Yang Tersembunyi di Antara Dua Dunia

Adakah hal yang Anda sembunyikan dalam hidup? Jika ada, bersiaplah untuk sebuah kejutan. Georges Laurent (Daniel Auetil) menerima kejutan itu berupa kaset video yang dikirim ke rumahnya. Ia memasang kaset itu dan melihat pintu rumahnya di dalam rekaman. Seseorang mengamati rumahnya dan merekam dengan video kemudian mengirimkan kepadanya. Pesannnya jelas: seseorang mengamatimu, Georges.

Mulanya kecemasan Georges tak besar. Namun kiriman makin intens. Yaitu ketika barang yang dikirim berubah menjadi kertas dengan gambar sketsa kepala ayam terpotong dan darah muncrat. Hanya Georges seorang yang bisa menduga apa makna gambar ini. Sebenarnya ada seorang lagi, dan tentu kecurigaan Georges hanya mengarah ke sana. Orang itu adalah Majid (Maurice Benichou), seorang keturunan Aljazair yang pernah menumpang di rumah orangtua Georges di desa ketika mereka kecil. Mereka adalah teman bermain, sampai kemudian mereka berpisah dengan menyakitkan.

Georges akhirnya berhasil mengetuk pintu apartemen Majid. Sebuah perjumpaan yang mengejutkan, karena Georges bertanya ‘siapa kamu?’ pada orang yang membukakan pintu. “Kau sungguh tak mengenaliku?” orang itu balik bertanya kepada Georges. Tahulah Georges bahwa ia sedang melihat Majid dan tak mengenalinya.

Georges kemudian mengancam Majid untuk tak lagi mengiriminya video dan gambar-gambar. Tapi Majid mengaku tak tahu menahu sama sekali. Dari air mukanya, Majid tampaknya tak berdusta. Namun Georges tak peduli. Majid murung sekali setelah Georges pergi. Ada sesuatu dalam kemurungan itu yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar orang yang tertangkap basah mengirimkan video diam-diam.

Tapi kiriman-kiriman itu tak terhenti. Bahkan Georges menerima kiriman video berisi gambar ia sedang mengancam Majid di apartemen Majid. Georges murka. Ia datang lagi ke apartemen itu tapi tak menemukan Majid. Ada anak Majid di sana. Georges kembali mengudar ancamannya. Namun sang anak mengingatkan sesuatu dari masa lalu yang membuat Georges tercekat dalam hati.

Sesuatu itu berkaitan dengan sketsa ayam dan darah muncrat. Dalam kilas balik yang mirip dengan imaji dari film Le Souffle (Damien Odoul, 2001) tentang rumah pedesaan + masa kecil + darah, terjelaskan mengapa kiriman-kiriman misterius itu terjadi. Ada yang sedang mengungkap rahasia Georges yang sudah tersembunyi rapi sekian lama. Tapi siapa yang mengirimkannya? Tidak jelas. Apakah Majid atau anaknya? Bisa ya, bisa bukan. Kedua orang itu dak mengaku dan Cache tak memberi kesimpulan apapun soal ini.

Cache karya Michael Haneke adalah cerita tentang sebuah perbuatan yang dirahasiakan dan kemudian muncul ke permukaan. Tak ada yang tersembunyi karena cepat atau lambat, seseorang akan merekam kegiatanmu sehari-hari dan mengirimkan sebuah kenang-kenangan dari masa lalumu, bahkan masa kecilmu. Bagaimana itu bisa terjadi? Inilah sebuah spekulasi kekisahan sinematis yang disajikan oleh Michael Haneke.

Sebab akibat adegan dalam film ini tetap terjaga. Demikian pula motivasi karakter yang menjadi dasar bagi segala tindakan mereka. Namun siapa sesungguhnya yang mengirimkan kaset video dan kenang-kenangan masa kecil Georges? Haneke sengaja membiarkan wilayah ini terbuka bagi interpretasi, sekalipun tanda-tanda yang diberikannya hanya bisa berarti satu. Masihkah interpretasi punya ruang ketika kemungkinan penafsiran hanya tunggal? Namun Haneke tetap tak menyimpulkan dan membiarkan simpulan film berada di benak penonton.

Kekisahan dengan ending terbuka seperti Cache ini sama sekali tak baru bagi Haneke. Ia melakukannya juga di Piano Teacher, film yang diadaptasi dari novel peraih Nobel, Elfride Jelinek. Namun baru pada Cache inilah Haneke mengajukan sebuah spekulasi tentang subyek penyebab cerita yang tak ada dalam dunia yang dibentuk dari kekisahan film (dunia diegetik).

Haneke seperti beruji coba. Bisakah peristiwa sinematis bisa berjalan dengan subyek yang tak lengkap. Mampukah konvensi tentang realitas terbentuk tanpa seorang prima causa yang berada dalam dunia diegetik film? Atau kalau pun ada, keberadaannya harus ‘tertunda’ selamanya dalam dunia interpretasi penonton yang berada di kehidupan nyata. Ataukah sesungguhnya ini kelengkapan itu “dipaksa ada” oleh penonton karena realitas yang dipahami penonton menuntut adanya prima causa atas segala sesuatu? Lantas ketika penonton mengambil posisi penentu prima causa seperti itu, bagaimana nasib para karakter yang ada di sana? Dan menjadi tuhankah penonton ?

Inilah sebuah film yang lebih banyak menghasilkan pertanyaan terhadap realitas ketimbang menyajikan gambaran mengenai realitas. Dalam kadar yang lebih rendah, sutradara Perancis Francois Ozon beberapa kali mengajukan ketidakjelasan dunia diegetik film yang menuntut penonton untuk lebih aktif membentuk rangkaian sebab akibat yang putus. Yang terkuat ada pada Under The Sand, saat Marie Drillon (Charlotte Rampling) tampak tak merasa kehilangan sama sekali ketika suaminya tak pernah kembali lagi. Apakah suaminya hilang atau tidak? Inilah dunia diegetik yang tak lengkap dan proses menonton tak akan utuh ketika penonton tak aktif membentuk dunia diegetik film.

Maka Cache adalah sebuah kemungkinan unik ketika pembuat film bermain-main antara dunia diegetik dan dunia non-diegetik. Yang menarik dari penyajian Haneke ini adalah menghilangnya kebutuhan para tokoh untuk mencari penjelasan lagi dari dunia diegetik mengenai apa yang terjadi. Perlukah lagi penonton mencari penjelasan? Judul film ini – Cache artinya tersembunyi – menyatakan tidak. “Siapa” dalam film ini tetap tersembunyi. Mungkin penonton punya kebutuhan untuk tahu riwayat seseorang yang tak mereka kenal di dunia diegetik untuk mereka nikmati kisahnya di dunia nyata. Namun kekisahan yang dibangun dengan sangat baik di film ini mengambil alih rasa penasaran tentang siapa sebenarnya yang membuat cerita bergulir.

Maka tak terjawabnya rasa penasaran ini membuat Cache menjadi sebuah karya istimewa. Bukan saja Haneke berhasil menyarankan bahwa dunia diegetik tak mungkin bisa lepas dari dunia nyata, tapi juga kegandrungan pada kisah sesungguhnya telah membuat penonton akhirnya melengkapi kisah bagi dirinya sendiri. Senang bukan, bermain tuhan-tuhanan dengan film, wahai penonton? ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s