Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian I – Lewat Film Saya Bisa Bikin Puzzle

Di De Doelen, Rotterdam 2009

Tiga tahun lalu saya mengusulkan untuk mewawancara Joko Anwar dan Edwin. Namun ketika saya hubungi, Joko Anwar mengusulkan agar bentuknya saling tanya saja ketimbang wawancara. Maka jadilah percakapan tiga pihak yang pernah saya terbitkan di http://www.rumahfilm.org ini.

Ketika percakapan itu saya lakukan, saya berangkat dari alasan bahwa kedua sutradara muda ini memang berbakat. Namun saya tak menyangka bahwa dalam 3 tahun mereka sudah menjadi bakat-bakat yang juga diperhitungkan oleh sinema dunia. Film ketiga Joko Anwar, Pintu Terlarang, menjadi salah satu dari 100 film pilihan dekade 2000-2008 dari majalah Sight and Sound, sebuah majalah film bergengsi terbitan British Film Institute, Inggris. Filmnya yang lain, Kala, menjadi peraih penghargaan tertinggi bahkan ketika harus bersaing dengan film buatan sutradara terkenal Jepang, Takashi Miike.

Edwin dengan satu film panjang juga membuat jejak yang lumayan panjang. Filmnya, Babibuta Yang Ingin Terbang, berkeliling di 46 festival dengan berbagai penghargaan. Terakhir, nama Edwin masuk dalam buku Take 100: 100 New Directors and The Future of Films terbitan Phaidon yang menempatkannya bersama banyak pembuat film lain dengan nama besar seperti Bong Joon-Ho atau Carlos Reygadas.

Maka meninjau kembali percakapan yang terjadi 3 tahun lalu itu adalah sebuah tinjauan terhadap catatan kreatif dan lingkungan yang telah melahirkan mereka serta komentar mereka terhadap hal itu. Banyak pernyataan yang bisa dilihat jejaknya kini, dan mungkin nanti.

Di Tornado Coffee, Kemang, Jakarta, tempat para pekerja film sering berkumpul, 31 Agustus tahun lalu Joko Anwar bertemu dengan Edwin. Ditemani Eric Sasono, redaktur RumhFilm keduanya berbincang seru tentang ide, pencarian cerita, identitas, juga tentang director for hire. Joko memulainya dengan bertanya pada Edwin:

Joko Anwar :Kenapa lo milih Babi Buta yang Ingin Terbang sebagai film panjang pertama lo. Juga kenapa baru sekarang lo bikin feature?

Edwin : Tiba tiba ada perasaan kalau misalnya setahun atau dua tahun lagi sesuatu terjadi dan saya nggak bisa bikin film lagi, kira-kira harus bikin film apa? Apa sih yang paling saya pengen. Ternyata nongol lah cerita tentang babi buta yang ingin terbang ini; sebuah cerita yang sebagian besar, hampir 90%, adalah tentang pertanyaan-pertanyaan saya mulai dari kecil sampai sekarang. Tentang identitas lah

Joko Anwar : (Identitas) Sebagai?

Edwin : Sebagai… sebagai Edwin. Sebagai manusia yang kebetulan ternyata keturunan Cina. Terus juga banyak banget pertanyaan-pertanyaan yang waktu kecil kita ngga bisa tanya. Seperti: kok dilemparin batu? Kenapa? Kok yg lain nggak dilemparin batu?

Joko Anwar : Pernah dilemparin batu?

Edwin : Pernah.. pernah..

Joko Anwar : Karena lo Cina?

Edwin : (Edwin mengangguk) Karena adik saya keliatan Cina. Saya nggak pernah dilempari, karena nggak pernah keliatan Cina dari dulu. Adik saya tuh tampangnya Cina banget. Dia sebenarnya yang dilemparin, tapi karena kita pulang sekolah bareng, jadinya ya gitu..

Joko Anwar : Terus, korelasinya sekarang apa? Itu nggak terjadi lagi dong sekarang?

Edwin : Iya, mungkin aja sekarang nggak terjadi lagi. Tapi tetep akan nggak selesai-selesai kalau misalnya saya nggak terlalu tahu jawabannya apa. Jadi sampai film ini jadi kayaknya masih ada sesuatu yang belum selesai. Kalau misalnya film ini nggak dibikin, nggak enak bangetdeh rasanya. Jadi memang lewat film inilah saya jadi bisa bikin puzzle dari segala macam pertanyaan-pertanyaan. Misalnya kenapa dilemparin batu? atau kenapa waktu SD kita disuruh nulis milih warga negara Indonesia, pribumi, atau warga negara asing? Itu pertanyaan-pertanyaan yang nggak bisa dijawab sama orang tua dari dulu. Sekarang ini saya bisa konsentrasi untuk cari tahu kenapa semua begitu. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi kenapa ini terjadi, bagaimana itu bisa mempengaruhi personality seseorang.

Joko Anwar : Dapat nggak jawabannya dari bikin film ini?

Edwin : Minimal sih. Jawaban bulatnya tetepribet, tapi minimal ada sesuatu yang keluar. Bisa dibahas. Seneng bisa ngobrol sama anggota tim lainnya. Sama Dede misalnya, dia Cina juga. Sama Sidi (Sidi Saleh, sinematografer di film Edwin, red.) walaupun dia bukan Cina, tapi dia ternyata juga punya masalah karena dia Arab gitu. Walaupun masalahnya sepele-sepele tapi ternyata dia juga punya yang kayak gitu-gituan. Maksudnya, sesuatu yang tidak bisa didiskusikan selama berpuluh-puluh tahun ternyata sekarang pelan-pelan mulai enak untuk diomongin.

Joko Anwar : Film ini kan budgetnya terbatas. Sekarang kebanyakan orang menyikapi keterbatasan budget dengan menggunakan medium video ketimbang film seluloid, sementara lo masih tetap pakai film 35 milimeter. Kenapa? Pertimbangannya apa?

Edwin : Balik lagi ke tadi, di awal. Misalnya kita nggak bisa bikin film lagi, mau bikin film kayak apa? Yang pasti saya sih milih pakai film.

Joko Anwar : Kenapa?

Edwin : Itu alasan yang sangat romantis sebenernya. Saya tahu sekarang kalau mau bikin yang kayak indie-indiean begini ya memang agak-agak nggak realistis. Tapi untuk sesuatu yang menurut saya punya nilai personal tinggi, kayaknya perlu diperjuangkan untuk mendokumentasikan semua pertanyaan-pertanyaan – proses kerja ataupun proses pencarian diri kita ini – dengan sesuatu yang paling maksimal. Bukan bilang bahwa video itu nggak maksimal, tapi bagaimanapun film itu punya semacam image dialah yang paling pol. Jadi kita pengen ini didokumentasikan.

Joko Anwar : Dengan kata lain lo bilang bahwa film lebih superior daripada video?

Edwin : Bisa dibilang begitu. Maksudnya apapun yang kita shoot dengan film, itu punya nilai romantis yang lebih lah…

Joko Anwar : Provokatif nih…

Eric Sasono : Lo punya kekhawatiran nggak Jok, bahwa lo nggak bisa bikin film lagi?

Joko Anwar : Mmm…nggak!

Eric Sasono : Kenapa?

Joko Anwar : Mungkin karena membuat film sekarang gampang ya. Film gue setelah ini aja gue pikir untuk dibikin pake video, syuting gerilya. By the way kenapa musti khawatir?

Eric Sasono: Pertanyaannya gini deh. Seandainya lo punya kesempatan sekali lagi saja untuk bikin film. Akan seperti apa film itu?

Joko Anwar : Nggak akan mempengaruhi plan gua. Sekarang di Indonesia – diseluruh dunia juga sebenarnya – ada 2 jenis director. Yang pertama director for hire, sutradara yang mengerjakan film karena dihire untuk mengerjakan film…

Edwin : Seperti siapa?

Joko Anwar : Banyaklah…

Edwin : Nama dong nama…!

Joko Anwar : Banyaklah! Misalnya seseorang dipanggil sama produser untuk bikin film, mmmm (dia tanya) berapa budget? Satu M? oke gue bikinin, ceritanya apa? Nah kan ada yg kayak gitu. (Kategori) Yang kedua itu director yang tak akan bikin film kalo tidak datang dari dalam dirinya sendiri. Dia lebih punya something to say gitu. Nah, gue kebetulan termasuk tipe yang kedua. Bukan berarti yang pertama lebih jelek dari yang kedua…

Edwin : Emang lebih jelek..

Joko Anwar : Iya sih… hahaha..

Joko Anwar : Oke, gue kan udah punya plan, film ketiga gue apa, film keempat apa, film kelima apa. Pertanyaan lo tadi nggak bakal mempengaruhi plangue. Kalau misalnya sekarang gue cuma punya kesempatan bikin satu film lagi, ya gue bikin film ketiga gue.

Eric Sasono : Nggak ada tema esensial yang harus lo sampaikan, seperti Edwin dengan persoalannya?

Joko Anwar: Film-film gue lebih merupakan reaksi sosial gue terhadap hal-hal yang terjadi disekitar gue. Kalau Edwin kan masih dalam dirinya nih, ada something inside yang harus dikeluarin. Kalau gue, I made peace with myself, hehehe. Jadi masalah personal searchinggue sudah selesai. Jadi sekarang lebih ke reaksi sosial, semua film gue kaya gitu. Janji Joni dan Kala sangat jelas reaksi sosialnya.

Eric Sasono: Gue mau tanya berkaitan dengan Kala dan pernyataan lo bahwa itu adalah reaksi sosial. Adegan homo di film Kalague rasa esensial banget buat lo, dan lo harus mengatakan hal itu dalam film ini. Gue merasa kalau itu sesuatu yang dalam sebetulnya. Buat gue itu adalah statement yang esensial dari film itu. Lo nggak nganggep itu sebagai sesuatu yang personal?

Joko Anwar : Mmm…sebenarnya nggak personal sama sekali. Sekarang kan kebanyakan orang memaksakan nilainya ke orang lain, dan parah. Indonesia sangat parah menurut gue. Pertanyaan gue adalah bagaimana jika orang yang akan menyelamatkan lo adalah orang yang mempunyai nilai berbeda dari lo. That’s it! Kenapa gue masukkan kalau si tokoh Ratu Adil ini homoseksual? karena pada waktu itu nggak bisa nyari yang lain lagi dan menurut gue itu yang paling gampang tanpa mengambil waktu banyak dari film itu.

***

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s