Diperkosa Setan

Akhirnya muncul juga judul film seperti judul tulisan di atas ini. Judul ini mengandung sekaligus empat unsur daya tarik dasar sebuah film: kekerasan, seks (pada kata “perkosa”), horor (“setan”) serta kisah fantastik (setan melakukan perbuatan “manusiawi” yaitu memperkosa). Kisah fantastik – bedakan dengan fantasi – seperti kata kritikus sastra Tzvetzan Todorov (1970), adalah ketika figur supernatural mengambil peran penting dalam mayapada kekisahan yang nyata.

Perpaduan unsur-unsur macam ini bisa jadi sudah ditemukan dalam banyak film lain di Indonesia, tetapi memasukkan semuanya sebagai judul tanpa tedeng aling-aling bisa jadi merupakan sebuah fenomena baru. Di pertengahan dekade 1990-an, film Indonesia juga pernah punya judul-judul yang langsung pada pokok soal (ketika itu, pokok soalnya adalah seks) seperti Gairah Malam, Limbah Asmara atau Ranjang yang Ternoda. Beda judul-judul lawas itu dengan judul kontemporer macam Tali Pocong Perawan, Suster Keramas, Hantu Binal Jembatan Semanggi atau Hantu Puncak Datang Bulan (yang akhirnya dilarang beredar itu) atau Diperkosa Setan itu tadi, ada dua.

Pertama, judul film-film lawas itu kalah dalam soal kelengkapan unsur. Mereka tak punya unsur horor dan fantasi sekaligus, padahal film Gairah Malam misalnya, tergolong film dengan kisah fantastik, tepatnya film laga. Kedua, film-film dekade 1990-an masih punya lingua poetica; masih ada
usaha membuat judul-judul itu lebih artistik. Perhatikan penggunaan kata “asmara” yang merupakan diksi puitik, atau penggunaan kata sifat “ternoda” ketimbang kata benda “noda” untuk menimbulkan kesan dramatis: noda itu ada di sana akibat sebuah proses panjang yang terjadi sebelumnya. Bandingkanlah dengan pilihan kata dan frasa yang maknanya lebih denotatif pada film belakangan ini seperti “perawan” atau “datang bulan” dan puncaknya: “diperkosa”.

Saya bisa membayangkan betapa beratnya usaha membuat orang keluar rumah agar mau membeli tiket bioskop dan menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana. Maka diambillah jalan pintas dengan membuat judul yang sebisa mungkin membuang “basa-basi” semacam lingua poetica atau aspek artistik lainnya. Bisa jadi judul-judul ini menarik perhatian, tapi belum tentu mengundang penonton. Yang lebih tertarik pada judul-judul itu malahan para agamawan (tepatnya ulama) . MUI Samarinda misalnya menyatakan kata “keramas” pada judul Suster Keramas mendatangkan konotasi bahwa sang suster itu baru saja “mandi junub”(keramas dalam bahasa sehari-hari) . Saya membayangkan seandainya film Hantu Puncak diganti judulnya tanpa kata “datang bulan”, maka pesan pendek berbau ancaman kepada pengelola bioskop yang akan memutarnya tak akan bermunculan.

Judul memang menentukan. Tapi bukan hanya dalam soal laku tidaknya film, tapi juga sebagai pintu masuk bagi tanggapan terhadap film. Sekalipun film adalah representasi, yaitu rangkaian pilihan bebas para pembuat film dalam menyusun ulang kenyataan, tetap saja film diserap sebagai refleksi, yaitu cermin dari kenyataan. Berdasar refleksi ini kita ingat Aa Gym dulu marah, lantaran film Buruan Cium Gue ia rasa tak menggambarkan perilaku sesungguhnya remaja Indonesia sesungguhnya. Ya memang tidak, karena gambaran remaja di film itu karangan para pembuat film saja.

Inilah sebenarnya jebakan sensasi bahasa yang sedang dihasilkan oleh sebagian pembuat film-film lewat judul-judul itu. Kita jadi mencurahkan perhatian buat judul-judul belaka padahal isinya tak ada apa-apanya dibandingkan DVD porno bajakan yang ditawarkan di bawah jembatan Glodok, Jakarta, sambil menarik-narik tangan calon pembeli. Artinya, kita sedang membicarakan pepesan kosong, dimana pelanggaran hukum di depan mata dibiarkan, sementara kesalahpahaman lantaran judul, bikin kita jadi ancam mengancam. Sekalipun saya mengerti orang lapar digoda terus menerus dengan bau pepesan kosong bisa marah, tapi saya tetap merasa bentuk kemarahan dengan ancam mengancam sedang memajalkan kemampuan kita beredemokrasi.

Ada dampak sensasionalisme ini terhadap kehidupan kita bersama. Dengan ketidakdewasaan bersama yang dimiliki oleh sang penghasil judul maupun yang menerimanya, kita berhadapan dengan kesalahpahaman yang saling dipelihara dan pembangunan wacana yang berjalan makin lama makin berjauhan.

Tapi saya masih bersyukur yang marah masih manusia. Bayangkan seandainya para setan marah lantaran merasa bahwa film dengan judul Diperkosa Setan itu mereka anggap tak mencerminkan kenyataan hidup mereka sesungguhnya. Entah protes macam apa yang akan mereka lakukan kepada sang produser atau LSF yang sudah meloloskan film itu ke bioskop.

Versi tereditnya bisa dilihat di sini:

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/29/BHS/mbm.20100329.BHS133101.id.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s