Karena Nurani Tak Pernah Sederhana

Pagi itu Michael Clayton terpana. Ia seakan pernah melihat pemandangan di depannya. Tiga ekor kuda di atas sebuah bukit kecil yang berkabut. Ditarik oleh rasa penasaran, Clayton menghentikan mobilnya dan mendekati kuda-kuda itu. Ia memandangi mereka dengan heran, seakan sedang berada di sebuah dunia yang asing  —  bukan dunia yang ia tinggali saat ini.

Pagi itu adalah sebuah ujung dari hari yang panjang bagi Clayton. Ia baru saja menemukan sebuah kenyataan pahit tentang rekan kerjanya yang paling dekat, Arthur Edens.

Clayton dan Edens bekerja di firma hukum Kenner, Bach, and Odeen, salah satu firma hukum terbesar di kota New York. Mereka punya 600 orang lawyer dan sedang menangani sebuah kasus dengan profil tinggi yang melibatkan U/North, sebuah perusahaan multi nasional. U/North sedang terkena gugatan class action akibat obat pembasmi hama yang mereka produksi. Para petani menuduh obat itu telah meracuni mereka. Tawar menawar sudah dibuat oleh U/North supaya para penggugat menghentikan usaha hukum mereka itu. Namun jalan keluar dari kasus ini masih jauh dari tampak.

Dan Edens menemukan sebuah fakta lain yang membuatnya seperti menemukan epifani. Fakta itu adalah dokumen yang memperlihatkan bahwa U/North memang bersalah dalam kasus ini.

Edens berubah dan bertingkahlaku seperti bayi; bahkan dalam arti harfiah. Edens melepas bajunya di lapangan parkir tempat negosiasi berlangsung. Edens memang pernah punya kasus depresi. Namun kali ini lain. Edens percaya bahwa semacam epifani ini akan mengarah pada sesuatu yang berbeda sama sekali. Edens siap berbalik haluan.

Edens pun berubah menjadi bola liar; dan Kenner, Bach and Odeen mencium kemungkinan tak enak. Mereka tak ingin Edens, lawyer paling ahli se-New York dalam soal class action, berbalik menghadapi mereka. Maka mereka meminta Michael Clayton, sahabat terdekat Edens sekaligus lawyer paling jago dalam membereskan soal-soal berantakan macam ini, untuk menjinakkan Edens.

Clayton tak berada pada posisi sulit untuk melakukan ini. Ia mungkin teman baik Edens, tapi ia adalah pribadi dengan rangkaian masalahnya sendiri. Clayton terlibat utang dan sejarahnya sebagai penjudi sulit untuk membantunya. Maka dengan 80.000 dolar, Clayton berangkat dalam misi menghentikan Edens dari mengikuti dorongan hati nuraninya.

Namun bukan hanya firma hukum itu yang gelisah terhadap Edens. U/North gelisah melihat Edens. Melalui direktur bidang hukumnya, Karen Crowder, seorang perempuan yang gelisah tapi telengas, U/North merasa perlu mengambil langkah-langkah pengamanan. Sampai akhirnya jalan terakhir mereka lakukan.

Selama 4 hari, Clayton menjalani hari-hari yang panjang untuk melacak apa yang sesungguhnya terjadi. Bagi orang yang sudah 17 tahun berkecimpung dan makan asam garam dunia hukum dan litigasi  –termasuk pintu belakang dan bagian-bagian gelapnya–  Clayton tahu persis apa yang harus dilakukan. Ia mendekati Edens sampai kemudian menemukan tragedi yang menimpa sahabatnya itu. Hingga akhirnya ia tiba di titik di mana Edens pernah berada. Maka Clayton pun berhadapan dengan U/North.

Dalam sebuah drama suspence dunia hukum yang penuh intrik, George Clooney sebagai Michael Clayton mengantarkan sebuah karakter abu-abu yang tak bisa dihakimi secara sederhana. Tak ada penjelasan mudah bagi karakter seperti Clayton. Ia seorang pengambil resiko sekalipun menyeret keras-keras Edens agar mengurungkan dorongan hati nuraninya. Ia seorang yang paham betul detil dunia hukum dan hitamnya praktek di sana, sekalipun ia tahu bahwa penghindaran konfrontasi terbuka selalu lebih baik. Film ini tak mungkin sukses tanpa George Clooney membawakannya dengan cara ini.

Tilda Swinton sebagai Karen Crowder merupakan lawan main yang luar biasa bagi Clooney. Penampilannya luar biasa efektif sehingga adegannya yang pendek-pendek sudah cukup mengenalkan sebuah kemungkinan ketika manusia didorong hingga batas terpinggirnya oleh tuntutan profesi. Swinton bahkan bisa menggambarkan situasi yang harus dihadapi oleh seorang yang akhirnya harus terjun bebas menghadapi resiko terbesar pekerjaannya sambil terpaksa untuk tidak berkedip. Jika Swinton beroleh Piala Oscar untuk perannya di sini, sangat pantas.

Sementara itu Tom Wilkinson sebagai Edens adalah sebuah pameran akting yang sama istimewanya. Epifani yang dialaminya harus meyakinkan sebagai MacGuffin alias sebab musabab terjadinya bagi cerita ini. Wilkinson bukan sekadar berhasil mengantarkan peristiwa itu dengan baik, tapi membuat kita bertanya tentang posisi kita sendiri ketika harus berhadapan dengan pertentangan moral sejauh itu.

Michael Clayton adalah sebuah tingkat selanjutnya dari thriller politik seperti yang disajikan oleh Sydney Pollack (ia memerankan Marty Bach di dilm ini) lewat The Firm. Sutradara Tony Gilroy mengantarkan cerita ini beserta karakter yang penuh kompleksitas dan tak pernah hitam putih sejak semula.

Maka ketika nurani diikuti, ia adalah bagian dari kompleksitas itu. Bahkan hati nurani mungkin adalah sesuatu yang agak eerie. Seperti ketika Clayton menemukan tiga ekor kuda di kaki bukit berkabut pagi itu. Gambaran itu pernah didapati Clayton di buku anaknya yang berjudul, Realm and Conquest. Clayton yang abai tak sempat membaca buku itu baik-baik, dan malah Edens yang memakainya untuk menyusun strategi melawan balik U/North. Maka ketika kebetulan itu terjadi: inikah sebuah spekulasi bahwa hati nurani berasal dari tempat semacam dunia mambang?

Mungkin spekulasi itu tak perlu sampai ke sana, karena kecemasan terhadap dunia yang diharapi oleh orang seperti Clayton atau Karen Crowder selalu nyata. Sekali lagi, Gilroy mengantarkannya dengan baik. Justru ketika ia sesedikit mungkin menyajikan tantangan dari luar bagi para tokohnya. Tokoh-tokoh dalam film ini, terutama Karen Crowder, lebih banyak ditampilkan sedang mengatasi hambatan-hambatan psikologis mereka.

Maka wajah George Clooney di akhir film di dalam taxi, entah menuju ke mana, seakan mewakili semacam kecemasan (?) bahwa yang namanya hati nurani memang tak pernah sederhana. Adalah penonton yang pada akhirnya harus menempatkan pikiran mereka di wajah Michael Clayton yang kosong di penghujung film itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s