Inggris Tahun 1983 Dan Seterusnya

Shaun bangun dari duduknya dan menghantam Combo. Ia tak suka orang membicarakan mengenai Perang Falkland. Combo, seorang dewasa berbadan kekar yang baru saja keluar dari penjara tak menduga anak 12 tahun itu bakal menghantamnya. Ia kaget, tapi cepat menguasai diri.

“Aku tak suka orang membicarakan Perang Falkland!” teriak Shaun. Ayahnya pergi ke sana sebagai tentara dan tak pernah kembali. Maka ketika Combo berpidato bahwa ayahnya mati sia-sia, Shaun merasa Combo sedang melecehkan ayahnya. Padahal tak ada serangan pribadi terhadap Shaun pada pidato Combo. Ia baru saja keluar dari penjara dan sedang membentuk pasukannya. Shaun yang biasa nongkrong dengan anak-anak tanggung yang dipimpin Woody menjadi sasaran pidato Combo.

Inilah Inggris, kata Combo setengah berteriak. Ia sedang membakar semangat anak-anak muda itu bukan sekadar membela tanah airnya, melainkan juga membersihkannya dari orang-orang kulit berwarna. Termasuk Milk yang berkulit coklat, seorang keturunan Jamaika. Combo berteriak bahwa 3,5 juta orang kulit putih Inggris menjadi penganggur sementara pekerjaan yang layak dipegang oleh para “Pakis”, sebutan merendahkan untuk imigran Pakistan. Lantas Perdana Menteri Inggris saat itu, Margaret Tatcher, alih-alih mencarikan pemecahan malah mengirim orang Inggris ke atlantik untuk berebut kepulauan Falkland (atau Malvinas?) dengan orang-orang Argentina. Sampailah Combo pada pidato yang menyebabkan ia mendapat pukulan dari Shaun. Tapi pukulan itu menandakan Shaun seorang yang istimewa bagi gerakan yang sedang dibangun Combo.

Di akhir pidato, Combo meludah, dan membuat garis dari ludahnya itu. Lewati garis ini dan jangan kembali, pinta Combo kepada gerombolan yang mengingatkan kita pada Alex DeLarge dan kawan-kawan di A Clockwork Orange (Stanley Kubrick). Woody sang pemimpin gerombolan dan beberapa lagi (tentu di antaranya adalah Milk) meninggalkan ruangan itu. Namun Shaun, sebagaimana diperkirakan, tidak keluar. Ia terbakar oleh pidato Combo tadi. Ia memang memukul Combo, tapi itu menjadi semacam jalan pencerahan baginya.

Pukulan Shaun menandai bahwa ia memang seorang anak yang istimewa. Shaun cepat besar, lebih dari usianya. Komentar salah seorang cewek anggota geng, Smell, “ciumanmu seperti ciuman lelaki umur 40”. Shaun marah akan nasib ayahnya, mungkin ia dendam pula menjadi objek bully. Ia pun bergabung dengan pasukan skinhead Combo. Tapi memang bukan hanya Shaun yang punya masalah. Inggris memang punya masalah, kata sutradara film ini, Shane Meadows.

Inggris yang digambarkan dalam film This is England ini adalah Inggris tahun 1983. Perang Falkland memang sedang terjadi dan Inggris sedang dilanda oleh krisis. Krisis ini mendorong ultranasionalisme dan pembentukan kelompok-kelompok skinhead. Mereka melakukanbashing kepada para penduduk kulit berwarna, terutama para keturunan Pakistan. Bahkan film ini menggambarkan adanya sebuah kekuatan politik formal yang diam-diam memayungi kelompok-kelompok skinhead itu.

Tapi, oi!, para skinhead juga manusia. Lingkungan dalam film ini memang penting. Namun, sebagaimana Ratcatcher (Lynn Ramsay), ini memang bukan film politik atau film tentang ideologi. Ini adalah kisah kecil tentang orang-orang yang sedang berjuang dengan dirinya, bahkan ketika orang itu masih berumur 12 tahun.

Shane Meadows menghadirkan perjuangan ini dengan cara yang faktual. Karena disajikan cenderung sebagai fakta kering, aksi para tokoh dalam film ini tak mengarah pada dramatisasi. Ketegangan justru terbangun pada perubahan suasana. Dengan demikian, perilaku karakter terbebaskan dari penghakiman. Tinggallah penonton menjawab semacam pertanyaan-pertanyaan moral dalam film ini.

This is England adalah sebuah contoh finesse filmmaking. Shane Meadows tahu benar caranya mempekerjakan elemen-elemen filmnya untuk mendapatkan bahasa yang halus. Ia tak sekadar membangun drama, tapi juga mengantarkan rasa dalam film ini. Dengan sinematografi, editing, dan pemilihan warna, film berubah suasana nyaris tanpa terasa. Suasana riang di awal film pelan-pelan menjadi semakin tegang. Udara seakan menjadi mampat di sana. Bayangkan bahwa kehadiran Combo saja sudah berhasil membuat napas jadi sesak dan kita terus menanti apa yang akan meledak. Tentu hasil ini juga lahir dari akting yang sangat natural yang mengingatkan pada gaya akting para pemain film Iran yang kebanyakan bukan aktor profesional.

Akhirnya memang ada sesuatu yang meledak pada This is England! Arah datangnya lumayan bisa diduga. Sama halnya dengan masa depan pokok soal yang dibahas di film ini, yakni rasisme, ultranasionalisme, dan segala tetek bengek yang menghasilkannya. Lewat film ini, Shane Meadows mengunjungi tahun 1983 dan mengantar period drama kontemporer yang sedang banyak dibuat di Eropa. Seakan mereka sedang mengajukan hipotesa tentang masa kini dan masa depan dari sana.

Jika tokoh Shaun benar-benar ada, di tahun 2007 ia berumur 36 tahun, umur yang pantas untuk membentuk pasukannya sendiri. Mungkin Shaun dan orang semacamnya, sebagaimana ia merasa dihina oleh pidato Combo, bisa jadi juga terkejut sekali dengan runtuhnya tembok Berlin. “Shaun” pada 2007 mungkin bangun pula dari duduk atau siuman panjangnya dan berdiri setelah keterkejutan itu, dan siap melayangkan pukulan. Dan Shane Meadows melalui film ini sedang bertanya kepada Inggris atau mungkin kepada Eropa: siapakah yang akan dipukul oleh orang seperti Shaun saat ini?

This is England

Sutradara dan penulis skenario: Shane Meadows.
Pemain: Thomas Turgoose (Shaun), Stephen Graham (Combo), Joseph Gilgun (Woody), Andrew Shim (Milky), Vicky McClure (Lol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s