punya keunggulan. Bisa ngobrol terus-terusan. Itu aja yang terus di-maintain. Jadi mereka bekerja karena sudah tahu apa yang mereka kerjakan. Kita semua tahu karena kita tahu apa yang harus kita kerjakan. Pernah suatu masa kita meeting untuk membayangkan kita jadi penonton, atau memikirkan penonton gitu. Berubah semua yang kita rencanakan, jadi kehilangan nyawanya.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s