Terorisme, Sebuah Catatan Kaki dari Eropa

Cerita dibuka di sebuah pantai nudis. Ulrike Meinhof sedang berbaring di situ. Suaminya ada di dekatnya, dua anak kembarnya juga bermain di sana. Lihat wajah Ulrike yang cemburu pada seorang perempuan berambut pirang yang diajak ngobrol oleh suaminya. Kemudian adegan berpindah ke sebuah pesta taman di rumah Ulrike. Suaminya membawa dengan bangga sebuah pamflet politik, dan membacakan kolom Ulrike di situ. Dari situ kita tahu bahwa perempuan paruh baya kelas menengah ini punya pandangan politik yang tajam dan pendirian yang keras – tak semua orang gembira ketika mendengar kolomnya dibacakan.

Kolom itu berisi kritik terhadap pemerintahan Syah Iran terakhir, Reza Pahlevi. Sang Syah akan berkunjung ke Jerman Barat, ketika itu. Ulrike mempersoalkan penindasan dan kekerasan politik yang dilakukan oleh rezim itu. Dan ketika kunjungan itu terjadi, Ulrike bergabung dengan kelompok demonstran yang membawa spanduk dan meneriakkan berbagai cercaan kepada Syah Iran. Kekerasan terjadi. Pendukung Syah di Jerman sudah bersiap dengan kemungkinan demonstrasi dan mereka mengubah kayu pembawa spanduk dukungan menjadi pentungan. Polisi campur tangan. Darah tumpah, orang-orang terluka.

Inilah sebuah pembuka bagi episode panjang kekerasan politik dekade 1970-an yang melanda Eropa. Kelompok Baader-Meinhof yang bernama resmi Rote Armee Fraktion atau Red Army Faction (RAF) merupakan salah satu kelompok teroris paling keras di Eropa dekade 1970-an. Teroris tentu adalah pendefinisian resmi negara untuk kelompok politik yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Namun film ini telah membuat pendefinisian ‘teroris ‘ bagi kelompok yang dipimpin oleh Ulrike Meinhof, Andreas Baader dan Gudrun Ensslin ini menjadi terlalu sederhana.

Film yang diadaptasi dari laporan mendalam tentang kelompok ini berusaha tak sekadar menghadirkan potret yang ditangkap oleh momen sesaat. Kisah ini memperlihatkan Baader-Meinhof adalah sebuah proses yang lahir dalam situasi sosial politik yang tidak vakum. Dua puluh tahun sesudah Perang Dunia, Amerika sedang membangun kekuasaannya kemana-mana. Perang Vietnam sedang memasuki puncaknya, dan kubu-kubu politik terbentuk demikian tajam. Maka kelompok orang-orang dengan aspirasi yang tajam seperti Baader-Meinhof seakan mewakili hal-hal yang tak berani dilakukan oleh kebanyakan orang di Jerman saat itu.

Kultur tandingan yang dimulai dari gerakan mahasiswa kiri ini kemudian berkembang dan mengalami radikalisasi beriring dengan semangat serupa yang muncul di berbagai negara di Eropa. Namun film ini tak memperlihatkan hubungan langsung RAF dengan kelompok lain di Eropa semisal Brigade Merah. Hubungan langsung malah tampak dengan kelompok pro-Palestina di Jordania yang sempat melakukan penyanderaan terhadap pesawat Lufthansa 181 di tahun 1977. Jelas sekali bahwa kelompok ini melakukan pelatihan terhadap RAF dan menuntut pembebasan pemimpin-pemimpin RAF.

Setahap demi setahap perjalanan kelompok Baader-Meinhof bisa kita ikuti dalam film berdurasi 150 menit ini. Andreas Baader dan Gudrun Ensslin mengawali karir mereka sebagai pembakar department store untuk menyatakan perang mereka terhadap kapitalisme dan kekuasaan negara (termasuk Amerika ketika itu). Namun mereka membutuhkan ideolog yang mampu mengartikulasikan gagasan itu secara luas. Maka bergabunglah Ulrike Meinhof dengan sangat alamiah ke dalam kelompok kecil ini.

Pelan-pelan kelompok ini berevolusi menjadi kelompok yang menghalalkan penggunaan senjata. Penculikan, teror dan pembunuhan tak ragu mereka lakukan demi menyatakan pendapat mereka. Semua ini digambarkan oleh sutradara Uli Edell seakan sebagai fakta-fakta kering, termasuk kekerasan demi kekerasan yang mereka lakukan. Pendekatan reportase jurnalistik ini menghendaki penggambaran omnipresen, termasuk adanya sudut pandang aparat pemerintah yang berusaha menangkal gerakan mereka.

Tak urung pendekatan semacam ini akan menyebabkan tipisnya ikatan emosional penonton dengan para tokoh di dalamnya. Penonton hanya disajikan peristiwa demi peristiwa yang, by nature, sudah dramatis dan penuh dengan aksi tembak menembak. Bagi penonton yang tak terlalu paham mengenai konteks terjadinya berbagai peristiwa dalam film ini, maka fakta-fakta kering itu bisa lewat begitu saja tanpa makna.

Namun film ini diiringi dengan akting yang menawan dari para pemainnya. Martina Gedeck yang bermain menjadi Ulrike Meinhof memperlihatkan kebimbangan seorang perempuan paruh baya kelas menengah yang sekaligus bisa dingin menyokong ideologi yang dipercayainya. Moritz Bleibtrue sebagai Andreas Baader bisa memperlihatkan dirinya sebagai bola liar yang membuat gerakan ini menjadi meletup-letup tak terduga, termasuk menjadi motor bagi metode penggunaan kekerasan yang jangan-jangan berangkat dari dorongan adrenalin dirinya pribadi. Sedangkan Johanna Wokalek sebagai Gudrun Enlssin seperti mengimbangi gambaran dari Bleibtrue itu sehingga kita bisa yakin bahwa gerakan ini memang secara alami menggunakan kekerasan, dan bukan karena hanya dorongan Andreas Baader. Sebuah akting kolektif yang sempurna.

Keistimewaan lain adalah tata artistik film ini yang luar biasa. Sekali lagi sesudah The Live of Others, Der Baader-Meinhof Komplex berhasil menghidupkan kembali Jerman dekade 1970-an baik dalam arsitektur maupun desain. Tata artistik film ini bukan hanya berhasil meyakinkan secara visual, tetapi berhasil mengantar sebuah tamasya ke dalam a living period. Tampaknya memang dunia film Eropa, khususnya Jerman, memang sedang memasuki sebuah masa dimana produksi recent period drama (Goodbye Lenin, The Live of Others, dan film ini) akan lebih banyak dilakukan.

Karena tampaknya Eropa juga ingin mengubah pandangan bahwa sentra dunia bukanlah Amerika. Persoalan terorisme lebih dulu mereka hadapi dan tak hanya terjadi sejak 11 September 2001. Namun tercium juga kecenderungan bahwa baik situasi dekade 1970-an maupun saat ini sama-sama disebabkan secara langsung ataupun tidak oleh keberadaan “setan besar” yang diam-diam membelah dunia menurut warna mereka. Maka dekade 1970-an ini pun menjadi semacam catatan kaki yang panjang dan penting bagi terorisme kontemporer yang sedang dihadapi dunia saat ini.***

Judul:  The Baader Meinhof Complex (2008). Sutradara: Uli Edel. Pemain: Martina Gedeck, Moritz Bleibtrue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s