Karena Saya Tak Kenal Manolo Blahnik

I do not care for movies very much and I rarely see them; further, I am suspicious of criticism as the literary genre which, more than any other, recruits epigones, pedants without insight, and intellectuals without love. I am all the more surprised, therefore, to find myself not only reading your film critic before I read anyone else in your magazine but also consciously looking forward all week to reading him again. In my opinion his column is the most remarkable regular event in American journalism today.

–W. H. Auden

Hari minggu (Juni 2008) rekan saya di Rumah Film, Hikmat Darmawan, menelepon. Kami berbincang tentang film midnight yang kami tonton. Saya menonton Sex in The City bersama istri saya, dan Hikmat bersama rekan saya yang lain, Krisnadi, menonton The Incredible Hulk. “Kaum lelaki, bersatulah,” seloroh Hikmat meledek saya. Saya tertawa saja.

Lalu saya bilang ke Hikmat bahwa tulisannya dimuat di Kompas edisi minggu. “Iya, tadi ada yang kasih tahu juga,” katanya. Saya bisa menduga siapa yang member tahu dia; tapi itu tak penting. Yang lebih penting adalah soal resensi Bre Redana untuk film Sex in The City di koran itu. “Kok bisa ya dia nulis begitu,” kata saya. “Kenapa emangnya?” Hikmat penasaran.

Saya dan istri saya adalah penonton serial Sex and The City dan kecewa dengan film layar lebarnya. Kalau menurut istri saya: ‘kenapa sih New Yorker digambarkan sekonservatif itu dalam melihat sex dan inti hidupnya cuma mengejar-ngejar laki-laki dan barang-barang bermerek?’ (istri saya lupa menyebut hadiah penthouse di tengah kota New York dan walking closet dan lain-lainnya). Saya berusaha menetralisir (kebiasaan saya selalu jika berdiskusi dengan istri saya) bahwa representasi yang dilakukan oleh pembuat film adalah pilihan yang bebas. Film memang tak semata menampilkan kenyataan, tapi pembuat film lah yang menampilkan kenyataan yang ia seleksi.

Diskusi soal ini masih panjang, tapi SMS dari Hikmat keesokan harinya seakan memberi jawaban. ‘Baca resensi Anthony Lane tentang Sex in The City.’ Saya segera membuka dan membacanya dan terkejut. Lane menulis dengan sangat baik. Ada bagian yang terasa berlebihan dan memaksakan humor ke kalimat panjang-panjang. Tapi Lane yang menulis di The New Yorker punya sinisme – sarkas di beberapa tempat – yang menohok. Terutama ketika tulisan Lane dibandingkan dengan tulisan Bre Redana.

Terus terang saja saya tak terlalu berniat menulis lema ini sampai seroang teman wartawan  bertanya lewat Yahoo Messenger apakah saya membaca tulisan Bre Redana di Kompas yang diiringi dengan emotikon happy face yang menyeringai. Saya juga memasang emotikon nyengir dan bertanya balik: apa masalahmu dengan tulisan itu? Rekan wartawan itu menjawab bahwa tulisan itu menghibu, rkatanya. Membuatnya tertawa hingga sakit perut. Sebuah sarkasme lain lagi.

Keputusan untuk menulis lema ini muncul ketika si rekan wartawan menyodorkan link ke tulisan Anthony Lane, serupa dengan rekomendasi Hikmat. Saya baca tulisan Lane sekali lagi dan tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang keliru. Sebagai seorang yangselalu  dituduh kelewat serius (dan tuduhan itu benar), saya jadi sangat terganggu dengan tulisan Bre Redana. Dalam tulisan itu, Bre mengajak kita tak usah serius melihat agenda empat perempuan estewe (‘pas lucu-lucunya’, kata Bre, entah apa yang dibayangkan Bre ketika menulis frasa ini) itu dengan segala remeh temehnya. Karena kalau Anda mengerti wanita, maka Anda akan tahu makna sepasang sepatu Manolo Blahnik (harganya 500 an dolar). Tentu saja beserta walking closet yang siap menyimpan koleksi puluhan atau ratusan pasang.

Sedangkan Lane, seorang New Yorker menulis untuk majalah paling begengsi di New York, mengomentari remeh temeh itu dengan sarkasme yang tetap penuh humor satir. Lane tidak serius, tapi prihatin. Inilah yang ditulis Lane tentang walking closet yang berpotensi menjadi tempat menyimpan koleksi Manolo Blahnik (duh, eksotis sekali nama ini buat orang dunia ketiga seperti saya) milik Carrie Bradshaw.

“I can build you a better closet,” he says, as if that were a binding condition of their sexual harmony: if he builds it, she will come. The creepiest aspect of this sequence was the sound that rose from the audience as he displayed the finished closet: gasps, fluttering moans, and, beside me, two women applauding.

Applaus kecil dari audiens itu membuat Lane ngeri. Sedangkan Bre, seorang penulis dari negara dunia ketiga dimana orang masih antri bahan bakar pokok dan uang kontan buat tambahan makan atau bayar utang, menulis dengan sikap : sudahlah, tak usah dimasalahkan. Malahan dalam tulisannya itu ia menginsinuasi : cobalah mengerti hasrat perempuan kaya untuk beli sepatu 500 dolaran. Mereka punya masalah juga, sama seperti para pengantri BBM itu.

Saya sama sekali tak ingin menjadi sok politically correct sendirian. Tapi saya teringat sesuatu bahwa tulisan Bre ini berpotensi dibaca oleh 500.000 orang pembaca Kompas. Namun ketika Anthony Lane mengaku mendadak menjadi seorang Marxis hardliner sesudah menonton film ini (Lane bercanda, kita bisa bedakan kok), kenapa kita tak boleh? Bukankah kritkus film justru menjadi mumpuni ketika ia bisa menikmati sebuah karya tanpa kehilangan perspektif? (Ingat menu yang dipesan Anton Ego di restoran Gusteau dalam Ratatouille (2007) ?)

Maka kritik film, sebagai cabang atau ranting jurnalisme seperti disebut dalam kutipan dari surat penyair HW Auden di atas, adalah sebuah penyajian perspektif atas karya. Tak bolehkah kritikus larut dalam hiburan yang ia anggap bicara langsung pada dirinya ? Boleh, tentu saja. Salah satu kritikus paling pedas dalam sejarah kritik film Amerika, Pauline Kael, bahkan menjuduli kumpulan tulisannya I Lost in Movies yang menandakan betapa film bisa membawa semacam ekstase baginya.

Maka bisa jadi saya beruntung tak kenal nama Manolo Blahnik (saya bisa saja meng-google nya dan jadi ahli tentang orang ini dalam dua jam). Atau setidaknya istri saya (belum estewe) tak berkeinginan punya sepatu Manolo Blahnik sehingga saya punya jarak dengan agenda empat perempuan estewe itu. Mungkin lebih sulit bagi saya untuk menarik jarak kalau cerita dalam film yang saya tonton adalah tentang seorang pekerja yang pulang dari kantornya di tengah hujan dan menunggu bus transjakarta di halte harmoni pada jam puncak pulang kantor. Atau mungkin lebih sulit kalau film itu tentang seorang atasan yang menggoda rekan sekantornya yang mengaguminya. Tiap orang mungkin punya setannya sendiri, dan setan untuk Bre Redana ada di sepasang sepatu mahal perempuan berumur di atas 40-an.

Tapi toh keberadaan setan macam apapun tak berarti kita harus menuruti selalu godaannya bahkan memamerkannya sambil mesam mesem kepada 500 ribuan pembaca, bukan ? Bukankah seorang kritikus tak selalu harus mempromosikan rokok Marlboro yang ia gemari lantaran tokoh utama dalam film yang diresensinya juga menghisap Marlboro, kan ?

Dari situ saya ingat tulisan Hikmat tentang kritik film di RumahFilm. Tulisan Hikmat ini terasa jadi relevan karena soalnya bukan sekadar ingin berkata bahwa penulis kritik di Indonesia buruk dan kritikus Amerika itu bagus. Saya pikir, secara keseluruhan soalnya adalah absennya kematangan berpikir sehingga pengetahuan dan perspektif yang dimiliki pun ditanggalkan untuk memaklumi pencarian makna pada sepasang sepatu mahal bermerk Manolo Blahnik.***

Advertisements

1 Comment

  1. Kesan membaca resensi Bre Redana: terasa sekali itu tulisan yang malas. Meskipun mungkin dia punya perspektif, sama sekali tidak diajukannya.

    Atau kalau mau main generalisir, jangan-jangan pemaklumannya itu sejalan dengan semangat kebanyakan orang Indo saat ini yang lebih condong mengejar impian pribadi, sehingga muncul argumen besarnya: “wong itu duit-duit dia, kok. Ya terserah aja…”

    Tapi salut, seorang New Yorker seperti Anthony Lane, yang berasal dari negeri yang banyak dikutuk cara hidupnya oleh sebagian kita, justru punya keprihatinan dan perspektif sosial yang lebih luas lagi peka.

    Atau jangan-jangan kita sekarang cuma lagi ada di fase 50-annya Amerika? Optimisme yang digelembungkan, cuma beda motif: yang di sana karena ekonomi membaik, di sini buat eskapisme. 😛

    NB: Komentar ini self-explanatory, bahwa saya pun sering dituduh kelewat serius. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s