Trend (Tak Terlalu) Baru: Menggemblok Monyet

1

Pernah punya teman yang senang menggemblok monyet di punggungnya ketika jalan-jalan ke keramaian? Teman eksentrik — jika tak dianggap gila — macam itu tentu tak banyak, tapi pasti ada.

Juno McGuff (Ellen Page) adalah salah seorang penggemblok monyet semacam itu. Wajahnya imut dengan hidung bulat dan mata berbinar-binar. Umurnya 16 tahun, tapi mulutnya tajam dan ia memelihara sikap bahwa ia sudah tahu isi dunia. Termasuk ketika ia bereksperimen soal seks dengan teman satu sekolahnya, Paulie Bleeker (Michael Sera).

Juno hamil. Ia tak berani aborsi. ‘Bayi dalam kandunganmu sudah punya kuku’, kata teman sekelasnya yang berdemo anti aborsi di depan Woman Now! Maka ketika di ruang tunggu klinik Juno melihat orang-orang mengetukkan kuku di meja dan menggaruk leher mereka dengan kuku, ia pun mengurungkan niatnya. Bagaimana kalau bayi di kandungannya itu benar-benar sudah punya kuku? Beralihlah Juno ke pilihan berikut: mencari orang tua yang akan mengadopsi bayinya itu.

Lewat iklan di tabloid gratisan, Juno berhasil menemukan pasangan Vanessa dan Mark Loring yang ngebet punya anak. Pasangan ini ideal buat Juno. Mereka tinggal di kawasan suburban yang asri dengan rumah yang cocok jadi katalog furnitur. Karir Vanessa tampak baik sekali dengan senyum mengembang seperti dewi kahyangan. Sementara Mark yang memelihara impian jadi musisi rock, harus puas jadi pembuat jingle iklan. Lumayan, satu jingle bisa untuk bikin dapur, kata Mark. Pasangan ini cool, pikir Juno.

Juno pun merasa nyaman dengan pasangan kaya itu. Ia ingin adopsi ‘cara lama’, mirip dengan burung bangau yang meninggalkan bayi di dalam keranjang di depan pintu rumah. Tapi kedatangan Juno seperti mengingatkan Mark Loring terhadap cita-citanya yang ia masukkan kardus ketika menikah dengan Vanessa. Pernikahan pasangan itu jadi gonjang-ganjing.

Namun itu adalah sub plot. Karena Juno tetap punya masalahnya sendiri. Masalah itu bukan menggemblok monyet di punggung melainkan menggendong-gendong janin di dalam perut dan tetap melanjutkan sekolah. Aborsi bisa jadi lebih cocok buat generasi nenek Juno. Buat generasi i-pod dan penonton youtube seperti Juno, mungkin lebih asik dan meneruskan kehamilan sambil tetap pedekate ke Pauliee Bleeker.

Kehamilan yang tak diharapkan macam yang terjadi pada Juno bukan hal istimewa. Setiap remaja di belahan dunia manapun punya soal semacam ini, tetapi membicarakannya seperti penulis skenario Diablo Cody membicarakan soal ini di Juno memang sesuatu yang istimewa. Alih-alih mengolok-olok atau pun menghakimi Juno, Cody dengan santai membiarkan Juno apa adanya. Juno juga tidak jadi superhero yang mengatasi tekanan sekelilingnya ataupun menjadi simbol bagi kritik sosial semisal Ruth di Citizen Ruth (Alexander Payne, 1999). Juno tetap seorang remaja berselera musik unik dan pencemburu tapi gengsi untuk menyatakan suka lebih dulu.

Maka Juno, seperti kata teman saya Hikmat Darmawan, jadi sebuah film remaja dengan sikap yang dewasa. Film ini menyelesaikan masalah baik-baik dengan proporsi yang juga baik.Resensi Hikmat Darmawan itu sudah cukup untuk menjelaskan kenapa film ini memang sebaik itu.

2

Juno yang diedarkan oleh Fox Searchlight, anak perusahaan 20 th Century Fox yang bertugas mengakuisisi film-film yang diproduksi oleh studio-studio kecil. Film-film semacam Juno banyak lahir di festival-festival di Amerika yang memberi kesempatan kepada perusahaan kecil atau pembuat film baru untuk mencoba peruntungan mereka. Beberapa di antara festival itu, seperti Independent Spirit Award atau Tribeca Film Festival dan yang paling terkenal, Sundance, melahirkan generasi baru pembuat film Amerika yang banyak di antaranya pindah ke studio besar dan pelan-pelan menjadi raksasa sendiri. Sebut saja misalnya Steven Soderbergh dan Quentin Tarantino serta Kevin Smith yang kini sudah menjadi nama-nama dengan karya yang dianggap patut diperhitungkan.

Beberapa festival itu kemudian dianggap menjadi terlalu komersial dan kehilangan semangat kebebasannya. Evolusi membesarnya festival sebagai sebuah pasar film yang lain – ketimbang semangat untuk berkarya bebas – dicatat dengan baik oleh Peter Biskind dalam bukunya Low and Dirty Pictures yang menggunakan figur pendiri perusahaan Miramax, Harvey dan Bob Weinsten. Miramax sukses membuat ‘film independen’ menjadi sebuah komoditi yang punya pendekatan promosional serupa dengan film-film studio besar. Praktek yang digunakan oleh Weinsten bersaudara itu akhirnya menyulut perang antar studio untuk berlomba-lomba menanam modal dalam perusahaan scouting macam Fox Searchlight (milik Fox) atau Paramount Vantage (milik Paramount) atau Sony Classic Pictures (milik Sony).

Miramax kemudian dibeli oleh Disney, salah satu dari studio besar. Harvey dan Bob tersingkir dan mendirikan Weinsten Company. Namun dari tangan merekalah potensi film independen Amerika terpapar paparan dan sambutan yang luas. Pasar juga terbuka luas dan tema dieksplorasi – hingga jenuh. Sampai akhirnya film-film independen juga diragukan lagi ke”independen”nya lantaran banyak hal, semisal memakai Al Pacino atau Julia Roberts sebagai bintang. Kejenuhan itu hingga membuat beberapa kritikus skeptis.

Sekalipun demikian, beberapa film mencatat sukses yang cukup baik dalam dua tahun terakhir, baik secara komersial maupun dalam pandangan kritikus. Tahun lalu, Little Miss Sunshine mendapat sambutan meriah di berbagai festival, selain pasar domestik. Tahun ini,Juno berhasil memelihara semacam semangat bahwa film independen Amerika belum jenuh, belum mati dan masih punya sesuatu yang bisa ditawarkan kepada penonton.

3

Tawaran film independen Amerika pada dasarnya adalah tawaran serupa dengan film Hollywood pada umumnya. Pada elemen naratifnya (yang biasa kita sebuh sebagai cerita) film-film Hollywood punya beberapa ciri yang jelas.

Pertama, karakter yang bermotivasi. Karakter ada dalam film untuk alasan tertentu, dan kerap motivasi tokoh utama itulah yang menggerakkan seluruh cerita.

Kedua, kausalitas. Dengan adanya motivasi sebagai penggerak, maka sebab akibat harus ada dalam film. Satu peristiwa menyebabkan yang lain, satu adegan menyebabkan adegan berikut.

Ketiga, tutupan (closure). Film harus diakhir, tak boleh dibiarkan terbuka atau mengalir seperti sungai tak berujung.

Ciri yang kini seakan menjadi satu-satunya standar penilaian terhadap elemen naratif film, juga dimiliki oleh film-film independen Amerika.Elemen naratif mereka didirikan di atas fondasi yang serupa dengan film-film studio besar. Motivasi karakter, kausalitas, dan tutupan selalu ada dalam film-film itu.

Namun film-film independen tidak tinggal diam dalam elemen kekisahan demikian. Di atas fondasi itu, film-film independen Amerika mendirikan struktur dan bangunan kekisahan yang berbeda untuk menghasilkan representasi Amerika yang berbeda dengan representasi yang dilakukan oleh film-film studio besar. Film-film independen Amerika menghasilkan gambaran mengenai Amerika yang jauh dari gambaran sempurna, ketiadaan American Dreams, keruntuhan nilai dan makna keluarga, dan nyaris segala jenis antitesis dari apa yang digambarkan oleh studio-studio besar.

Berikut adalah beberapa ciri tambahan yang didirikan oleh film-film independen Amerika di atas fondasi elemen kekisahan neo-klasik Hollywood yang dianggap sudah baku itu.

Pertama, lingkungan sosial yang dipandang sinis. Nilai-nilai Amerika dan segala tatanan sosial yang menopangnya adalah sebuah hipokrisi besar dan palsu. Tokoh-tokoh yang dianggap role model dalam representasi kehidupan sehari-hari dan media sebenarnya adalah orang-orang yang memanipulasi masyarakat demi kepentingan sendiri. Masyarakat dipotret secara karikatural dimana peran-peran para demagog palsu ditonjolkan dan critical mass sama sekali tak ada. Film semacam Citizen Ruth (Alexander Payne), Notorious Betty Page (Marry Harron) misalnya, merupakan film-film dengan model seperti ini.

Kedua, karakterisasi yang jauh dari karakter-karakter baku (stock character).Juno termasuk karakter yang jauh dari karakter baku. Film remaja umumnya menampilkan karakter remaja yang dimabuk asmara, kekanakan, tak bertanggungjawab dan segala stereotip lainnya. Junomemelencengkan itu dengan karakter Juno McGuff yang ngoceh seperti senapan mesin komentar ini itu yang membuat kuping orang dewasa panas. Ia juga tak risih “menggemblok monyet” di punggungnya. Contoh film-film independen lain yang punya karakter dan karakterisasi yang jauh dari karakter baku misalnya, Henry Fools (Hal Hartley) atau rombongan keluarga gila di Little Miss Sunshine (Jonathan Dayton dan Valerie Faris) atauAbout Schmidt (Alexander Payne) dan Napoleon Dynamite (Jared Hess).

Dari karakter yang berada di luar stock ini, imaji mengenai karakter ideal Amerika seperti yang dibawa oleh peran-peran yang biasanya dimainkan oleh Charlton Heston, Kevin Costner hingga Tom Cruise, dibuat seperti sebuah iklan mobil mewah mengkilap yang tidak realistis. Keseharian Amerika bukanlah alpha-male, kulit putih tampan penuh kepercayaan diri dengan tubuh tegap yang menyelamatkan dunia dari ancaman terorisme atau ancaman terorisme, melainkan, orang-orang dengan predikat kelainan sosial atau punya masalah

Ketiga, lokus konflik yang kecil semisal keluarga dan pertemanan. Drama dalam film independen kerap dibangun dari konflik yang bersifat sehari-hari. Pertengkaran orangtua dengan anak atau konflik antar teman menjadi inti bangunan masalah. Lewat konflik dalam lokus yang kecil ini, film-film independen lebih bisa mengungkapkan persoalan-persoalan dasar yang ada pada karakter manusia. Lihat misalnya film seperti Raising Victor Vargas(Peter Solllet), Junebug (Phill Morrison), The Squid and the Whale (Noah Baumbach) yang isinya drama keluarga dan Sideways (Alexander Payne) atau sex, lies and videotapes (Steven Soderbergh) atau 25 th Hour (Spike Lee) untuk konflik-konflik pertemanan.

Lewat lokus yang kecil ini, Amerika digambarkan penuh persoalan domestik dan peran-peran global mereka selalu jadi lelucon. Lewat ketidakmampuan orang-orang dalam film ini menyelesaikan persoalan-persoalan kecil mereka di ruman dan dengan teman-teman terdekat, gambaran mengenai menyelamatkan dunia dari ancaman terorisme jadi sebuah klise yang menggelikan.

Keempat, kelokan plot dan kecohan (twist) yang tajam untuk menyajikan humor-humor gelap.Pulp Fiction dari Quentin Tarantino adalah contoh ikonik untuk soal ini, tapi film yang lebih kecil seperti Go (Doug Lyman), Usual Suspect (Bryan Singer), Se7en (David Fincher) dan sebagainya. Film-film ber-genre kriminal atau mengisahkan kehidupan petite criminals atau tokoh-tokoh neo-noir, biasanya digunakan juga ditujukan mengusik kemapanan dan kepercayaan terhadap sistem penegakan hukum. Amerika yang selalu membanggakan diri dengan prosedur dan sistem yang sudah pasti berjalan (dan akan menghasilkan warga negara yang baik) selalu tampak bopeng.

4

Tema-tema yang mengenai Amerika yang (diam-diam) uber alles, baik dalam sistem, manusia dan sikap toleransi, dikacaukan oleh film-film independen dan kecil ini. Mereka mengacak-acak idealisasi dan idolisasi yang dengan penuh semangat digelorakan dalam film-film mereka. Gambaran-gambaran minor tentang manusia yang nyentrik di tengah kenyataan yang getir ditampilkan untuk menyatakan bahwa Amerika bukanlah mimpi indah yang terwujud nyata.

Penjelasan ini bisa jadi semacam tipikalisasi dari film independen yang ragamnya lebih daripada sekadar kategorisasi di sini. Kategorisasi inipun sebenarnya mengandung masalah sendiri dengan adanya penyederhanaan dan idealisasi di sana sini. Bagaimanapun film independen Amerika juga dipenuhi oleh karya-karya epigon dari film studio besar mereka.

Namun anak seperti Juno yang melanjutkan trend ini seperti sedang menghidupkan lagi gambaran Amerika yang lebih mau rendah hati dan melihat diri sendiri dengan tidak jumawa. Itu diwakili oleh sepasang anak muda bernyanyi di tangga teras rumah dengan gitar bolong tentang diri mereka sendiri.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s